
Dua lelaki yang sama-sama sudah menyandang status sebagai seorang suami, tengah memandang dua orang wanita cantik yang sedang berjalan bergandengan. Yang satu berkerudung dengan perut membesar dan cantik. Yang satu tanpa kerudung nampak langsing dan mempesona.
Dua orang suami itu memandang dua wanita yang berjalan mendekat dengan ekspresi berbeda. Leehans dengan raut muka heran dan terkejut. Benn dengan ekspresi wajah heran seperlunya.
"Hei, okusan, bukankah ini Ajeng,?!" tanya Leehans berseru saat mereka sudah hampir berdekatan. Tidak habis pikir bagaimana istrinya bisa bertemu sahabatnya di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Yang tadi menuju toilet seorang diri, kini datang dengan membawa sahabat yang dirindukan.
Desta dan Ajeng sama-sama mengangguk yang kemudian tersenyum. Mata mereka terlihat masih basah. Gandeng tangan keduanya tidak juga terlepas. Hanya tangan sebelah Ajeng yang kemudian menyambut ulur salam dari Leehans.
"Eril, kau bertemu Desta di toilet,?!" tegur Benn juga merasa terheran.
Mendengar Benn bertanya pada Ajeng dengan menyebut nama lain, Desta seketika menoleh ke samping. Wajah cantik itu juga menolehnya. Mereka saling berpandangan dan kembali tersenyum dengan perasaan berlainan.
"Ajeng, nama kamu,,, Kalian sudah saling kenal,, namamu Eril,,?" Desta terheran-heran dengan memandang Benn dan Eril bergantian. Ada hal terlintas di kepalanya. Tapi merasa itu tidak mungkin.
"Tebaklah, bagaimana hubungan kami,!" seru Benn memandang Desta dan Leehans bergantian. Terakhir memandang sang istri dengan tatapan mesranya.
Kini Desta dan Leehans juga saling berpandangan. Keduanya seperti sedang berfikir hal yang sama. Dan keduanya tersenyum sambil berkerut dahi bersamaan.
"Benn,,! Ajeng,,! Jangan-jangan kalian... Benn, apa Ajeng istrimu,,??!" tanya Desta dengan wajah tak percayanya.
Benn dan Eril sama-sama terdiam, mereka saling pandang. Wajah Eril nampak tegang dan memerah. Tapi tidak dengan Benn, dengan santai dan tersenyum mendekati Eril yang lalu dirangkulnya. Desta melepas pegangan tangannya pada Eril cepat-cepat. Bergeser ke samping manjauh sedikit. Leehans dengan sigap juga mendekati sang istri. Dua pasang insan itu saling berpandangan cukup lama.
"Ja,,jadi, waktu itu, kamu menikahi Ajeng, Benn? Kenapa tidak bilang jika nama istrimu adalah Ajeng,?" Desta kembali bertanya dengan heran.
"Ya memang namanya, Eril. Mana aku tahu nama beken Eril adalah Ajeng,,?!" protes Benn pada Desta. Lalu di tolehnya Eril yang terlihat sendu tanpa senyum. Benn paham, mungkin ada sesuatu yang sedang Eril rasakan.
"Eh, sudahi interviewmu padaku dan Eril, Des. Ayo kita pulang dulu. Paman dan bibi kalian menunggu di rumah." Benn menengahi dan memandang Desta serta Leehans bermaksud mengajak. Pasangan serasi itupun juga paham dan mengangguk. Leehans sedang memegangi koper mininya untuk bersiap hengkang kaki dari area bandara segera.
🌶🌶🌶
Meski belum terlalu siang, nyonya rumah dan menantu kesayangan sudah siap dengan berbagai menu lunch di meja makan. Sang mertua diam-diam sangat salut dengan kecepatan menantunya saat memasak. Sangat bisa diandalkan. Amat sesuai jika Eril memang memiliki lapak dapur pribadi di online waktu itu.
