Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
24. Nikah Lalu Pulang


__ADS_3

Acara ijab kabul telah selesai digelar dengan hanya sederhana di aula hotel orang tuanya. Bahkan acara keluarga itu terkesan dilakukan tertutup. Hanya beberapa karyawan hotel dan resto Irawan's Family saja yang diminta datang sebagai saksi nikah sah ijab kabul. Dan semua itu atas keinginan dan permintaan Benn belaka saja.


Kedua orang tua yang sangat ingin menggelar pesta nikah besar-besaran, dijanjikan serta diyakinkan untuk mengadakan hal seperti itu, kelak saja jika dirinya sudah sembuh dan kembali menjadi lelaki seutuhnya.


Kedua orang tua yang begitu sayang dengan putra tunggal dan satu-satunya anak yang dimiliki, tentu saja menuruti. Merasa sedang bersedih dan sangat khawatir akan sakit yang sedang diderita anak tersayangnya. Tidak ingin semakin menambah beban yang dipikir sang putra. Hanya menuruti dan berharap bahwa sang putra akan mendapat bahagia pada akhirnya.


🍟🍟🍟


Aula yang luas itu telah sepi dan tinggal beberapa orang karyawan hotel yang sedang kemas-kemas. Tuan Harsa dan istrinya sedang mendekati Benn dan Eril. Sepertinya mereka akan pergi keluar juga dari aula.


"Benn, papa dan mamamu akan pulang ke rumah. Ajaklah istrimu untuk singgah," kata ayahnya Benn. Tersenyum sebentar pada menantunya. Menantu baru yang terlihat cantik dan anggun dengan kebaya putih mahalnya.


"Nantilah, pa. Aku mau ngamar dulu. Pengantin baru.. Mana kunci kamarnya, pa. Mama dah siapin kan?"


Pengantin lelaki itu begitu santai bertanya. Seolah dirinya sedang baik-baik saja. Sebagaimana pengantin baru yang mendambakan privacy time setelah akad nikah terlaksana.


"Sudah, Benn. Sebentar lagi mereka akan menyerahkan kunci padamu. Eril, mama harap kamu bisa sabar terus menghadapi Benn, ya,," mama Donha menyapa Eril sebelum menyusul sang suami.


Eril yang sedang resah hanya mengangguk dan tersenyum sopan pada ibunya Benn. Pengantin baru itu sedang tidak tenang sebab percakapan Benn dengan orang tuanya yang terdengar barusan.


"Ya sudah, kalian istirahat saja di kamar. Benn, itu kuncinya sudah datang,,!" seru mama Donha sambil menunjuk seorang pegawai hotel yang berjalan mendekati mereka.


"Ini kuncinya, mas. Selamat menempuh hidup baru ya, mas Benn. Semoga malam ini berjalan gemilang,," ucap pegawai hotel itu dengan tersenyum.


"Thanks, Ris.. Tapi lambat sangat kau antar kunci ini,," ucap Benn sambil tersenyum-senyum dan mengangkat alisnya pada Haris, nama pegawai manager hotel itu. Rupanya mereka sudah kenal cukup baik dan nampak seumuran.

__ADS_1


"Sudah nggak sabar ya, mas. Mas Benn, pinter banget milih istri. Suit,,suiit,," ucap Haris sambil melirik Eril sekilas. Perempuan yang dilirik tengah memandang sang suami dengan resah.


"Sudah, Ris. Urus saja pengunjungmu.. Bisa ngiler kau lihat-lihat istriku," tukas Benn pura-pura menjeling tajam pada Haris.


"Pahamlah, mas Benn. Aku pun ingin cepat-cepat punya yang halal jugaaa,," ucap Haris tersenyum.


"Cari, Ris,,,! Jangan ingin cepat tapi tanpa usaha,,!" seru Benn tersenyum. Haris nampak beranjak menjauh.


"Iya, mas Beeen..Cepat juga tu masuk kamar! Lama-lama kunci itu nanti karatan,,!" balas seru Haris.


Petinggi hotel itu berjalan tegap mendekati pintu aula. Sambil terus tersenyum. Benn, putra pemilik hotel yang dulu suka bermain wanita , tiba-tiba jadi jomblo. Lalu muncul rumor jika Benn berubah fantasy menjadi penyuka sesama jenis. Dan kini, penerus tahta orang tua itu tiba-tiba menikah dengan gadis pilihannya. Kapan mereka menjalin kasih? Haris merasa terheran tak habis pikir dengan kehidupan Benn.


