
Dua orang manusia yang telah saling halal sebab ikatan pernikahan, sedang bergelung di balik sebuah selimut. Merasa sangat dingin sebab subuh itu sedang turun hujan. Mesin pendingin tidak lagi menyala atas keinginan sang istri.
"Eril, sudah adzan dari tadi. Ayo kita bangun," Benn berkata di atas ubun-ubun istrinya.
Eril bergerak menggeliat, menarik tangan dari dalam celana boxer suaminya.
"Pukul berapa, Benn,?" Eril belum membuka mata.
"Pukul lima. Ayo kita mandi," ucap Benn yang sudah duluan bangun. Membuka lebar selimut yang menampakkan tubuh polos sang istri.
"Benn,,!" pekik Eril saat tubuhnya melayang karena telah diangkat menuju kamar mandi oleh Benn.
Semenjak Eril tahu semua, sikap Benn kian mesra dan manja pada istri seksinya. Tidak ada lagi yang ditutupi atau pun di sembunyikan dari Eril.
Bahkan sang istri juga bebas menyentuh dan bermain apa pun kepunyaan Benn dan kapan pun. Sepertinya sudah tidak ada saling segan lagi di antara mereka berdua.
🌶🌶
Tin..! Tin...!!Tin...!!
Benn membunyikan klakson sebanyak tiga kali seperti biasanya.
"Beeenn,,!! Sakit telingaku, Benn,,,!!" sang mama berteriak pada anak lelakinya. Kemudian mengulur tangan untuk mengambil Evan dari gendongan ibunya.
"Sabar ya, Eril. Suami kamu memang rada-rada,," ucap mama Donha sambil geleng-geleng kepala. Gemas dengan aksi anak lelaki yang belum juga berubah.
"Iya, ma. Aku paham dengan sifat anak lelaki mama," sahut Eril tersenyum sambil mengangguk. Evan telah berpindah tempat gendongan.
"Terimakasih, Ril.." Mama Donha mengelus pipi Eril beberapa kali. Nampak sayang dengan menantunya yang baik dan penyabar. Dan merasa penasaran dengan kehidupan malam rumah tangga mereka. Mengingat Evan sering diajaknya tidur saat malam. Membiarkan Benn hanya tidur berdua dengan istrinya. Tapi hal itu tentu saja terpaksa ditahan untuk tidak ditanyakan.
"Sama-sama, ma. Aku juga terimakasih sama mama. Titip Evan dulu ya, ma,," pamit Eril cepat-cepat sambil menciumi pipi Evan. Benn telah menurunkan kaca mobil. Tapi tidak membunyikan klakson lagi. Dan Eril merasa risau sendiri. Kelakuan lelaki tampan di dalam sana itu memang sangat tengil sekali.
"Benn, kamu suka sekali bikin orang lain jantungan. Apa yang kamu pikirkan? Apa yang kamu kejar?" tegur Eril dengan lembut. Mereka telah duduk tenang dan siap meluncur menuju bandara pagi itu. Benn tersenyum nyengir pada sang istri.
"Aku tidak sadar, Ril. Tanganku nih suka-suka dia. Nggak lihat sikon asal pencet,," gerutu Benn pada dirinya.
__ADS_1
"Lagipula, jelas ada satpam yang berdiri tegak menyambut kamu. Masih juga kamu kasih tin tin. Itu nggak sopan, Benn," tegur Eril sekali lagi.
"Iyalah. Lain kali coba aku tahan.. Jika ingat,," ucap Benn terdengar lirih di akhir kalimat.
Eril menahan tawa diam-diam. Mengakui jika itu adalah kebiasaan dan kegemaran Benn. Mungkin dengan begitu, Benn akan merasa melepas sebagian beban jiwa. Ah, lain kali biarkan saja. Toh, para satpam itu juga sudah biasa dan tetap terlihat baik-baik saja..
🌶🌶🌶
Sebab tidak ada barang yang dicari serta ditunggu pada luncuran barang kargo, dan hanya membawa koper mini dari kabin, pasangan suami istri itu berjalan melenggang menuju pintu keluar.
Kepala mereka menoleh ke segala arah guna menelusur orang yang berjanji menjemput.
"Otto Hans, aku rasa Benn belum datang menjemput. Apa kita naik taksi saja?" tanya Desta dengat perut yang membuncit.
"Benn orangnya on time, dia pasti sudah menunggu," jawab Leehans sambil menggandeng tangan istrinya.
"Betul, otto Hans! Lihat, itu bukankah, Benn,,?" tunjuk Desta pada seorang lelaki tegap yang sedang berdiri sendirian memegangi ponsel.
"Siapa lagi jika itu bukan Benn, okusan? Mari kita ke sana," Leehans menarik tangan istrinya untuk berjalan mendekati Benn di teras bandara.
"Mungkin tidak diajak, bisa jadi dia datang dengan lelakinya," bisik Leehans tersenyum. Mereka sudah agak dekat dengan Benn. Desta mencubit kecil lengan Leehans.
"Tidak boleh menduga-duga yang tidak bagus, otto Hans. Apalagi aku sedang hamil anak kamu," sahut Desta berbisik lebih lirih. Leehans memencet tarik hidungnya dengan senyum-senyum. Beberapa langkah lagi mereka akan sampai di titik koordinat Benn Irawan yang bersandar pada tiang bangunan.
