
Bukan tidak ingat jika lelaki yang akan dijumpai sangat gemar pada tampilan polos, tapi Ibu muda itu tidak peduli. Memilih berhias maksimal dan berpenampilan semenarik mungkin,,,menurutnya..
Hanya ingin menjadi diri sendiri dan merasa nyaman jika nampak cantik saat bepergian. Lagipula, masa seleksi dan interview konyol itu telah lama berlalu dan tidak lagi berlaku.
Bocah kecil lelaki yang tampan berkulit putih, juga kian menggemaskan dengan set baju berkarakter serba kura-kura. Dari topi, baju, celana, kaus kaki dan sepatu, semua tertempel tiruan kura-kura.
"Anak hebat mama, udah ganteeeng. Yuk kita jalan-jalan ya, Evaaan,," ucap Eril sambil memakaikan sepatu yang terakhir.
"Holleee,, Epan cuka maaaa... Cama om Opan, maaa,,," sambut Evan dengan sangat bersemangat.
"Tidak, Evaaan... Kita tidak akan jalan-jalan dengan om Jovan, tapi kita akan pergi menemui om Benn,," terang Eril dengan sabar pada balitanya.
"Om Peeenn,,," respon Evan pada penjelasan ibunya. Eril tersenyum mengangguk.
"Iya Evaaan, nanti kalo udah ketemu sama om Benn, jangan nakal yaa,,,harus duduk yang tenang dan manis,," pesan Eril dengan lembut tapi tegas pada Evan. Balita itu tidak mengangguk atau menjawab, hanya memandang ibunya seksama. Seperti sedang merasa sesuatu dan akan dikatakannya.
🍄🍄🍄
CEO tampan yang baru melepas status lajang tapi sedang berpisah dengan sang istri, sangat nampak gelisahnya. Orang yang disuruh datang hari ini dan diharap akan datang pagi-pagi, tak juga kunjung tiba. Bahkan hingga tengah hari dan kini sudah hampir sore hari. Tak juga nampak sebelah pun kakinya.
Merasa kesal sebab seseorang yang tak kunjung datang itu telah mengacau fokus kerjanya. Sangat kesal sebab seseorang yang ditunggu itu tak jelas dan tidak memberi kabar kapan datangnya.
Meski rasa penasaran sudah setinggi mount everest, boss muda dan tampan itu lebih memilih memendam rasa kesal daripada bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan.
🍄🍄🍄
Tok...Tok...Tok...Tok...!
Asisten Lucky yang menyambut kedatangan Ibu dan anak saat sampai di teras gedung utama, segera membawa mereka menuju lift ke lantai tiga.
Dan di sanalah mereka sekarang. Menunggu sahutan boss besar dari ruangannya di balik pintu. Asluk telah mengetuk daun pintu beberapa detik yang lalu.
Tangan Ibu muda itu sedang menggenggam dan melepas berulangkali tangan anak balitanya demi menghempas degub debar di dadanya.
__ADS_1
"Masuk,,!!" sahut sepatah kata sangat keras terdengar.
Perempuan yang nampak lebih cantik dari minggu lalu itu menghirup nafas panjang demi membuang rasa tegang. Kejujuran yang akan dibentangkan pada lelaki di dalam, telah membuat kepalanya agak pening.
Eril menggenggam erat telapak tangan Evan dan berjalan sopan melewati asisten Lucky yang sedang menahan daun pintu untuknya.
"Terimakasih, pak Lucky,," ucap Eril sebelum asluk benar-benar menutup rapat pintu kembali.
Eril memasuki ruangan yang minggu-minggu lalu pernah didatanginya. Mendekati meja yang sedang kosong tak ada orangnya. Ke mana, Benn,,?
"Ehemm" suara dehem keras dari belakang, membuat Eril kian berdebar terkejut.
Eril berbalik badan, orang yang sedang dicari baru keluar dari ruang kamar mandi sedang tajam melihatnya.
"Assalamu'alaikum, Benn,," sambut Eril. Benn telah melewatinya dan kini duduk tegak di kursi kerjanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Benn tanpa memandang Eril yang masih berdiri. Lelaki itu nampak acuh memperhatikan layar ponsel.
Namun keacuhan Benn sangat tidak bermakna bagi Eril. Terlipur dari jawab salamnya yang benar-benar tak disangka.
Sebab kasihan pada Evan yang juga ikut berdiri sepertinya. Dan diam-diam merasa heran, Benn nampak tidak peduli dengan adanya Evan bersamanya.
"Heemm,," sahut Benn tanda mengiyakan. Nampak abai dan acuh. Rasa resah dan gelisah saat menunggu datang perempuan di depannya itu telah dihapus tak terendus.
"Beeenn,," panggil lembut Eril setelah meletak Evan duduk manis di kursi sebelahnya.