__ADS_1
Desta adalah orang terakhir yang datang ke meja makan bersama Evan di gendongan. Meski sedang hamil, menggendong bukan masalah baginya. Ibu muda itu telah sangat berpengalaman dan profesional dalam pengasuhan bayi dan balita.
Kini Evan telah duduk di bangku khusus miliknya di samping sang oma.
Sebab meja makan cukup ramai, tuan Harsa yang belum pergi bekerja ke hotel demi menunggu kedatangan Leehans dan istri, telah memimpin doa sebelum makan bersama. Mereka berdoa dan mengaminkan dengan khidmat.
Makan siang berlangsung santai dan lambat. Sebab mereka sambil saling mengobrol dan bertanya. Terutama tentang perjumpaan Eril dan Desta yang unik tak disangka.
"Coba namamu tetap Ajeng, Ril. Sesibuk apapun suamiku, akan kupaksa datang menemaniku ke pernikahanmu dengan Benn waktu itu," sesal Desta. Memperhatikan wajah Eril yang nampak muram tiba-tiba.
"Eril kan juga bagian dari namaku, Des,," protes Eril.
"Ya, iya,,, tapi kan nggak nyangka. Mana aku sama suamiku kepikiran kalo Eril adalah kamu. Kalian nggak saling kenal sebelumnya. Antara Jakarta- Surabaya, jauuuh. Ah, siapa juga yang nyangka kalian akan berjodoh," Desta masih juga menumpah kejut hatinya.
"Bibimu sama pamanmu juga nggak nyangka, Benn akan memilih Eril. Yang ternyata anak yayasan kamu, Hans,,," mama Dhona menimpali sambil memandang pada Leehans. Yang dipandang angguk-angguk sambil mengunyah.
"Memilih,,??" Desta mengulang ucapan bibinya.
"Iya, Eril yang dipilih Benn dari ratusan pelamar yang masuk pada abang sepupu kamu itu, Desta,," terang mama Dhona dengan santainya.
Benn segera mengulur air putih dan menepuk-nepuk lembut punggungnya. Merasa bersalah sebab tidak pernah membicarakan tentang mufakat tutup mulut dengan sang mama. Dan Benn sambil berfikir keras bagaimana mengalihkan pembicaraan.
"Eril, kamu baik-baik saja,?" Desta nampak tegang dan serba salah. Juga merasa senang, Benn nampak perhatian pada sahabat tersayangnya.
"Iya, Des. Hanya tersedak kecil. Sudah nggak papa, kok," kata Eril memandang Desta dan juga pada Evan. Balitanya juga nampak tegang memandang. Eril memberi senyuman agar Evan merasa bertenang.
"Ril, aku ingin tanya. Jujur aku kian tidak paham dengan pernikahan kalian yang tiba-tiba ini. Apa ada sesuatu yang bisa kamu ceritakan padaku? Kita masih sahabat dan saudara kan, Ajeng?" tanya Desta mendesak.
Merasa janggal dengan pernikahan Benn yang mendadak. Terlebih dengan omongan sang bibi, ibunya Benn barusan. Desta bisa saja meminta bibi Donha menjelaskan. Tapi tentu saja tidak ingin mengkhianati Eril dan melewatinya. Sangat ingin jika sahabatnya saja yang sudi bercerita.
"Desta, aku akan ceritakan semua yang ingin kamu tahu. Kamu adalah sahabatku yang baik dan tulus padaku."
__ADS_1
Eril tiba-tiba berbicara dan memandang lurus-lurus pada Desta. Bercerita kenapa namanya berubah jadi Eril, lalu alasan nekat pergi ke Jakarta. Yang kemudian terkena musibah dan kemudian membaca iklan yang dipasang Benn. Hinggalah sekarang ini.
Eril merasa pasrah. Menghempas rasa malunya. Merasa tidak adil jika menutupi dari Desta. Sahabat yang ketulusannya tidak pernah habis hingga kapan pun.
