
Adzan subuh nyaring berkumandang hampir berbarengan dengan bunyi alarm dari ponsel pemilik kamar. Lelaki mantan pasien dis ereksi yang telah sembuh dan kembali sebagai lelaki sejati semula itu selalu berteman wanita saat tidur, yaitu istrinya sendiri.
Tidak hanya sekedar berteman, tetapi selalu saling berpeluk di sepanjang malam mesranya. Mereka ibarat pengantin baru yang sedang sangat sayang-sayangnya serta saling mabuk kepayang.
Keduanya bersama menunaikan hutang subuh dalam waktu yang sama namun dengan tempat yang berbeda. Eril pergi ke mushola dalam rumah tuan Harsa. Benn pergi ke rumah Tuhan di Masjid bersama tuan Harsa.
Eril rebah sejenak sebelum kembali bangun untuk beraktivitas. Biasanya akan ke dapur mememani asisten rumah memasak, atau ikut kedua mertua serta sang suami jogging mengelilingi jalan di sekitar hotel dan resto Irawan.
Mata Eril hampir terpejam saat Benn baru kembali dari masjid. Lelaki itu cepat-cepat naik ke tempat tidur menyusul tanpa melepas sarung dan koko yang dipakai. Benn telah memeluk erat tubuh istri dengan tangan dan kakinya.
Sudah bisa diduga, tangan itu tidak terus memeluk. Namun berlanjut dengan gerak aktif menggerayang. Eril kembali terjaga sempurna sebab mulai merasa panas dingin di mana-mana. Padahal tangan Benn yang besar itu hanya memutar di seputar dada saja. Namun getar geli telah menyebar cepat ke seluruh tubuhnya.
"Aaargghh..Benn,,, nantih,,,kitah,, akan keh rumah korban tabrakanh ituh,,kaaaaan..?" Eril bertanya dengan engah sebab rasa panas dingin yang dahsyat.
"Iyaaa... Ini buat persiapan, Ril. Agar kita lebih tenang saat menjumpai korban itu..." jawab Benn sambil tangannya terus beraksi.
Eril tidak lagi bertanya. Lebih memilih untuk hanyut menikmati cumbu panas sang suami di pagi hari yang mulai bermentari.
πΆπΆπΆ
Negosiasi bersama lelaki korban tabrakan beruntun itu tetap saja tanpa hasil. Benn begitu lelah merayu, mengimingi dan membujuk. Begitu juga dengan Eril, bujukan lembutnya pun tidak memberi efek yang berguna bagi kedatangan mereka bertiga. Ya, ada Evan yang turut bersama kedua orang tua.
"Pak,,, bapak benar-benar nggak bisa ngasih maaf pada kami ya...?"
Eril kembali memastikan dengan lembut pada lelaki yang masih diperban kakinya.
"Saya sudah memaafkan. Tapi saya ingin siapapun yang bersalah, harus menanggung akibatnya dengan benar. Tidak mengandalkan jalan pintas," jawab tegas lelaki itu.
__ADS_1
Pak Toyib, nama korban Lelaki itu, mendapat luka cukup serius dengan luka gores dan kelupas yang tidak juga kunjung sembuh. Benn curiga jika luka yang lama tidak kering di kaki lelaki itu bukan hanya sebab parah. Tapi bisa jadi ada indikasi ke arah penyakit diabetes.
"Bagaimana, obat yang kuminum sepertinya sudah bekerja. Mataku ngantuk dan kepalaku sangat sakit," ucap pak Toyib. Ini adalah pengusiran halus untuk Benn sekeluarga agar segera berhambus dari rumahnya.
"Baiklah, pak. Kami akan pamit pulang. Saya harap bapak memikir ulang permohonan saya ini. Saya akan datang kembali tanpa bosan, pak," ucap Benn dengan sopan. Merasa begitu lelah namun harus tetap berusaha dan punya harapan.
" Betul, pak. Kami tidak akan putus asa. Kami akan datang kembali. Terimakasih atas kesediaan bapak menemui kami kali ini." Eril berusaha mendukung ucapan suaminya.
Lelaki itu hanya memandang datar pada mereka bertiga bergantian. Tidak ada ekspresi bimbang sama sekali. Begitu kukuh mempertahankan prinsip dan harga dirinya.
Benn tetap berjalan tegap sambil memeluk Evan dalam dekapan. Tidak terlihat jika lelaki itu sedang lunglai yang mendalam. Bayang tinggal di balik jeruji besi yang dingin mulai membayang di mata.