Lelaki itu hanya menggerakkan alisnya ke atas tanpa memandang Eril sedikit pun.Dan Eril tidak jadi meminta agar Evan menyalam tangan pada Benn.
"Benn, aku akan mengatakan sesuatu padamu. Kuharap kamu mendengar penjelasanku dengan kepala dinginmu. Sebenarnya aku pun sangat takut mengatakan hal ini padamu. Tapi setelah selama ini aku menutupi darimu, aku justru merasa tak berdaya dan seperti kehilangan seluruh semangatku," ucap Eril sambil memandang Benn yang terus acuh lekat-lekat.
"Benn, aku akan jujur padamu. Sebenarnya Evan ini adalah anakku. Darah dagingku sendiri. Maaf, mungkin aku memang tidak jujur denganmu. Tapi aku tidak berniat menipumu. Statusku di seluruh dokumen memang selalu gadis. Tapi itu sama sekali bukan rekayasaku, Ben," Eril berhenti menjelaskan.
Ingin mendapat respon Benn atas ungkapan jujur yang susah payah dikatakannya. Merasa agak kesal. Benn seperti tidak menyimak. Lelaki itu nampak terus sibuk dengan layar ponselnya saja.
__ADS_1
"Kenapa statusmu di seluruh dokumen bisa gadis,?" Benn bertanya tiba-tiba. Pertanyaan lelaki itu membuat Eril kembali bersemangat. Ternyata diam-diam Benn juga menyimak keterus terangannya.
Eril terdiam dan berfikir sesaat. Ini adalah bagian cukup berat yang harus dikatakan juga pada Benn. Merasa pasrah dengan apa pun penilaian lelaki itu nanti padanya.
"Sebab,,,sebab Evan belum pernah punya ayah," jawab Eril cepat-cepat. Seperti ingin menghempas seluruh beban hatinya segera.
"Pacarmu lari?" tanya Benn menyerobot.
"Bukan pacarku yang lari,Benn. Tapi,,," sahut Eril cepat dan menggantung. Merasa senang, Benn meresponnya dengan santai. Lelaki itu terlihat tidak marah.
"Kau dihamili suami orang?" Benn kembali memvonis sesukanya.
Kali ini ponsel tidak lagi dipegang. Tapi telah diletak dan berganti memandang tajam wajah Eril.
"Kau ini,, Benn. Dengar dulu dengan baik," protes Eril dengan pandangan lekat pada Benn. Lelaki itu nampak menggerakkan dagu dan alis bersamaan. Tanda agar Eril melanjutkan bicaranya.
"Aku kurang kesadaran saat melakukannya. Mungkin aku juga sedang dipaksa oleh lelaki yang tak kukenal," terang Eril dengan lirih.
"Kau diperkosa,? Kau tidak lapor polisi?" tanya Benn cepat dengan lirih.
"Mungkin juga,, seperti itu,,, Benn,," jawab Eril tersendat. Perempuan itu seperti sedang akan menangis. Tapi terlihat berusaha ditahan.
"Mungkin,,??" ulang Benn tak paham. Dan Eril mengangguk.
"Aku merasa kurang sadar. Awalnya aku melawan, tapi kemudian,,mungkin aku tidak melawan lagi. Seperti,,,seperti saat kau berusaha menyentuhku, Benn. Lama-lama aku diam. Bagaimana aku lapor polisi,? Lagipula, bukti apa yang harus kuberi pada polisi? Waktu itu aku tidak ingin berbelit. Tidak menyangka yang akhirnya ada Evan," terang Eril dengan sesekali menunduk.
Dan kini telah benar-benar menunduk. Ibu muda itu sedang menumpahkan air mata yang kemudian buru-buru diusapnya.
"Mamaaaa,," tiba-tiba balita yang terus duduk di samping meraih tangannya dan sangat erat memegangi. Balita itu merasa bingung melihat ibunya menangis. Eril hanya mengusap-ngusap rambut di kepala bocah itu untuk menenangkan.
"Bagaimana kau bisa kurang sadar?" tanya Benn kembali. Berusaha abai dengan pemandangan haru ibu dan anak di depannya.
"Aku diajak atasanku di tempat kerja untuk menyambut tamu kerja kami. Dan aku tidak paham, apa saja yang telah kuminum saat itu, Benn," terang Eril dengan lirih.
__ADS_1
Benn memicing memandang Eril yang kembali menunduk. Lalu menarik sebuah laci di mejanya. Mengeluarkan selembar kertas yang terlipat. Dan disodorkannya kertas terlipat itu pada Eril.
"Milikmu,," ucap Benn dengan lirih. Mengamati Eril yang menerima kertas itu dengan wajah terheran. Wajah itu nampak terkejut dan berubah pias saat mengenali kertas yang diberikan oleh Benn.