
Benn terus mengawasi dengan ekor matanya pada Eril. Sang istri yang baru menggendong Evan untuk berkeliling teras bolak-balik demi membuat lena tidur, kini tengah menyerahkan bocah itu kepada mamanya. Evan telah lelap setelah sempat lekat pada Eril dan seperti tidak mau dilepas. Tapi mama Donha terus membujuk Eril agar mengupayakan bocah gimbul itu untuk tidur dengannya malam ini.
Dan Evan yang sudah tidur telah dibawa masuk oleh mamanya Benn ke dalam kamar tidur utama. Kamar besar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang tadi sempat dipakai Eril saat Benn belum datang. Sebab, kamar Benn senantiasa dikunci dan lupa tidak ditinggalkan anak kunci untuk Eril.
"Benn, kalo anakku mengompol bagaimana,,?" tanya Eril yang sedang membuntuti Benn menuju kamarnya di belakang.
"Untuk apa kau pikir. Sudah tenang saja. Mamaku itu sudah professional juga ngurusin baby. Bahkan mungkin lebih handal darimu." pungkas Benn.
Pasangan suami istri itu berdiri di teras kamar yang menghadap ke taman. Eril mengurungkan niat untuk mengajak Benn duduk di bangku tengah taman. Ada hal penting yang ingin perempuan itu tumpahkan pada Benn.
Ternyata sedang turun rintik hujan disertai angin, namun tanpa terdengar bunyi gemerisik airnya saat jatuh.
"Masuk, Eril. Anginnya sangat kencang,!" tegur Benn. Hujan rintik yang basah itu diiringi dengan hembusan angin yang kuat. Bahkan tanaman-tanaman di taman nampak doyong-doyong seakan hendak patah. Merebah miring mengikuti arah tiupan angin sangat kencang.
Eril terkaget, Benn telah menyeret tangannya menuju kamar dan melesat membawa masuk ke dalamnya.
"Benn, kamu ini,,, aku terkejut,,!" Eril menjeling mata dengan geram pada Benn. Menarik tangannya dari pegangan tangan lelaki itu.
"Ril, aku sangat lelah, pijatlah aku,," pinta Benn yang juga seperti perintah.
Tak segan-segan ditariknya lagi tangan lembut Eril menuju pembaringan empuk di ranjang kamarnya. Tenaga Eril yang berusaha menepis tak ada guna sedikit pun bagi Benn.
"Benn, kau ini,,! Baik-baiklah berkata. Aku bukan budakmu..!"
Eril menghentak tangan dan menjauh mundur dari ranjang. Merasa geram, hatinya masih sakit pada ucapan Benn yang tadi menuduhnya sembarangan. Eril menjauh dari ranjang dan duduk di kursi meja rias. Tidak ada sofa di kamar Benn. Tapi set kursi telah ada di teras.
"Ayolah, Ril..Apa salahnya suami minta dipijat sama istrinya sendiri?" tanya Benn membujuk.
"Soal ucapanku tadi, aku tak bermaksud menghinamu. Maaf lah, Riil,," ucap Benn. Perlahan berdiri dari ranjang dan mendekat pada Eril.
"Stop, Benn,,! Jangan mendekat! Jangan coba sentuh aku!" hardik Eril pada Benn sungguh-sungguh.
Wajah tampan itu berkerut serba salah. Tidak menyangka Eril demikian marah dengan ucapannya tentang kemungkinan ayah Evan.
"Ril, sekali lagi maaf. Aku janji tidak akan mengungkit lagi tentang ayah anakmu," Benn nampak menyesal. Sepertinya sangat risau jika Eril benar-benar tidak ingin disentuhnya.
__ADS_1
"Bukan hanya itu, Benn. Ada lagi yang membuatku marah, bahkan aku kecewa Benn. Tidak menyangka kamu lelaki yang seperti itu," kata Eril nampak dingin dan emosi.
"Apa, maksud kamu, Ril,,?" Benn kembali bermimik terheran.
"Dengar baik-baik ya, Benn. Jawablah pertanyaanku dengan jujur." ucap Eril lalu terdiam. Mengamati ekspresi Benn yang nampak menunggunya melanjutkan bicara.
"Tentang apa itu, Ril,??" tanya Benn sambil duduk santai di atas meja rias.
"Dengar Benn,, Desta pernah cerita padaku. Dia hampir saja di nodai oleh dua orang. Yang pertama namanya Alex, dia pemuda Jepang. Dan orang yang kedua,,," Eril menggantung ucapannya yang dingin. Kembali menyimak reaksi Benn. Lelaki itu nampak pias dan tegang menatap wajahnya.
"Ril,,, kau dan Desta sedekat itu,,?" tanya Benn dengan suara yang parau. Tidak menyangka jika Eril yang nampak tenang, ternyata mengetahui hal itu.
"Apa kamu pikir, aku yang miskin ini hanya mengaku-ngaku bahwa Desta yang berubah kaya raya itu adalah teman akrabku?" Eril menanggapi pertanyaan Benn dengan dingin.
"Dan orang kedua yang akan menodai Desta namanya Benn. Nama Benn yang telah dikenal Desta hanya kamu kan, Benn,?" tanya Eril menusuk.
Benn tidak menjawab, namun memalingkan wajah dari tatapan tajam mata Eril. Merasa begitu tertampar. Hal memalukan yang telah dipendam dan sangat disesalinya, kini kembali terungkap dan diungkit.
