Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
65. Berpisah Kembali


__ADS_3

Sehabis waktu isya, Evan telah tertidur dan dibawa ke dalam kamar oleh ibu mertua. Leehans dan Desta yang akan menempati kamar tamu, sedang keluar rumah berbelanja oleh-oleh.


Didalam kamar putra tunggal keluarga, Benn sedang memperhatikan istrinya. Sedang menyapu wajah dengan skin care dan duduk di meja rias.


"Benar kalian akan tidur bersama malam ini, Ril,,?" tanya Benn. Berdiri dari duduk di tepi ranjang dan mendekat ke meja rias. Meletak telapak tangan di pundak istrinya.


"Iya,Benn. Kenapa,?" tanya Eril mendongak. Memandang wajah Benn yang di atasnya secara langsung. Merasa jika lelaki itu sering berwajah suram semenjak datangnya Leehans dan Desta.


"Kalian bukan mantan seperti Rika, kan?" Benn tersenyum menggoda. Bersiap dengan reaksi yang Eril berikan.


"Beenn,,!!! Kamu ini, ya.!" Eril berseru sambil berdiri. Berbalik dan langsung dipukuli lengan bahu Benn sepuas hatinya. Benn hanya meringis pura-pura. Menikmati pukulan Eril juga sepuas hatinya.


"Pukullah..Pukullah sepuas hatimu. Aku akan panggil polisi. Habis ini, kau akan tukar nama apa lagi? Jadi apa,? Steril..Lia..Dia..Atau kembali ke Ajeng?! Ha,,ha,,ha,,,!!" Benn menggoda Eril sambil menangkap tangannya. Dengan tawa bahak yang dibuat-buat. Ditariknya Eril ke dalam pelukan. Merasa iba dengan nasib yang dialami wanita itu.


Nama panggilan yang sebelumnya Ajeng, dan kini menjadi Eril. Berharap kejadian tidak baik yang menimpa selama dipanggil Ajeng, tidak akan pernah dialami lagi setelah menyebut diri dengan dipanggil nama Eril.


Eril pernah berurusan dengan polisi dan hampir dipenjara saat masih di Surabaya. Kala itu, Evan umur enam bulan. Rumah kontrakan Eril dibobol perampok saat malam. Perampok yang hanya satu orang itu berniat menncabuli Eril. Namun Eril berhasil selamat setelah menusuk perutnya dengan gunting satu kali.


Dan Eril harus berurusan dengan polisi. Tapi para tetangga banyak yang memberi support serta memberi pembelaan untuk Eril dan bayinya. Polisi urung menahan dan akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan apapun. Bahkan Eril juga sempat mendapat santunan dari kepolisian.


"Jangan bicara lagi, Benn. Jangan lupa, aku mendapat perlakuan sama persis dengan apa yang pernah kamu lakukan pada Desta. Sakit, Benn.." keluh Eril. Terlihat lunglai di pelukan Benn.


"Maafkan aku, Eril. Maafkan suamimu yang tidak berguna ini," Benn mengiba dan merasa menyesal dengan maksud bercandanya. Garis tawa di wajahnya lenyap sama sekali. Dan bertukar total dengan wajah suram yang senantiasa ada akhir-akhir ini.


Benn mendekap erat Eril di pelukan. Mendekatkan wajah ingin mencium di bibirnya. Tapi Eril menolak. Sedang merasa sedih tiba-tiba. Rasa yang mendadak tidak ingin disentuh Benn. Dan terus menolak sang suami yang sedang berhasrat menyentuhnya.

__ADS_1


"Kau membenciku, Ril,?" bisik Benn mengakhiri usaha mencium paksanya.


Eril tidak menyahut, diam dengan menyandar wajah di dada Benn. Perlahan merenggangkan diri dan menjauh. Duduk kembali di meja rias. Membersihkan wajah dengan kapas yang berair.


"Ril, kamu menangis,?" tanya Benn dengan lembut. Mengulur tangan dan ingin menghapus air yang mengalir di pipi mulus istrinya. Tapi Eril menolak dan terus berpaling wajah dari tangan Benn yang juga terus berusaha menyentuh.


"Menjauhlah sebentar, jangan sentuh aku dulu, Benn, please,,," Eril berkata dingin dengan suara seraknya. Seperti sedang benar -benar tidak ingin disentuh Benn sama sekali.


"Ril,,," panggil Benn dengan ekspresi suntuk dan bingung. Merasa serba salah menghadapi Eril yang sedang tidak baik-baik saja.


Tok,,!! Tok..!! Tok,,!!


Ketukan di pintu cukup mencairkan ketegangan suami istri di dalam kamar. Benn segera menuju pintu setelah menunggu Eril merapikan dirinya sebentar.


Leehans dan Desta sudah berdiri di depan kamar dengan wajah yang pias dan tegang.