"Benn, semangat ya...Dia kan cuma satu kepala, cuma minoritas, Benn. Sedang kamu kan sudah membereskan segalanya. Mulai dari cidera hingga korban harta benta. Kamu kan sudah ngasih ganti rugi berlipat-lipat. Meski disidang pun, kurasa, kamulah yang menang, Benn." Eril meluahkan rasionya.
"Iya juga, Ril. Tapi benar-benar membuang masa saja pake sidang." Benn beralasan.
"Itu memang juga pilihan yang memudahkan, Ril. Kupikir akan sangat mudah jika pak Toyib sudi berbesar hati. Tapi ternyata hatinya sungguh keras," ucap Benn terdengar setengah mengumpat.
"Sabar, Benn. Seribu hal ajaib bisa saja terjadi tiba-tiba," ucap Eril menghibur
"Iya, sayangku,," ucap Benn.
Lelaki itu tersenyum menggoda tiba-tiba. Eril sangat terkejut mendengarnya. Merasa geli dan teruja dengan sebutan sayang dari Benn. Eril tersipu dengan wajah pias kemerahan. Dan Benn sangat terhibur karenanya.
"Eril,,??!!" sebuah seru panggilan terdengar dari arah jalan di luar. Benn sekeluarga masih berada di dalam pagar rumah pak Toyib.
"Teh Sulis,,??!!" balas Eril setelah menjumpai siapa yang baru saja memanggil dirinya.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu jika aku pindah ke sini, Ril,,? Teteh kangen banget sama kamu dan Evan,,!!" teh sulis begitu bersemangat setelah benar-benar berhadapan dekat dengan Eril. Raut gembira dan tidak menyangka bertemu begitu jelas terbaca di wajahnya.
"Teh, aku justru tidak tahu jika teteh pindah. Ini aku baru tahu jika teteh pindah dari rumah kita. Teteh tinggal di sini,,?" tanya Eril dengan sangat bahagia. Merasa putus asa telah kehilangan jejak teh Sulis selama ini.
"Iya, Ril. Teteh pindah ke sini. Alhamdulillah, bisnis dapur online yang kamu wariskan pada teteh sangat berkah dan berkembang. Juga uang darimu dulu itu, teteh buat tambah modal. Tidak menyangka orderan kian lancar, Ril. Teteh nekat pindah sebab bocor di dapur itu kian parah. Dan ponsel teteh yang lama rusak. Nomormu di ponsel ikut hilang. Maaf ya, Ril,," wajah teh Sulis nampak sedih sesaat.
Namun teraenyum lagi dan menoleh pada Evan. Anak momongan yang sangat dirindukan. Makhlum, teh Sulis belum juga punya anak.
Dan dalam sekejap, setelah berbasa basi seperlunya dengan Benn, Evan telah nyaman memeluk di gendongnya.
"Eh, teh. Ini rumah teteh, kan? Lalu, siapa pak Toyib, teh,,?" tanya Eril setelah perasaannya stabil. Sadar ada hal penting yang harus dikoreknya.
"Dia suamiku yang dulu itu, Ril. Kamu belum pernah bertemu, ya. Aku kasian, Ril. Nggak tega. Dia kecelakaan. Istri barunya ninggalin dia. Nggak mau susah-susah ngerawatin. Dia menghubungiku. Sebenarnya sangat sakit, Ril. Tapi ya sudahlah.. Teteh suka nggak tega," teh Sulis bercerita dengan wajah nampak sedih.
Eril mengangguk-angguk sambil pelan menoleh pada Benn. Mereka saling berpandangan dengan wajah sangat cerah. Mungkin jalan terang yang mereka pinta dan harap siang malam selama ini telah mulai ditunjukkan. Dan teh Sulislah kemungkinan jalan terang yang datang menghampiri tiba-tiba.
Wajah Benn yang mulanya agak bermuram durja, kini telah bermaya dan kembali mencerah. Cercah harap itu kembali menggunung di dadanya.
Menoleh pada Eril yang masih memandang bersemangat padanya. Keduanya saling melempar senyum dan mengangguk bersamaan. Isi dalam dua kepala itu nampaknya sedang sama.
Akan melobi teh Sulis untuk mendekati suaminya. Merasa yakin jika kelemahan pak Toyib hanya ada pada teh Sulis seorang..!
πΆπΆπΆπΆ
πΆπΆπΆπΆ
Put ur monday vote here, please...π
__ADS_1