Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
74. Bangun


__ADS_3

Adzan subuh tengah berkumandang dan terdengar sayup dari kejauhan. Bersama bunyi alarm dari sebuah ponsel yang pembuatnya tengah tidak siuman hampir dua minggu lamanya. Namun dibiarkan saja alarm itu bekerja sebagaimana biasa oleh penjaga di sampingnya, yakni sang istri.


"Benn, subuh. Kamu tidak bangun? Aku sholat dulu, habis itu kamu kumandikan. Kamu sholat juga ya, Benn..." ucap Eril sambil menepuk-nepukkan tangan di pipi Benn yang dingin.


Wanita dengan baju tidur pendek itu turun dari tempat tidur dan membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya. Lalu mematikan pendingin ruangan dan masuk ke dalam kamar mandi.


Selepas menunaikan subuhnya sendiri, Eril mengambi air dalam wadah kecil. Menyeka seluruh tubuh Benn adalah rutinitasnya dua kali sehari setiap hari.


"Benn, kamu mandi yaa.. Biar kamu nggak bau asem. Kamu ganti baju, dan akan kusisir rambutmu. Habis itu kamu juga harus sholat." Eril berbicara sendiri sambil melepasi baju Benn seluruhnya. Dan kemudian menutupi dengan handuk.


"Kamu suka yang mana, Benn? Minyak telon kayak punya Evan, atau parfum wangi? Minyak telon saja ya, biar samaan kayak anak lelakimu,"


"Benn, nanti kalo kamu sudah bangun, kamu jangan amnesia ya. Terus lupa padaku,,dan kamu tidak akan mengenaliku... Lalu kamu akan mengusirku. Aku takut kamu akan amnesia, Benn," Eril berbicara dengan nada yang galau. Diam-diam merasa risau jika kemungkinan seperti itu terjadi. Meski dokter meyakinkan jika Benn tidak ada cidera di kepala.


"Benn, badanmu kian kurus. Cepat bangun, nanti makanlah yang banyak. Biar badanmu nampak sempurna lagi. Jika tidak kurus, kamu sangat seksi, Benn," ucap Eril dengan prinsip untuk terus berbicara.


"Sudah selesai mandimu, aku ambil bajumu dulu. Aku lupa menyiapkan. Tunggu ya, Benn," ucap Eril sambil menutup minyak telon dan diletak begitu saja di samping Benn. Lalu bergegas menuju ruang ganti untuk mengambil baju Benn di almarinya.


Tak,,!


Sedikit terkejut, kamar yang biasa hening, telah terdengar benda jatuh dari arah jantung kamar. Segera disambar asal baju Benn. Penasaran dengan asal bunyi benda jatuh.


Rupanya minyak telon yang ditinggalnya tadilah bunyi benda jatuh itu berasal. Botol telon telah berpindah tempat di lantai. Eril merasa berdebar, yakin jika posisi tangan Benn telah berubah dan bergeser.


"Benn,?! Apa kamu bergerak,,??! Benn, kamu akan bangun,??!" seru Eril dengan mencubit-cubit lengan Benn.


Dan rasanya kecewa, tidak ada reaksi, tubuh patung itu tak memperlihatkan gerakan apapun. Eril menghempas kecewa dengan niat mengenakan baju untuk Benn.

__ADS_1


Tapi kembali lebih sangat terkejut. Handuk itu nampak menyembul di bagian bawah perut. Sebuah harapan besar melintas di kepala.


Dengan dada berdegub kencang, diulurkan tangan memegangi sisi handuk yang menutupi sebagian tubuh polos suaminya. Tangan Eril menyingkapnya.


Degh!!! Eril terkesiap, bahkan setengah jantungan saja rasanya. Hal yang diharap datang ajaibnya siang malam dengan resah, kini nyata adanya. Tembakan yang selalu berkerut lunglai, kini menegak seperti yang semestinya.


Dan Eril merasa sedang berkeringat dingin sekarang. Lemas, gemetaran dan berdebar, tidak percaya dengan kejutan yang tiba-tiba wujudnya. Sungguh ini sangat ajaib, serta di luar teori dan nalar. Sebab Benn sedang koma.


"Benn,,?!!" tercekat Eril memanggil. Dan tidak ada respon apapun di bagian atas sana, benar-benar sangat iba rasanya.


Dengan rasa gemetar, segera dipasang kembali kateter urin ****** yang tadi belum sempat dipasangnya. Merasa begitu haru hingga Eril sambil menangis memasang. Berharap keajaiban pada tembakan Benn itu akan terus kembali ada selamanya dan permanen.


