Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
06. Kabar Kopdar


__ADS_3

Merasa begitu malas harus bangun pagi-pagi hari ini. Apalagi jika Evan masih nyenyak tidur dan tidak bangun mengganggunya. Ingin hati tidur saja seharian bersaing dengan kelelapan si Evan. Tak peduli gunungan baju kotor, gunungan piring kotor atau lautan baju bersih yang seakan terus melambai meminta dilipat.


Suara sayup bunyi glontang dan denting piring dari arah dapur, seperti menghentak Eril dari rasa nyaman malasnya. Menggeliat gaya ular jadi alasan demi mengulur waktu untuk lanjut duduk dan bangun. Namun harus bangun berjalan juga kemudian. Ah, malasnyaaa...


Teh Sulislah sumber dari bunyi-bunyian yang sayup terdengar dari kamar dan mampu mengusik lenanya. Wanita sunda itu tengah bersenam pagi bersama tumpukan panci-panci dan pecah belah kotor lainnya.


"Dah bangun, Ril,,?" sapa teh Sulis saat melihat kelebat Eril yang terbirit menuju kamar mandi.


"Iya, teh. Kebelet,,!" sahut Eril sambil menghambur masuk ke dalam kamar mandi.


Teh Sulis tersenyum memandang punggung ibu muda yang berstatus masih gadis itu. Perempuan pekerja keras dan tangguh yang tidak lalu menyerah dengan keadaan. Dan juga begitu baik telah bersedia menampung gratisnya untuk tinggal bersama di dalam rumah kontrakan sederhana ini.


"Ada berapa titik order, pagi ini, teh?" tanya Eril dengan kostum dinas bergaris lima warna yang telah diikat eratkan menggantung di leher. Salah satu celemek dinas dengan motif favorite saat bertugas.


"Masih tiga tempat, tapi masing-masing dua belas kotak lho, Ril.. Kena diantar pagi ini juga, buat sarapan tim kerja mereka katanya,," pungkas teh Sulis. Tangannya masih sibuk memanjakan dan mengelus para panci yang antri terbuka di wastafel.


"Oke, teh,," sahut Eril sambil memeriksa sendiri buku rekap order hasil tulisan tangan teh Sulis. Membaca menu order apa saja yang tertulis semrawut di sana.


Ya,,,hasil tulis tangan teh Sulis memang bersaing ketat dengan tulisan tangan para dokter. Saat mengulur bocoron resep obat pada pasien di selembar kertas yang buram dan tipis !


Eril nampak lihai saat mengupas, mengiris, merajang, mencacah, mencincang, memotong, menyayat, meremas dan apapun yang perlu dilakukan serta digunakan. Meracik segala bumbu-bumbu dapur juga bahan-bahan utama yang harus ada guna tercipta saji dengan sempurna sesuai order pesanan.


Dari sekian syarat racik yang telah Eril lakukan dalam mengolah sajian, satu yang tidak pernah Eril lakukan, yakni menumbuk. Eril sangat menghindari bahkan hampir tidak pernah melakukan pekerjaan menumbuk bumbu-bumbu.


Jika terpaksa dilakukan, mesin blenderlah pelampiasannya. Terkadang juga teh Sulis yang meminta paksa menumbuknya, tapi jika si Evan sedang terlena bermain. Itupun hanya khusus untuk proses pembuatan sambal saja.


Itulah ciri khas hasil olah sajian dari Eril. Apapun masakannya, bumbu-bumbu wajib itu hanya dibuat dalam iris, rajang, dan cincang! Meski begitu, rasanya tidak pernah diragukan. Tidak kalah dari masakan dengan bumbu melimpah hasil tumbuk. Bahkan telah banyak pemesan ordernya yang kemudian memilih dengan sukarela untuk jadi pelanggan tetap masakannya.

__ADS_1


πŸŒΆπŸŒΆπŸ„πŸ„πŸŒ½πŸŒ½


Perempuan yang pagi-pagi tadi sedang berkalung celemek dengan rambut cepol sedikit berantakan, kini telah rapi dan berubah nampak segar. Bersiap mengantar berkotak-kotak orderan dalam tiga bag besar yang diletaknya di atas karpet ruang tamu. Sambil menunggu datangnya go car.


Ya,, terpaksa menggunakan jasa layanan ini lagi. Sebab bungkusan yang dibawanya cukup merepotkan pagi ini. Evan sudah dimandikan dan telah wangi dengan harum minyak telon baby yang segar. Balita lelaki itu nampak asyik bermain dengan robot ultramen mininya warna merah. Sambil mengulum bubur ayam instant yang disuapkan sang ibu padanya.