"Ja,,jadi, kalian ini,,?Ah, Ajeng, Hik..hik..hik.." respon Desta. Tidak bisa menyembunyikan tangisan yang keluar begitu saja. Merasa iba dengan nasib sahabatnya. Leehans menenangkan sang istri dengan menepuk-nepuk lembut punggungnya.
Begitu juga dengan Benn, tengah sibuk menenangkan Eril yang juga tak bisa menahan sedu sedan tangisnya. Dua perempuan cantik bersahabat itu tengah menangis dengan dihibur suaminya masing-masing.
Mama Donha juga sibuk mengalihkan perhatian Evan dengan aneka makanan di pring. Tuan Harsa pun pura-pura sibuk dengan aneka sajian di meja. Merasa tidak perlu ikut campur pada keluarga anak-anaknya. Mereka telah dewasa dan pintar. Terutama pada putra tunggalnya, Benn. Tuan Harsa mencoba percaya pada anak lelakinya yang memang sempat sangat badung..
🌶🌶🌶
Sesi sedu sedan di ruang makan berakhir. Bergeser ke teras mengikuti Evan yang terus berjalan. Namun tanpa tuan Harsa, sebab kehadirannya sedang sangat ditunggu di hotel.
"Jadi, hanya dua malam saja kalian di Jakarta,?" tanya ibunya Benn memandang Leehans dan Desta bergantian.
"Iya, maafkan kami, bi. Mungkin lain kali akan kami perpanjang dengan membawa anak-anak kami yang lain," terang Leehans pada ibunya Benn. Sambil melirik perut Desta dan berisi anaknya yang ke-tiga. Leehans tersenyum bahagia.
"Betul, ya Hans. Bibi akan sangat suka jika kalian membawa semua anak-anak. Akan lebih ramai dan bisa jadi teman Evan. Mereka hampir seusia kan?" mama Dhona tersenyum pada Leehans dan melirik Benn. Berharap anak lelaki segera sehat dan memberinya banyak cucu.
Leehans pun mengangguk dan ikut menoleh Benn, yang juga sedang memandangnya dan Desta. Tatapan Benn nampak sayu dan galau. Beberapa kali Leehans memergoki cara pandang Benn seperti itu.
Eril dan Desta tiba-tiba duduk mendekat dan mereka nampak bergerombol. Leehans memperhatikan seksama tangan Eril. Benar dugaannya, Eril tidak memakai cincin seperti yang dipakai istrinya. Sedang Desta berkata jika Eril juga memiliki cincin yang serupa.
"Eril, kamu tidak memakai cincin kawinmu? Atau cincinmu yang kembar dengan punya Desta? Apa suami enam bulanmu ini tidak membahagiankanmu,?" tanya Leehans tiba-tiba pada Eril. Semua mata ikut memandangnya.
"Jaga mulutmu, Hans. Aku dah beri istriku cincin berlian saat aku menikahinya. Tapi dia tak pernah mau memakainya. Dia bilang takut hilang. Padahal aku bisa membelikannya lagi jika hilang," sungut Benn sambil menyepak kaki Leehans. Eril hanya diam dan menunduk.
"Lalu cincin yang sama dengan punya Desta, kenapa tidak kamu pakai, Ril? Lihatlah, Desta bahkan masih memakainya,," kali ini Benn yang bertanya. Eril mendongak, memandang Benn sekilas. Lalu memandang cincin milik Desta.
"Maaf ya, Desta. Cincin yang kamu beri di ultahku itu sudah hilang. Aku tidak sadar, tahu-tahu tidak ada. Tidak apa-apa, kan?" Eril sendu memandang sahabatnya. Desta menggeleng dan cepat memeluknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ril. Aku janji akan menggantinya. Akun kupesan lagi cincin yang persis punyamu yang hilang. Akan kuberi lagi untukmu. Jangan sedih," ucap Desta sambil masih memeluk renggang. Perut di bawah sana sudah terasa mengganjal.
Benn memandangi kedua wanita berpelukan itu dengan rasa yang iba.