Benn telah dipakaikan baju seluruhnya oleh Eril. Dan diselimuti lagi hingga pinggang, pendingin kamar telah disiagakan kembali.


"Benn, kamu sudah sembuh. Kamu tinggal bangun saja. Kamu tidak impoten lagi. Kamu sudah perkasa lagi. Kamu sudah menjadi lelaki sejati kembali."


Kemudian Eril terdiam dan mengamati sang suami dengan seksama. Berharap ada ekspresi yang muncul di wajah pucat itu. Terus dipandang dan menganggap jika suaminya sedang menunaikan subuhnya.


"Beeenn,,!!" seru Eril terkesiap sekali lagi. Ada setetes air yang keluar tiba-tiba dari kedua mata Benn yang masih memejam. Diusapnya perlahan dan lembut. Dan wajah itu tetap saja diam tanpa ekspresi.


"Benn, kamu menangis? Kamu tidak amnesia? Kamu mendengarku? Kamu bahagia? Kamu memang sembuh Benn. Rasakanlah, ini,, tembakanmu sudah bangun, sudah siaga. Dia mengajakmu bangun. Kamu cepatlah bangun, Benn,,," ucap Eril bersemangat. Dengan kembali disentuhnya tembakan Benn dari luar celananya. Benar-benar masih standby. Merasa tak percaya dan luar biasa mencengangkan.


Eril merasa gundah, apakah mengabarkan hal ini pada mertua atau tidak.. Ah, lebih baik segera mengatakan kemajuan putra mereka ini pada sang mertua secepatnya.


"Benn, aku keluar sebentar ya. Aku ingin mengabari mamamu tentang tembakanmu. Mama pasti ikut gembira dan bersemangat. Tunggu sebentar ya, Benn," pamit Eril dan bergegas berjalan keluar dari kamar.


Kedua mertua yang kebetulan berada di meja makan sedang menikmati secangkir kopi, sangat heboh saat Eril mengabarkan keadaan putra mereka yang terbaru. Keduanya tergopoh dan berlari menuju ke kamar Benn.

__ADS_1


"Mama,,!" panggilan lembut dari belakang menghentikan langkah Eril. Ternyata Evan sudah bangun dan berjalan keluar sendiri dari kamar omanya.


"Evaaan, sudah bangun? Yuk ikut jenguk daddy. Daddy kamu sebentar lagi pasti bangun, Vaan,,"Eril menyambar balita gendut itu dengan cepat. Dan digendong tergesa ke kamar Benn, menyusul kedua mertuanya.


Sayup Eril mendengar keluhan mama mertua.


"Aduh, Beeenn. Kamu ini sabar doong.. Kamu baru sadar. Tunggu,, lagian kamu ini pakai keteter, naak. Pipis aja disituu,,Hik,,hik,,hik,," itu suara mama mertua yang sedang menangis, dan kian membuat Eril terasa jantungan. Benn sudah sadar,,,?


"Eril, maa... Eril..ma..na, maa,?" suara Benn sangat lirih dan terbata saat Eril baru menghampiri tempat tidur.


"Ini,, Eril ini, istrimu selalu jaga kamu. Tadi baru saja keluar ngabari mama sama papa tentang kemajuan kondisi kamu. Eh, kamu malah sudah mau bangun, Benn. Jangan bangun, dulu. Kamu ini masih lemes,," terang mama Donha dengan lembut sambil menarik Eril agar maju mendekat. Tuan Harsa agak menepi dan mengambil Evan untuk digendong agar Eril lebih leluasa.


"Beenn,, kamu sudah bangun,,? Hik..hik..hik."


Eril tak kuasa lagi berkata. Merangkul Benn dan menangis di atas bahunya yang tidur. Eril tersedu-sedu bahagia dan haru. Diusap-usapnya lembut pipi, leher , rambut dan dada Benn dengan rasa sedih sekaligus bahagia. Lupa sejenak dengan adanya mertua dan anaknya di sana.


Lega luar biasa, sang suami akhirnya sadar dan tidak melupakan dirinya. Eril kian tersedu saat tangan kekar yang lemah lunglai itu menyentuh pelan di kepalanya.


🌢🌢🌢🌢


🌢🌢🌢🌢


Vote it, please..


Klik 5 bintang yaa..


Hibur author, kasih nilai di karya ini yaa.. Ada 5 bintang di akhir bab, di bawah kolom komentar. Tolong klik 5 bintang itu dan kirim yaa... Author mengsedih, yang belum klik bintang... Klik, please..😭😭😭😘

__ADS_1


__ADS_2