"Ayo Vaaan...Evaaaa... Itu buburnya ditelan,,,jangan diemut terus gituuu.. Ntar robot ultramen kamu tu nggak tinggi-tinggi,," bujuk Eril pada balita tiga tahunnya itu.


Balita berkulit putih dan sangat tampan itu seperti tidak merespon ucapan sang ibu. Tapi mulutnya nampak bergerak-gerak sebentar, dan kemudian terdiam kembali. Tak ada lagi gerak mulut yang mengunyah.


"Lho cepat ditelan, Vaan, jangan diemut lagi,,," bujuk sang ibu kembali. Merasa tidak tenang jika balitanya belum habis makan, tapi go car yang dipesan sudah datang.


"Belum datang ya, Ril,,? Sini biar teteh yang melanjutkan menyuapi Evan,," kata teh Sulis sambil mengambil mangkuk bubur dari tangan Eril.


Tin...! Tin...! Yang dinanti-nanti telah datang. Eril berpamitan pada teh Sulis sambil mencium pipi dan rambut balitanya. Evan yang terbiasa ditinggal, hanya memandangi sang ibu yang berlalu sambil sedikit merengek bersuara kecil. Teh Sulis buru-buru menggendong dan mengajaknya masuk rumah dan berlalu dari teras.


Perempuan dengan wajah nampak cerah sebab telah menggenggam cukup rupiah, sedang duduk di halte umum menunggu datang ojek. Eril telah selesai mengantar ke tiga titik dan kini akan pulang kembali.


Bayang Evan, balita kesayangan itu telah mengganjal di pelupuk matanya. Ingin singgah sebentar di toko mainan demi membelikan sebuah mainan baru untuk Evan.


Eril terusik pada getar-getar ponsel di saku celana longgarnya. Segera meraih dan diterima panggilan di ponselnya. Panggilan dari sebuah nomor yang diam-diam begitu diharapkan. Berdebar kuat dada Eril..


Lebih berdebar gembira lagi dan juga penasaran. Panggilan dengan nomor sama yang telah menghubunginya beberapa hari lalu. Nomor yang memintanya untuk datang ke interview video call!


"Halloooo,, Assalamu'alaikum,,," jawab Eril terdengar ceria, berusaha menutupi degup dadanya.


*Wa'alaikumsalam. Sterilia Diajeng,,?!* sahut cepat seorang pria yang suaranya terdengar sudah berumur dari seberang. Orang bersuara yang sama dengan yang menghubunginya waktu lalu.

__ADS_1


"Ya,,saya,,?" jawab Eril termangu.


*Harap bersedia datang jam setengah delapan malam di restoran densus delapan-delapan kemang, on time,,* terang pria dalam telepon.


"Malam ini,,,?" tanya Eril cepat-cepat. Khawatir orang itu menutup telepon dengan keterangan kurang jelas.


*Betul. Dilarang menggunakan make up apapun. Penampilanmu, maksudnya,,kulit wajahmu harus tanpa riasan alias P..O..L..O..S,,* terang pria dalam telepon teramat sangat jelas di telinga mungil Eril.


"Untuk apa ya pak?" tanya Eril lagi.


*Interview lanjutan,* terang pria itu lagi dengan singkat.


*Baik, pak,* jawab Eril. Ada acara wawancara lanjutan juga ternyata. Tapi baguslah, masih terus ada harapan. Daripada panggilan tadi langsung berbunyi penolakan. -pikir Eril-


Tuuuuut.. Bunyi tut panjang, tanda panggilan ini telah diakhiri oleh penelepon di seberang.


Kala ojek online yang dipanggilnya telah datang, jadi bercabang dua tiba-tiba isi kepala. Antara pergi ke toko mainan dan juga pergi mencari baju baru. Baju yang sopan dan layak untuk pertemuan alias kopi darat lanjutan malam ini.


Eh,,,dengan siapa dirinya bertemu malam nanti? Apa lelaki lapuk itu benar-benar akan menemuinya langsung malam ini? Beranikah lelaki lapuk itu menampakkan wujudnya di depan umum? Berjuta tanya memenuhi benak Eril. Sangat penasaran dengan rupa dan bentuk lelaki lapuk yang begitu ingin dilihatnya..


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†


🌢🌢🌢🌢🌢🌢🌢🌢


Harap dukungannya...Sumbang hadiah dan vote nya yaa... Tinggal juga jejakmuuu..😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2