"Ada apa, Hans,,?" Benn terheran. Benn telah keluar kamar dan diikuti Eril yang kemudian mendekati Desta.


"Kedua anakku tidak mau makan. Mereka demam tinggi semuanya. Terus menyebut umi dan abinya. Jadi aku harus pulang secepat mungkin. Seperti itulah anak-anak, Benn. Kau harus sabar dengan Evan. Atau kau lanjut saja perkawinanmu itu. Bikin anak yang banyak, kejar aku. Bukankah kamu pernah jadi casanova, Benn,?" Leehans tersenyum di balik rasa cemas terhadap anak-anaknya.


Dan seperti biasa, Benn berwajah suram kembali. Leehans tidak paham apa yang sebenarnya dirasakan oleh Benn. Merasa menyesal, belum sempat bersembang intim dengan Benn dalam pertemuannya kali ini. Tapi Leehans juga sedang tidak berdaya dengan waktu. Mengakui jika masa lajang dengan masa berkeluarga, sangatlah jauh berbeda.


"Eril, maafkan aku. Kita terpaksa tidak jadi tidur sama-sama. Lain kali gantian kamu yang ke Jepang mengunjungiku. Janji ya, Ril. Aku sangat menunggumu,," ucap Desta dengan sendu. Dua sahabat itu telah saling berpelukan sejak tadi.


"Iya, Desta. Aku paham. Kamu baik-baik dan jaga dirimu. Aku janji tidak akan lagi tukan nomor ponsel. Asal ponselku tidak hilang," Eril tersenyum. Desta juga tersenyum.

__ADS_1


"Penyakitmu memang seperti itu. Hilang ponsel." Desta menimpalinya.


"Aku juga tidak tahu. Capek kehilangan ponsel. Hanya di Jakarta ini, semenjak punya nama baru, ponselku nempel terus padaku." Eril menyahut tersenyum. Mereka masih saling berpelukan. Suami-suami mereka sedang memperhatikan juga sambil tersenyum.


"Aku akan memesankan cincinmu yang hilang. Akan aku shipmentkan jika sudah jadi. Tunggu ya," ucap Desta berjanji dengan memandang cincin D&A di jarinya. Tiba-tiba Eril menjauhkan pelukannya.


"Jangan, Des. Tidak usah. Aku tidak mau. Jangan buatkan lagi untukku. Kumohon." Eril memandang Desta sungguh-sungguh. Seperti ada kecemasan di mata bulatnya.


"Kenapa, Ril,,?" Desta terheran. Eril hanya diam tanpa menjelaskan. Namun pandangan itu sangatlah serius. Dan akhirnya Desta mengangguk sedikit kecewa.


"Maaf ya, Desta. Aku berjanji padamu, aku akan mengunjungimu jika tabunganku sudah cukup," Eril tersenyum manis. Ingin menghibur Desta yang dia paham sedang merasa kecewa.


"Jangan bohong.!" Desta berseru gembira dangan wajah berseri-seri. Eril mengangguk.


"Aku tidak lagi pandai berbohong seperti dulu," sahut Eril tersenyum. Tidak lupa jika dulu sering beralasan untuk menginap di luar asrama yayasan. Dan Desta sangat susah mememukannya.


"Ril, kunjungi kapanpun diriku. Tidak usah nunggu cukup tabunganmu. Ini adalah hadiahku dan suamiku untuk pernikahanmu dengan Benn. Ajaklah Evan jalan-jalan ke Jepang kapan pun. Aku menunggumu." Desta menyelipkan satu amplop sangat tebal ke tangan Eril.


Eril terdiam serba salah. Desta memang selalu begitu setiap bertemu, sedari dulu. Sudah berapa puluh juta uang yang diulurkan Desta untuk Ajeng sejak dulu. Tapi semua habis begitu saja tanpa sisa. Dan sangat tidak paham kenapa bisa seperti itu.


🌶🌶🌶


Mobil sedan hitam yang membawa penumpang satu orang yakni sopirnya sendiri, sedang melaju kencang membelah jalan raya. Benn benar-benar tancap gas untuk menuju gedung utama. Ingin istirahat dan menenangkan diri di kamar pribadinya.


Lelaki suntuk itu baru mengantarkan Leehans dan Desta ke rumah kakaknya Leehans yang kebetulan tinggal di perumahan super elite dekat bandara Soekarno-Hatta. Dan itu kian memudahkan pasangan suami istri untuk terbang kembali ke negara sakura besok pagi.

__ADS_1


Sedang Eril yang juga ikut mengantar, telah Benn kembalikan ke rumah orang tuanya semula. Benn ingin menitipkan istri dan anaknya pada orang tua untuk sementara. Menunggu hingga perasaan Eril membaik kembali.


__ADS_2