"Assalamu'alaikum, Benn!" Leehans menepuk bahu Benn sambil mengucapkan salam sapanya.
Benn nampak terkejut dan tersenyum.
"Wa'alaikumsalam. Terkejut aku, Hans,! Pantas aku telpon kamu nggak nyambung," rungut Benn namun sambil menyambut Leehans dan mereka saling memeluk setelah bersalam tangan. Benn memandang Desta setelah memisahkan dirinya dari Leehans.
"Hai, Desta? Apa kabar?" sapa Benn pada Desta yang tidak banyak berubah. Semakin cantik.
"Alhamdulillah, Benn. Kamu benar sudah menikah? Lalu mana istri kamu, Benn? Nggak ikut,?" tanya Desta langsung dan beruntun. Sambil mengamati Benn yang rasanya nampak sedikit kurus. Dan menyambut bersalam tangan dengan Benn sesaat.
"Eh, otto Hans. Aku tiba-tiba ingin ke toilet. Tunggu ya. Bentar ya, Benn,". pamit Desta buru-buru. Berjalan sendiri mencari toilet. Sudah agak hafal dengan denah lokasi toilet di bandara Sukarno-Hatta.
__ADS_1
Benn dan Leehans saling berpandangan, mereka sama-sama tersenyum kemudian.
"Sukses kamu, Hans. Sudah akan tiga saja anak kamu,!" ucap Benn dengan keras dan masam.
"Aamiin. Terimakasih. Asal kamu tahu, Benn. Itu adalah misiku. Aku merasa sibuk bekerja. Jadi aku ingin memberi istriku banyak anak. Rizqi yang melimpah harus diimbangi dengan jumlah anak yang banyak. Itu adalah rahasia rumah tangga samawa dan harmonis, Benn. Tirulah aku.. Ha..ha..ha.."
Leehans tertawa seperti sedang berbangga diri pada sahabatnya. Sahabat dengan rumor miring yang belum memiliki anak satu pun. Dan ternyata telah menikah. Leehans ingin mengompori Benn melalui teori tentang anak. Agar Benn bersemangat dalam pernikahannya dan segera punya anak.
Namun Leehans merasa agak aneh. Benn tidak tertawa sama sekali. Wajah tampan itu kembali masam yang lama. Sedang ada sesuatu yang diam-diam menjadi beban Benn sekarang. Apa itu... Tapi tentu Leehans tidak akan mengerti selama lelaki berkulit putih itu membungkam.
"Benn, mana istrimu? Cantik,?" tanya Leehans tersenyum. Benn tidak menjawab. Hanya tersenyum-senyum mesum sambil menaik-naikkan dua alisnya banyak kali. Leehans tertawa tidak tahan. Dan merasa gembira. Sepertinya sang sahabat telah kembali ke jalan yang lurus.
"Kamu sudah tidak tertarik lagi dengan lelaki, haah,!" tanya Leehans dan kini kembali tertawa. Sebab Benn hanya menggeleng-nggelengkan kepala dengan wajahnya yang kembali nampak masam.
🌶🌶🌶
Toilet bandara di bagian sudut manapun sedang ramai dan antri. Memang begitu jika bandara sedang dalam ketibaan pesawat. Banyak penumpang yang baru turun dari pesawat akan menyerbu seluruh toilet di bandara.
Desta merasa lega, telah keluar dari kamar toilet dan sukses mencurahkan isi cairan di ginjalnya. Setelah hampir delapan jam menahan diri untuk tidak pergi ke toilet. Dan itu adalah hal hebat, mengingat kondisinya yang sedang hamil empat bulan.
Desta singgah di cermin besar dan memanjang yang tersedia dalam toilet. Membetulkan posisi kerudung agar senantiasa rapi dan simetris. Sangat risau jika kerudung berubah miring dan senget. Apalagi jika menampakkan anak-anak rambut di balik kerudung kepala. Wanita itu tidak suka.
Saat begitu fokus bercermin dan meneliti penampilan, serasa tersengat listrik rasanya. Sebuah bayang wajah yang belakangan sedang dalam kepala, sedang penampakan di samping pantul wajahnya di cermin. Yang aslinya mungkin sedang berdiri di samping belakang. Desta sampai terkaku tegang tubuhnya. Antara tegang, gentar dan tidak percaya. Dan bayang pantul itu tengah lebar-lebar menatapnya.
"Desta,," bahkan tidak hanya bulat-bulat memandang. Tapi bayang pantul itu juga bersuara menyebut namanya. Desta seketika berbalik. Dan semakin melebar juga matanya.
"Ajeng,,??!!" pekik Desta setelah benar-benar merasa yakin. Tapi tetap juga tak percaya.
"Desta,," Ajeng memang tidak terkejut. Sebab memang berniat menjemput. Tapi tentu saja terharu, tak disangka mendadak bertemu. Kedua mata Ajeng bahkan sudah menangis.
🌶🌶🌶🌶🌶
🌶🌶🌶🌶🌶
Vote me, please..
__ADS_1