
Assisten Lucky sedang bergegas menaiki tangga menuju lantai tiga di gedung utama perkantoran pusat dari seluruh yayasan. Tuan mudanya baru saja mengirim pesan agar dirinya segera naik menemui di ruang kerja.
"Tuan Benn, memanggilku?" tanya asluk begitu berdiri di depan meja kerja sang atasan.
"Sorry asluk, aku terpaksa memanggilmu. Apa kau menggunakan tangga lingkar? Kenapa tak menggunakan lift saja? Kau ingin senam jantung?" tanya Benn. Sebab mendapati kilap air di rambut asluk. Keringat telah merembes keluar dari kulit ubun dan dahi lelaki itu.
"Agar lebih cepat saja, tuan Benn." sahut Lucky. Berekspresi menunggu penjelasan Benn akan maksud panggilan pesannya.
"Asluk, aku ingin berbicara pribadi dengan Eril. Tolong aturkan jadwal untuk aku bertemu dengannya. Atur selepas kerja saja,," beritahu Benn pada asisten setianya.
"Apa ada syarat khusus seperti biasanya itu, tuan Benn,,?" tanya asluk lebih memastikan.
"Ya,,ya,, suruh polos seperti biasa," tukas Benn seperti sedang terlupa akan hal itu.
Assisten Lucky mengangguk mengerti.
"Lucky, kau juga ikutlah aku. Tapi tunggulah kami di luar." imbuh pesan Benn sebelum sang asisten menyelip di balik daun pintu.
"Iya, tuan Benn. Saya mengerti," sahut Lucky, yang akhirnya benar-benar berlalu dengan menutup daun pintu.
Lelaki tampan berkulit putih itu menggerakkan kepala mengalihkan pandangan dari pintu. Meraih sebuah file dan membukanya perlahan. Mengamati sesuatu dalam berapa lembaran kertas di sana.
Benn memperhatikan beberapa foto yang tercetak pada kertas-kertas putih yang di peganginya. Gambar seorang perempuan dengan banyak pose yang diambil dari hasil video call waktu itu. Foto gigi gingsul sebelah, tahi lalat mati di tepi telinga, tahi lalat lagi di dada serta foto KTP dan foto close up pemiliknya. Benn tertawa melihat gambar-gambar itu.
Menertawakan kekonyolan syarat yang telah ditentukannya sendiri. Juga kepatuhan dari para kontestan demi memenuhi syarat yang ditentukan. Khususnya kepatuhan Sterilia Diajeng yang harus patuh pada syarat berlanjut saat datang menemui. Dan berlanjut juga untuk pertemuan malam nanti.
Dua mata itu menajam memandang foto KTP dan foto close up pemiliknya. Merasa salut pada pemilik foto itu dan tidak paham dengan dirinya. Benn tidak merasa tertekan atau pun terpaksa saat berbincang dengan pemilik foto itu. Teringat akan jawab palsunya pada ayahnya pagi tadi.
Mengaku masih tertarik dan memiliki nafsu pada wanita sebagaimana lelaki yang normal. Hanya demi membuat perasaan sang ayah merasa baik-baik saja dan tenang. Nyatanya tidak seperti itu. Benn tidak tertarik untuk dekat intim dengan wanita.
Hanya merasa nyaman dan tenang saat dipijat oleh lelaki yang disewanya. Meski tidak terjadi apa pun, sebab Benn memang tidak pernah mengizinkan si pemijat untuk berbuat lebih dari sekedar mengurut tubuhnya.
Dan Benn memang benar-benar berpuasa untuk tiga tahun ini. Bahkan untuk sekedar misi di toilet pun, Benn tidak pernah. Sebab tembakan meriam miliknya memang tidak lagi siaga dan berfungsi. Betapa berat nya siksa derita yang diam-diam telah dirasakan lelaki tampan itu selama ini!
πΆπΆπΆ
__ADS_1
Ibu muda berstatus gadis telah datang dan duduk di depan Benn. Menikmati segelas besar lemon hangat yang baru saja diantar oleh seorang pelayan kafe sesuai pilihannya sendiri.
Benn belum menyentuh seteguk pun isi gelas minuman jahe putih manisnya. Nampak mengeluarkan ponsel dan jari-jari panjang itu asyik bergerak di seputaran layarnya. Wajah dan mata tengah fokus sesaat di sana. Yang kemudian menjauhkan benda itu dari dirinya dan mengulur dekat kan di meja depan Eril. Saling berpandangan mata dengan gadis tanpa riasan yang tengah duduk manis dan tenang.
"Bacalah, lalu tanda tanganlah di menu in sign paling bawah itu. Jika ada yang bingung, tanyakan,,, tapi bukan untuk diubah," terang Benn sambil menunjuk pada arah posisi ponsel di meja.
Eril mengikuti arahan Benn. Menyambar ponsel mewah dengan hati - hati dan membuka layarnya. Membaca seksama beberapa poin-poin yang telah ditulis ketik oleh pemilik ponsel itu di sana. Wajah manis yang sedap dipandang itu beberapa kali nampak berkerut dan fokus pada layar ponsel di pegangan. Dan mendongak menatap Benn dengan penuh tanda tanya.
"Benar-benar jadi enam bulan ngontraknya? Lama sekali, Benn,,?" tanya Eril terheran.
Benn menaikkan kedua alisnya, dan sedikit tersenyum sinis pada gadis manis itu.
"Jangan berlagak lupa. Buka lagi iklan yang pernah kupasang dan telah kau baca seksama itu. Aku mencari istri untuk dinikahi. Tidak ada kata enam bulan di sana. Jadi seandainya seumur hidup pun, kau ini jangan protes. Satu milyar untuk enam bulan, hitung saja berapa tiap bulan kau dapat. Apa masih kurang? Jangan serakah, Ril,,!" terang Benn dengan pelan dan menekan.
