Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
27. Bekas Luka di Perut


__ADS_3

Merasa telah puas bermain di seluruh wajah, leher dan dada, Benn telah sampai di pusar guna menyandar lama di sana. Hasrat yang terasa seperti telah di ubun tidak juga menuju ke muara. Samar kecewa yang datang diabaikannya. Dan nyeri di kepala yang perlahan terasa juga ditepisnya.


Benn kini merasa gengsi jika menyudahinya. Ada rasa tertantang bisa memberi sensasi rasa baru pada perempuan yang telah nikahinya. Sebab sang istri terus saja mendessah, nampak jelas sudah begitu pasrah dan mungkin terus mengharap sentuhan yang lebih darinya.


Benn merasa sangat nyeri lagi di kepalanya. Dan lelaki itu memang keras kepala di segala kondisi. Ingin memberi Eril sedikit kesenangan dan sensasi. Benn ingin memainkan milik Eril di bawah sana.


Namun di perjalanan bibirnya, Benn menemukan sesuatu. Sesuatu yang mengejutkan dan terkesiap tak percaya. Nyeri di kepalanya hilang sesaat sebab rasa kaget yang sangat.


Eril yang sedang merasa serba setengah, setengah sadar dan setengah mengawang, kini telah sadar sepenuhnya. Benn mendadak bergeser dan menindih sejajar dengannya. Aura Benn begitu dingin menyaingi hawa di Himalaya. Debar panas dingin yang tersisa di raga, seketika lenyap tanpa sisa. Eril merasa was-was, merasa tidak paham dengan Benn yang nampak begitu marah padanya.


"Kau menipu aku, Eril,,,?" tanya Benn tiba-tiba dengan nada sangat dingin. Matanya begitu tajam menatap wajah Eril.


"Menipumu? Apa maksud kamu, Benn?" tanya Eril dengan tercekat. Merasa heran, lelaki yang baru saja memperlakukanya sangat mesra kini berubah seperti akan mencekik lehernya saja.


"Kau bilang padaku, jika kau ini seorang gadis kan, Eril,,?" Benn masih terus dingin bertanya.


Perempuan di bawah Benn nampak melebarkan matanya. Tangan yang tadi memegang di dada sang suami, perlahan turun menjauh dan akan menyambar selimut di samping mereka. Eril berniat menutup tubuh polosnya. Tapi dengan cepat Benn menepis selimut itu dan kian dijauhkan.

__ADS_1


"Jawab aku, Eril,,,!" hardik Benn nampak marah. Eril lebih terkejut lagi kali ini.


"I,,iya, Benn,," sahut Eril terbata. Ada bersit takut dengan kemarahan di mata tajam itu.


"Lalu,, bekas operasi apa itu di perutmu,,,?!" sambung tanya Benn dengan lebih tajam dan dingin lagi. Sambil tangan Benn terulur di perut Eril. Mengusap kasar di sepanjang perut bawahnya.


Eril terkesiap dengan pertanyaan Benn. Salut dengan kejelian Benn pada bekas luka operasi di perutnya. Padahal luka itu telah sangat samar. Sebab Eril rajin menyalepi sesuai salep resep dokter. Betapa bimbang perasaan Eril sekarang.


Tidak paham bagaiman sifat Benn sesungguhnya. Hanya merasa gentar jika saja lelaki itu tengah marah tak terkendali. Lalu melampiaskan murka pada dirinya dengan brutal. Sedang lelaki itu pasti begitu paham. Perlawanan Eril selalu berakhir tanpa daya. Apalagi posisi lelaki itu sedang menang dan aman. Eril masih terkunci dalam kungkungan tindihannya. Berfikir hal itu, perempuan itu merasa bertambah kian cemas.


"Kau tidak mau mengatakannya,,?" tanya Benn lagi dengan tajam. Eril merasa terdesak.


Benn terlihat mendengus, namun bergeser juga dari tubuh Eril dan menghempas rebah di sebelah. Menoleh dan memandang punggung polos yang indah itu dari belakang. Benn terus mengamati dengan bungkam. Eril tengah memakai dress tidurnya buru-buru. Lalu berdiri dan nampak mencari sesuatu. Tapi tidak ketemu. Eril putus asa dan berlalu menuju kamar mandi.


Benn tahu apa yang sedang dicari oleh sang istri. Dua benda sakral yang tengah ditindihnya. Namun lelaki itu abai tak peduli. Dengan aura dingin, Benn bangun dan memakai lagi handuknya. Menuju ruang ganti untuk mencari baju lagi.


Benn menuju sofa dan duduk menghenyak di sana. Sebuah tas kecil nampak teronggok di sofa. Benn paham tas itu milik siapa dan segera disambarnya.

__ADS_1


Langsung digerilya dan sesuatu yang sedang diburu telah terjumpa. Dengan cepat dibukanya dompet Eril. Ingin memastikan di kartu tanda pengenal, bahwa status Eril memang gadis dan itu bukan manipulasi.


Tanda pengenal- KTP identitas buru-buru ditarik keluar dari dalam dompet. Mata tajam di wajah tampan itu memeriksa dengan seksama. Semuanya asli, tidak ada yang dimanipulasi. Status Eril masih gadis.


Lalu, untuk apa gadis itu melakukan operasi sesar? Operasi melahirkan, mengeluarkan bayi dari perut. Benn sangat yakin dengan jenis operasi untuk luka di perut seperti milik Eril. Salah satu mantan kekasihnya yang janda, memiliki bekas luka operasi di perut yang sama persis dengan milik Eril. Operasi sesar kehamilan.


Sedang untuk operasi usus buntu, Benn juga paham bahwa letaknya juga tidak di sana. Sahabat erat Benn yang seorang dokter profesional, Daniel, pernah menerangkan padanya, di mana posisi sayatan untuk operasi usus buntu. Ayah Benn pernah akan melakukan operasi itu. Namun tidak jadi dan sembuh sendiri hingga kini.


Jadi kesimpulannya sekarang, Eril sedang berbohong. Gadis itu sedang menyembunyikan dan menutupi sesuatu darinya. Lalu apa itu? Berani sekali gadis itu tidak jujur padanya..


Benn akan menyimpan kartu identitas itu kembali ke dompet milik Eril. Namun sesuatu memancing keponya. Sebuah kertas terlipat nampak menyembul sebagian keluar dari dompet. Mungkin ikut ketarik saat Benn mengeluarkan kartu KTP Eril tadi dengan cepat. Dan Benn tidak ragu lagi untuk menarik dan mencoba menyimak bunyi isi kertas.


Benn telah selesai menyimak isi lembaran kertas itu. Matanya sedang menyipit dan memicing menatap pintu kamar mandi, sambil melipat kertas yang dipegang menjadi sekecil semula. Menyimpan di saku kemeja, tidak berniat mengembalikan lagi ke dompet. Dan dompet itu kembali disimpan semula ke dalam tas bersama kartu identitas di dalamnya.


Benn naik ke pembaringan dan tengkurap di sana. Kepala dia tolehkan menghadap ke arah kamar mandi yang sebenarnya tidak nampak.


Dan pura-pura memejam mata saat terlihat kelebat Eril. Perempuan itu mendekati ranjang dan berdiri diam mengamati. Benn terus acuh meski tahu apa yang sedang dicari oleh Eril.

__ADS_1


Merasa pencariannya sia-sia, Eril menjauhi ranjang dan melangkah menuju sofa. Duduk diam dengan resah. Rasanya sangat ingin pulang sekarang saja..


__ADS_2