🌶


Pengantin perempuan dengan balutan kebaya modern yang membentuk lekuk tubuh berisinya, terpaksa terdiam. Membiarkan dan menurut saat Benn menarik tangannya keluar dari aula. Sebab banyak pegawai hotel yang masih berlalu lalang di lorong dan aula. Tak ingin membuat mereka curiga dan bertanya jika Eril menolaknya.


"Benn, lepaskan... Kita mau ke mana? Jangan bawa aku masuk, aku tidak mau menginap di sini,," ucap Eril tegas. Ada tulisan happy wedding di pintu itu.


"Hei,, tenanglah, Ril.. Mama telah repot-repot menyiapkan kamar ini. Rugi jika tidak kita nikmati, kan?" bujuk Benn dengan santai. Ingin menenangkan Eril yang berusaha menarik lengannya dari pegangan Benn.


"Aku ingin pulang saja, Benn. Kau sudah setuju saat aku minta pulang kemarin, kan?" tanya Eril mengingatkan. Merasa kian was-was, Benn sedang membuka pintu kamar.


"Ya ini..kita sedang pulang, Ril,," sahut Benn dengan tenang. Mulai menarik Eril masuk ke dalam kamar pengantin.


"Aku ingin pulang ke rumahku,,!" seru Eril mulai nampak panik dan takut. Benn begitu kuat menarik. Tenaganya selalu terbuang sia-sia. Dan Benn telah mengunci pintu kamar kembali.

__ADS_1


"Benn,,," panggil Eril terdengar tak bersemangat. Ada nada putus asa di suaranya kali ini.


"Apa, Ril,,?" tanyan Benn. Tangannya kembali menarik tangan Eril menuju ke dalam jantung kamar.


"Benn,, katamu aku boleh pulang kemarin, kaann,,?" tanya Eril dengan lembut. Berharap sedikit saja keluluhan hati Benn.


"Eh, Eril... Bukalah mata dan hatimu. Kita ini baru saja habis menikah. Dan sekarang aku sudah jadi suamimu. Di jakarta ini kau tidak ada keluarga. Hanya aku yang ada. Lagipula siapa yang akan kau tuju jika kau pulang. Itu kan hanya rumah kontrakanmu saja, Ril," terang Benn dengan perlahan.


"Aku sangat rindu pulang ke rumah itu,," terang Eril dengan nada mengharap. Benn menarik tangannya semakin mendekat.


"Eril, meski pernikahan kita tidak normal, tapi aku telah bertanggung jawab atas dirimu lahir batin. Kau paham kan,?" tanya Benn dengan lembut.


Matanya menatap lekat-lekat pada Eril. Dan Eril akhirnya mengangguk berdamai. Ada sentuh haru akan ucapan Benn padanya. Apa Benn sungguh-sungguh..?


"Jadi kau ini jangan berfikir untuk pulang ke mana-mana lagi, Ril. Pulangmu itu ya padaku, pulang denganku dan pulang ke rumahku.. Paham,,?" tanya Benn di akhir penjelasannya.


Perempuan berkebaya mewah yang cantik hanya termangu memandang lelaki yang berbicara padanya. Penjelasan terakhir lelaki itu tidak menenangkannya sama sekali. Justru telah menebalkan rasa cemas, resah dan takut. Begitu takut andai benar bahwa Benn tidak akan membiarkannya pulang sama sekali.


Sedang dadanya telah begitu sesak. Menahan sebak rindu pada buah hati yang sedang ingin di peluknya. Ingin memeluk dan menciuminya. Menggendong dan bernyanyi, serta mengajak berbicara Evan si buah hati tercintanya. Juga memandikan, memakaikan baju dan menyuapi.


Dan telah lebih dari dua puluh empat jam hal itu tidak bisa dilakukannya. Rasanya sangat sakit, tiada daya dan merasa bersalah.


Harusnya Evan ke mana-mana ikut dengannya. Harusnya Evan selalu diajaknya bersama ke mana pun. Harusnya seluruh dunia tahu bahwa balita itu adalah miliknya, anaknya. Apa yang ditakutkan? Uang? Ah, ibu macam apa dirinya... Bagaiman jika terjadi apa-apa pada Evan dan dirinya tidak tahu?


Jika terjadi hal buruk pada Evan, sedang dirinya sebagai ibu tidak tahu,,, tidak ada dan tidak melakukan apa pun,,,, maka segala pengorbanan yang diusahakan selama ini rasanya sia-sia. Eril akan menyesal, akan merasa sebagai ibu yang paling buruk di seluruh muka bumi..!

__ADS_1


Oh, anak... Eril tersedu-sedu menangis..


__ADS_2