
Wanita dengan pria beserta seorang anak kecil yang baru keluar dari lift itu, nampak seperti sebuah keluarga sempurna yang bahagia. Bocah lelaki yang sedang dituntun sang ibu, sangat ceria berjalan sendiri dengan menggenggam erat jari telunjuk ibunya.
"Vaaan, tunggu doong. Cepet banget jalannya. Om Benn ketinggalan di belakang,,!" seru ibunya mengingatkan.
Sambil mengarah wajah pada lelaki dewasa yang mulai berjalan gontai saat memasuki area toko bermacam mainan dan boneka.
"Om pen, kulang makan, maa,,!" sahut Evan dengan percaya diri dan keras. Menoleh lelaki di belakang yang sedang menjelingnya.
Tinggal bersama oma baru alias ibunya Benn selama satu minggu, cukup membuat balita itu semakin jadi bocah yang pemberani. Eril cukup merasakan perubahan tumbuh kembang Evan yang bagus.
Ibunya Benn, alias ibu mertua Eril, nyonya Donha, adalah wanita yang mempunyai darah asli dari Jepang. Yang ayahnya, alias kakek Benn berdarah Indonesia dan Jepang. Sedang sang ibu, neneknya Benn, adalah wanita Jepang asli, tapi telah akrab dengan budaya indonesia.
Pemilik nama dari yang disebut balita lelaki itu telah berdiri menjulang dengan kaki panjangnya. Menunduk memandang jengah pada Evan yang juga menatap enggan padanya.
"Apa,,?! Nanti kamu tidur di sofa saja!" hardik Benn pada Evan. Dua wajah tampan beda generasi itu saling pandang dengan tatapan yang sama-sama tidak suka.
"Om Pen, pelit, ma. Kita tinggal aja, ma," ujar Evan kemudian. Mendongak pada sang ibu penuh protes. Dengan menarik telunjuk yang dipegangnya agar segara menjauhi Benn.
"Ril, anakmu itu perlu disekolahkan lebih cepat. Tidak sopan sama orang yang tua," gerutu Benn mengadu.
"Kamu sudah tua ya, Benn? Ya kamu juga kalo ngomong sama anak kecil yang lembut. Jangan nyinggung. Bocil pun punya perasaan lho Benn," Eril mencoba menengahi.
Benn tak menyahut, hanya mengacak asal rambut lebat di kepalanya. Perlahan menggeser langkah ke samping Eril dan mengambil tangan ramping itu yang lalu digenggamnya.
"Gandeng aku," ucap Benn sambil mengeratkan pegangannya. Seketika Eril paham dan sangat ingin tertawa.
"Oh, suami tampan juga ingin digandeng? Jadi ternyata ingin dimanja juga, ya?" sambut Eril bermaksud menggoda. Tidak ragu untuk meremas-remaskan tangan halusnya dengan genit di tangan Benn yang lebar.
"Ah, Ril,,,!" Benn mendesah tanpa sadar.
Wajah tampan dan putih itu sedang memerah. Benn sedikit geram dengan adanya mereka di tempat umum. Jika tidak,, entah apa yang akan dilakukannya sekarang. Merasa wanita di sampingnya itu sudah banyak kali menggoda hasratnya malam ini.
__ADS_1
Mereka bertiga sambil terus melangkah berkeliling di dalam toko mainan. Benn menggenggam di sebelah kiri dan Evan digandeng Eril di kanan.
Kini kedua orang dewasa hanya mengikuti Evan di belakang. Bocah lelaki itu telah memisah diri dan asyik memilih mainan. Eril tersenyum. Benn tidak melepas genggaman, membiarkan tangannya diremas dengan sesekali membalas sambil berdehem. Mungkin lelaki itu sedang terserang rasa gerah yang sangat.
"Benn, lepasin dulu, Evan bisa kalap masuk-masuk banyak mainan ke keranjang." bisik Eril saat Benn menahan kuat tarikan tangannya.
"Biar saja, Ril. Yang bayar kan aku." sahut Benn dengan santainya.
"Jangan salahkan aku dan anakku jika kamarmu nanti dipenuhi mainan!" ungkap Eril menguak fakta yang akan nyata adanya.
"Kamarku sangat luas," kukuh Benn tak berniat melepas tangannya. Eril hanya pasrah dan mengambil sisi baiknya.
"Benn, kamu makin tampan saat bermurah hati begini. Terimakasih ya, Benn,," ucap Eril sedikit menoleh mendongak. Benn hanya mamandang tak menyahut.