Benn seperti ingin memberi pemahaman pada Eril akan makna dari bunyi iklan yang telah disebarkan. Mengingatkan pada Eril bahwa imbalan hadiah yang dijanjikan sudah lebih dari cukup.
"Eh, iya,,iya,,Benn. Bukan maksudku jadi serakah. Baiklah, aku ubah pertanyaanku. Kenapa enam bulan? Kenapa tidak tujuh bulan? Aku sangat ingin tahu alasanmu. Ayolah katakan, Benn,," bujuk Eril pada lelaki yang masih lekat memandangnya.
"Akan kukatakan... Aku memiliki hak waris tunai dari almarhum nenekku di bank internasional Singapura. Dan syarat utama untuk memilikinya adalah bukti nikah dengan minimal waktu pernikahan yang telah berjalan enam bulan. Jadi pernikahan kita ini setidaknya sampai aku mencairkan dana waris dari nenekku. Dan selain alasan itu, sudah pernah kubilang padamu, orang tuaku sangat menuntutku.." terang Benn dengan sabarnya.
"Lalu ini, Benn. Tidak boleh menuntut hubungan fisik.. Jadi tidak ada adegan tidur bersama, kan? Artinya kita tidak perlu tinggal bersama juga kan, Benn,,?" desak Eril pada Benn.
"Kenapa kau takut sekali padaku? Apa aku nampak tidak menarik di matamu?" tanya Benn terheran. Ada rasa sedikit kecewa dan tidak terima dengan respon Eril yang nampak tidak berminat padanya.
"Ya, jujur saja aku takut, Benn. Pernikahan kita ini kan hanya kontrak. Kamu dapat bukti nikah, lalu aku menerima uangmu. Dan kita tidak akan ada urusan lagi setelahnya. Betul tidak, Benn?" terang Eril.
Yang sebenarnya sangat khawatir jika saja Benn menuntut untuk tinggal bersama orang tua. Eril tidak sanggup berpisah lama-lama dari Evan. Membayangkan saja rasanya sudah sakit.
"Bacalah ulang point terakhir," sahut Benn pada Eril kembali terdengar.
Eril yang bersiaga segera menunduk dan membaca sekilas. Mengangkat kepalanya lagi mamandang Benn.
"Segala perubahan putusan mutlak ditangan Benn Joyko Irawan,,?" Eril bergumam mengulangi bunyi tulisan yang baru dibacanya.
"Heemm.. Paham tidak,,?" tanya Benn seksama penuh nada kemenangan.
__ADS_1
"Paham.. Tapi.." Eril terdiam seperti ragu dengan lanjutan kata-katanya.
"Tapi apa,,,?" tanya Benn dengan tidak sabar.
"Jika ada perubahan dari point- point yang sudah kita tanda tangani itu, kamu harus membayarku lagi, Benn. Jika hanya mengacu pada aturan terakhirmu, itu sangat tidak adil. Jangan bersikap semena-mena, itu selfish namanya,Benn. Egois,,!" terang Eril sekali lagi pada hasil telaah di kepalanya.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu," pungkas Benn memandang tersenyum pada Eril.
"Tambah tuliskan, Benn. Nanti kau ingkar padaku,," kata Eril menuntut.
"Aku akan mengingatnya. Bukankah sudah kubilang,, tidak ada yang diubah. Tanda tanganlah, aku sudah." sahut Benn dengan acuh dan santai.
Eril merasa lagi-lagi tak berkutik. Sadar hanya perlu pasrah saja. Mengingat Benn cukup berkuasa dan memiliki segalanya. Dalam hal apa pun, Eril pasti akan kalah berdebat.
Dan demi uang satu milyar yang akan diterima seluruhnya hanya dalam enam bulan saja, segera digenggam erat ponsel mewah dan canggih milik Benn. Membuka halaman tanda tangan untuknya. Menggoreskan ujung jari telunjuk lentiknya di sana sekali toreh dan selesai.
"Sudah, Benn. Aku percaya saja denganmu. Berharap kamu tidak berniat jahat padaku." ucap Eril sambil menyodor ponsel mewah itu kepada pemiliknya kembali.
"Tenang saja, Eril. Aku bukanlah lelaki yang jahat dan licik. Aku bukanlah seperti itu." Benn berkata menegaskan.
Eril memandangi Benn. Menilai dengan pasrah ucapan Benn barusan padanya.
"Lalu, kapan yang katamu empat puluh persen itu kuterima, Benn?" tanya Eril tersenyum. Sadar jika dirinya tidak sabar. Namun tidak peduli sebab polisi telah menghubunginya lagi siang tadi. Merasa sangat tidak tenang dan resah dikejar tagihan, Eril merasa perlu juga mengejar uluran dana dari Benn.
"Semakin cepat ingin kau terima. Maka semakin cepat juga kita menuju pernikahan. Akan ditransfer oleh asluk malam ini. Dan kita akan menikah dua hari lagi." tegas Benn dengan ekspresi sungguh-sungguh. Tidak ada senyum di wajah tampannya. Benn tidak sedang main-main.
Eril memandang pasrah pada lelaki di depannya. Merasa ikut saja dengan apapun keinginan Benn. Yakin jika segala apa pun cepat dimulai, maka akan cepat juga berakhirnya.
πΆπΆπΆπΆπΆ
πππππ
πππππ
Aplikasi Ntoon akan memberikan 1 vote tiap hari Senin. Lepaskan Vote readers itu di sini saja yaaa...ππββππ
__ADS_1