
"Terimakasih. Saya pulang duluan. Assalamu'alaikum,,!" pamit Eril tergesa.
Tak lagi dilihatnya tanggapan dari wajah dua lelaki yang dipamiti. Yang jelas saat terakhir dilihat, hanya asisten Lucky saja yang mendongak menyimak. Sedang lelaki putih itu nampak abai dan menunduk pada hand phone di pangkuan. Juga sahutan jawab salam lirih saat Eril telah berbalik pergi itu, juga hanya dari asluk.
Eril kian yakin bahwa lelaki itu adalah si lapuk yang menginterviewnya hari itu. Jadi, lelaki itukah yang sedang repot-repot mencari istri.? Ah, iseng sekali lelaki itu,, dia kan tampan! Dan pastinya kaya,,! Tidak mungkin kekurangan wanita. Mungkin juga hanya ingin merasa sensasinya saja. Ah, entahlah!
🌶🌶🌶
Hampir pukul sepuluh malam Eril sampai di rumah kontrakan. Menghampiri kran air di depan teras untuk mencuci kaki dan tangan. Serta membasuh wajah dan lehernya berulang kali.
Memiliki balita membuatnya harus ekstra hati-hati. Ingin sedikit mengurangi hal-hal tidak nampak yang dibawanya tanpa sadar dari luar. Apalagi sebab issue virus masih juga memanas di kota besar ini.
Rumah sudah lengang dan gelap. Hanya cahaya dari dalam kamar yang menyorot ke luar saja sebagai penerang. Sebab pintu kamar tidak ditutup dengan rapat, terbuka dan menampakkan sebagian isi kamar.
Eril telah melipat rapi mukenanya. Mendekati Evan yang tidur sangat nyenyak dan tidak terusik akan kepulangan sang ibu. Mencium bertubi-tubi pipi gembulnya dengan gemas. Dan seberapa banyak kali mencium pun rasanya tetap saja tidak puas.
Menghilangkan rindu sekaligus rasa bersalah. Rasa bersalah sebab tidak mengajak serta si balita ke mana-mana. Kerapkali meninggalkan Evan belakangan ini di rumah. Merasa kalah dengan keadaan yang baginya memojokkan.
Merebah lelah bersama si balita tercinta. Kembali menciumi telinga dan rambut tebal Evan dengan aromanya yang khas. Aroma segar minyak balita bercampur dengan sedikit bau masam sebab keringat. Bagi Eril itu adalah aroma terapi yang memberi ketenangan dan candu tersendiri untuknya.
🌶🌶🌶
__ADS_1
Alarm di pagi buta yang tidak pernah lupa memberi dering, kembali menyapa sang pemilik. Disambut hanya dengan geliat bolak-balik tanpa bergegas menghampiri. Menarik selimut sejenak berharap alarm itu tidak usah lagi berbunyi.
Tidak ada bunyi bising panci dari senam tangan teh Sulis di dapur. Sebab tidak lagi ada panci kotor melimpah di wastafel. Aktivitas memasak besar kemarin hanya terjadi pagi saja.
Kebetulan tidak ada order pesanan lagi hingga lapak online tutup saat petang. Dan malamnya sang koki dapur online itu telah pergi memenuhi panggilan kopi darat.
"Eh, teh sulis dah bangun juga,,?" sapa Eril terkejut. Orang yang disapa sedang menikmati mi goreng pipih yang masih nampak kebul panasnya.
"Iya, Ril,,,tiba-tiba bangun tidur perut teteh perih banget. Tapi males mau makan nasi. Ingat bikin mi goreng, jadi bersemangat,," sahut teh Sulis sambil mengipasi mi goreng yang beraroma pedas, manis, sedap itu dengan telapak tangannya.
"Ril, kalo mau, masih ada tuh di atas kompor. Teteh bikin banyak,,!" seru teh Sulis pada Eril.
Eril telah hilang di balik pintu kamar mandi. Terbirit masuk sebab isi ginjal seperti akan tumpah dan bocor merembes.
Meski si balita kerap kali ditinggal pergi, namun akan mengikuti segala gerak ibunya jika sedang ada bersama di rumah. Seakan paham untuk memanfaatkan moment bersama sang ibu sebelum ditinggal pergi kembali.
"Ril, gimana hasil kopdar semalam? Kira-kira ada hasil nggak ya... Ah, teteh doa saja yang terbaik untukmu, Ril.. Jodoh dan rizqi kita mah pasrahkan saja,," ucap teh Sulis ikut penuh berharap.
"Aamiin. Terimakasih doanya ya, teeh,," sambut Eril dengan gembira. Juga sambil mengipasi mi goreng yang diambilnya di piring.
Teh Sulis mengangguk-angguk sambil menyelurut mi goreng panjang di mulutnya.
__ADS_1
"Tapi memang pasrah saja aku ini teh.. Dapat Alhamdulillah... nggak lulus ya kecewa juga sih, teh.,,hi..hi.." kikik Eril merasa konyol sendiri.
"Orangnya gimana, Ril.. Sudah tua? Gendut? Ompong?" tanya teh Sulis di sela sibuk menyendok garpu mi gorengnya.
"Aku tak yakin lah, teh. Kayaknya orangnya bening,," gamang Eril menyahut.
Terbayang sekilas lelaki tampan dan berkulit putih yang diyakininya adalah si lelaki lapuk. Masih ragu, sebab orang yang dikopdar semalam tidak pernah menjawab pertanyaan Eril sekali saja. Hanya menerka-nerka lah yang bisa diyakini olehnya.
"Jika orangnya bening, smoga juga sifat dan hatinya juga bening ya, Rill,," timpal teh Sulis.
Eril kini yang mengangguk-angguk setuju mengiyakan. Mulutnya baru saja dijejal isikan mi goreng nikmat buatan teh sulis saat menjelang subuh itu.
"Ada orderan nggak, teh,,?" Eril menoleh pada perempuan sunda itu yang mendekati hampir tengah abad.
"Alhamdulillah masih ada, Rill. Setengah lusin, setelah ashar sore nanti. Kayaknya siang ini kita menyantai saja lah, Rill,," timpal teh Sulis atas keminiman jumlah orderan yang didapat.
Eril hanya mengangguk menerima dengan pasrah. Jumlah order pesanan memang tidak selalu memuaskan. Namun sering juga melimpah kewalahan.
Dan semua harus diterimanya penuh syukur. Berharap berapa pun order pesan yang datang, akan selalu mampu mencukupi kebutuhan!
Namun tidak munafik, jika ada uang yang lebih, Eril tidak ingin hanya mengandalkan dapur online. Ingin mengembangkan rintisan usaha kulihernya.
__ADS_1
Sangat yakin bahwa tuntutan biaya hidup akan semakin meluas dan meningkat. Seiring usia balita Evan yang semakin berkembang dan menuntut!