"Malam nanti pijat aku, Ril,," ucap Benn kemudian dengan lirih. Sedikit membungkuk, segan dengan pengunjung lain yang banyak berseliweran.
"Ah, modus lagi, Benn? Sini kubisikin,," Eril bersungut dengan tersenyum mendongak.
"Pakai plus-plus nggak?" tanya Eril dengan senyum yang dibuat-buatnya.
Meski wajah tampan itu nampak pias lagi, matanya menatap Eril tak berpaling. Merasa heran dengan kemajuan, bukan hanya kemajuan, tapi perubahan sikap Eril yang terasa jauh berbeda. Menjadi sangat berani dan menggoda. Membuat dirinya merasa sering panas dingin karena ucapan serta tingkah tak biasa istrinya. Dan diam-diam pun, Benn merasa sangat suka.
π΅πΆπ΅πΆ
Tatapan mata keduanya terputus saat bunyi musik tanda panggilan masuk di ponsel punya Benn. Ada nama Daniel di layar panggilan ponselnya.
"Ril, aku keluar sebentar. Jangan ke kasir dulu, tunggu aku." Benn berpesan sebelum meninggalkan Eril dan berjalan keluar dari area toko mainan.
Panggilan dari Tokyo, Jepang itu telah berakhir. Benn buru-buru mendial balik nomor si pemanggil. Dan ditunggunya dengan diam.
" Ya, halloo. Wa'alaikumsalam," sahut Benn setelah panggilannya diterima.
__ADS_1
"Besok sore? Kau hanya semalam saja di Jakarta?" tanya Benn pada orang di seberang.
"Pukul berapa penerbanganmu?" tanya Benn lagi.
"Jangan. Aku saja yang mendatangimu," ucap Benn sambil menyandar di tiang bangunan mall.
"Oke, Dan. Terimakasih. Kau menyempatkan datang demi diriku," sahut Benn dengan sesekali meluruskan pandangan.
"Ya, hati-hati di penerbanganmu,!" pesan Benn pada seseorang di seberang. Lalu direjectkan panggilan itu dan menyimpan kembali ponsel ke saku sweaternya.
Kecerahan tergaris nyata di wajah tegasnya. Orang yang begitu ditunggu, Daniel, dokter Daniel akan datang menemui lebih cepat dari waktu yang disangka.
Daniel adalah sahabat sekaligus dokter pribadi pilihan yang kebetulan berkeahlian khusus di bidang andrologi. Seorang androlog yang di antaranya menangani masalah detail kesehatan pria dan seputar alat reproduksi lelaki. Seperti Benn contohnya.
Daniel mulanya bertugas di Indonesia setelah benar-benar selesai dengan pendidikannya. Namun sebab alasan pribadi, sahabatnya itu mengajukan pindah tempat tugas ke Rumah Sakit Besar di Jepang. Mutasi tugas itu dipermudah oleh mantan abang ipar Daniel yang seorang pengacara dan asli warga Jepang. Dan dijalaninya pilihan itu hingga sekarang.
πΆπΆ
Banyaknya mainan Evan yang dibelikan Benn, tidak main-main jumlahnya. Kini telah di tumpah dari kantung-kantung belanja dan menghampar di lantai kamar Benn seluruhnya. Hingga untuk berjalan pun, harus memilih dan menepi.
Dan bocah pemilik mainan dengan perut aman yang baru di isi penuh oleh sang ibu, nampak hilir mudik menyinggahi mainan-mainannya bergantian.
Benn yang baru membersihkan diri di dalam kamar mandi, nampak keluar dengan wajah yang nampak agak masam. Langsung disambut Eril dengan peringatan lembutnya.
"Benn, sekarang dah paham kan. Jadi, jangan pernah kamu salahkan Evan dan mainannya, ya. Nanti habis main, biar aku ajak dia merapikan," pungkas Eril sebelum Benn beraksi menumpahkan kesalnya.
Benn tidak menyahut. Mendekati Eril dan memandangnya dengan diam.
"Kapan memijatku? Pukul berapa dia tidur?" tanya Benn mengabaikan apa yang baru disampaikan Eril padanya. Menunjuk Evan dengan gerakan kepala dan matanya.
"Sebentar, aku tukar baju tidur dulu. Kamu tunggu saja di ranjang ya, Benn," himbau Eril dengan manja.
__ADS_1
"Dia,,?" ulang Benn bertanya sambil menunjuk Evan kembali. Seperti tak ingin mendapat gangguan apa pun dari bocil itu nantinya.