Dan yang membuatnya seperti rapuh tak bersemangat, orang yang mengungkit itu adalah Eril, istrinya sendiri. Sangat tidak disangkanya.
Namun bukan Benn namanya jika menyerah dan pasrah pada keterpurukan dirinya. Lelaki itu cukup keras kepala dan bukan jenis lelaki balon yang mengempis.
Hanya kelemahan pada tembakannya sajalah yang membuat Benn terpaksa angkat tangan. Tembakan yang dulu pernah mengarah garang, kini diam-diam sedang letoy tak bermaya. Yang telah mendera bertahun-tahun sangat lama.
Dan tiba-tiba sedang ada harapan besar baginya untuk mendapat kesembuhan. Benn telah menggenggam erat di tangan. Tak ingin melepaskan hingga dirinya mendapat kesembuhan. Atau akan dilepaskan ketika memang sudah tidak ada harapan untuk sembuh.
Eril, perempuan itulah yang sekarang sedang digenggamnya.
"Apa aku ini begitu bajingan dan bangsat bagimu, Ril,,?" tanya Benn setelah meraup wajah dan mengambil nafasnya yang dalam.
"Sebenarnya bukan hakku menilaimu. Itu semua hak kamu melakukan apa pun. Hanya saja, bagiku kamu itu brengsek. Maka kumohon padamu, jangan pernah sentuh-sentuh aku lagi. Aku ingin kembali ke rumahku. Lepaskan saja aku, Benn,!" sengit Eril sungguh-sungguh.
"Eril, kau benar-benar tidak mau kusentuh?" tanya Benn dengan serak.
"Sorry ya, Benn. Jujur kukatakan, jika kulihat mukamu itu, jadi terbayang bagaimana kamu bernafsu dan memaksa meniduri Desta. Kamu pemerkosa, Benn,," Eril berkata dingin.
__ADS_1
"Itu tidak terjadi, Ril. Hanya hampir,," Benn berupaya membela dirinya.
"Sebab Desta berhasil melukaimu dan lari meninggalkanmu,," sahut Eril kian dingin.
"Tapi aku sudah bertobat, Ril,," Benn berusaha merayu.
"Beenn,, kamu tobat? Kamu sholat saja tidak kan, Benn,,?" ucap Eril kembali menusuk.
Benn tidak lagi menyahut. Lelaki itu menunduk cukup lama dan terbungkam.
Benn mendongak dan meraup mukanya kembali. Satu perkara yang sudah Benn sangka akan dikatakan oleh Eril, benar-benar telah didengarnya barusan. Eril kukuh tidak ingin disentuhnya.
Namun sekali lagi, bukan Benn namanya jika menyerah pada orang lain begitu saja.
"Dengar, Ril. Aku akan menawarkan beberapa pilihan untukmu." Benn berkata sangat serius. Lelaki itu telah menguatkan dirinya semula.
Eril mendongak memandang Benn dengan perasaan yang enggan.
"Dengar baik-baik. Aku tidak ingin berganti menyerangmu. Aku tidak peduli bahwa kau pernah tidak jujur padaku. Kau sempat menyembunyikan kenyataan adanya anak dari masa lalumu. Itu tidak masalah, Eril."
"Tapi aku justru ingin memberi pilihan sekaligus peluang untuk masa depanmu, Eril." Benn terdiam. Memandang lurus dan redup wajah Eril.
"Menikah dengan waktu yang sama, yaitu enam bulan. Pilihan pertama, kau telah mendapat empat puluh persen itu. Tapi kau juga tidak boleh pergi. Tetap tinggal denganku. Semua kebutuhanmu, Aku yang tanggung. Aku tidak akan menyentuhmu, seperti yang kau mau. Hingga warisan itu benar-benar telah jadi namaku, " Benn kembali berhenti dan diam. Matanya tetap terpaku pada Eril.
"Pilihan kedua. Tinggal denganku dan aku boleh menyentuhmu. Tapi seperti ini bisa membuatmu mempunyai banyak uang. Tiap bulan, aku akan menafkahimu. Lalu setiap aku menyentuhmu, aku akan memberimu banyak uang. Dan juga,,, sisa enam puluh persen itu akan aku berikan juga saat sudah enam bulan. Bagaimana? Pilihlah,," kata Benn. Wajahnya merenung Eril dalam-dalam.
Mata Eril lebih melebar dengan nampak jelas kilatnya.
"Apa aku ini pelacur? Kamu ingin aku jadi pelacurmu, Benn,,?" Eril termangu, namun tatapannya sangat tajam pada Benn.
" Mungkin,, dan istilah tepatnya pelacur halalku,," kata Benn dengan santainya.
" Jika iya, tarifmu sangat tinggi. Tapi nyatanya kau ini sudah kunikahi. Sebrengsek apa pun masa laluku, aku suamimu dan kamu adalah istriku, Ril," sahut Benn seperti memberi Eril sebuah jebakan.
"Beeenn,,,!" sahut Eril sangat jengah.
__ADS_1
"Pahami kata-kataku Eril. Segera putuskan kau pilih yang mana. Waktumu satu jam dari sekarang. Sebab, aku sudah tak sabar untuk memberikan tarif pertamamu malam ini." Benn berkata tegas dengan begitu percaya diri. Seolah dirinya adalah lelaki sejati yang sempurna malam ini.