
Benn membawa Eril dengan mobil sedan hitamnya meluncur meninggalkan rumah orang tua. Untuk makan malam, serta bertemu rekan bisnis di resto Irawan, milik orang tuanya juga.
Eril terdiam selama di perjalanan. Sebab Benn pun juga nampak fokus pada lajur jalan yang ditempuhnya. Merasa segan untuk memulai pembicaraan.
"Ril, kamu ingin menyusul mama dan anakmu ke Villa?" tanya Benn tiba-tiba. Yang ditanya menoleh dengan wajah sangat cerah.
"Kamu akan mengantarkan aku ke sana, Benn?" sambut Eril sangat antusias.
Benn mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan.
"Iya, Benn, bawa aku ke villa keluargamu. Aku ingin menyusul Evan." sambung Eril pada Benn.
"Tapi lepas subuh kita sudah harus turun, Ril. Kerjaanku numpuk," terang Benn memandang Eril sebentar.
"Iya, Benn. Sebentar pun tidak masalah." Eril menanggapi.
Mobil telah membelok memasuki pelataran parkir dari sebuah rumah makan yang malam ini terlihat penuh oleh pengunjung. Dahi Eril berkerut memperhatikan restoran yang pernah dikunjunginya dengan si polisi muda, Jovan. Dan ini adalah rumah makan favorit lelaki itu.
"Merasa sudah pernah pergi ke rumah makan ini,,?" suara Benn terdengar tiba-tiba. Wajah tampan itu sedang tersenyum agak masam.
"Irawan's Family,,?" gumam Eril. Membaca plakat jumbo dari nama rumah makan yang nampak gemerlap saat malam. Dan tidak sempat membaca nama resto ini saat pergi dengan Jovan hari itu.
"Ini milik ayahku, Ril. Sepaket dengan hotelnya sekali. Hanya saja nampak terpisah. Untuk hotel, pelatarannya berada di sisi sebelah sana. Jadi berlawanan dan seperti sendiri-sendiri. Padahal kedua bangunan itu bertemu dan menyatu."
Benn menerangkan pada Eril sambil merapikan tampilan dirinya.
"Kenapa kamu tidak ikut mengurus usaha orang tuamu, Benn,,?" tanya Eril kemudian.
__ADS_1
"Ha..ha..ha.." Benn tidak menjawab tapi justru tertawa.
"Kenapa kamu tertawa, Benn? Apa aku salah nanya seperti itu?" Eril terlihat bingung.
"Tidak, Eril. Hanya kau perlu tahu. Aku ini sebenarnya tidak mampu apa-apa. Seluruh yayasan yang kini aku urus itu, milik siapa kalo bukan orang tuaku? Aku tidak punya apa-apa. Semua masih atas nama orang tua. Aku ini masih makan gaji sebenarnya." terang Benn dengan jiwa besarnya.
"Lalu, yang kamu kejar hingga nekat menikah selama enam bulan denganku itu, dari siapa?" tanya Eril sekedar ingin tahu.
"Itu dari nenekku. Dulu syaratnya aku harus menikah dengan Desta. Tapi ada revisi, asal sudah menikah dan minimal enam bulan," jelas Benn sambil membuka pintu mobil. Lelaki itu sudah berada di luar.
Eril mengikuti Benn memasuki resto Irawan dengan berjalan di belakang. Beberapa pelayan yang melihat kedatangan Benn, langsung mengangguk hormat dan memberi senyum mereka yang termanis.
Benn berhenti melangkah tiba-tiba, berbalik menunggu hingga Eril berhenti di depannya. Menyambar tangannya dan menggandeng untuk berjalan bersama. Dan Eril pun diam saja. Merasa pegangan tangan Benn sangat hangat di pergelangan tangannya.
Menuju sebuah meja di sudut yang sudah ada tiga orang menunggunya. Dua orang lelaki dan satu orang wanita berbadan cukup besar untuk ukuran perempuan.
"Makhlum lah, Dhil. Pengantin baruu.. Satu jam pun berguna.. Kayak kita nggak tahu rasanya saja,,,!" sahut lelaki berkaca mata yang terlihat kaku dan sinis, ternyata humoris.
"Maaf telat bro, gimana,,gimana,,?!" tanya Benn yang merasa salah dengan kelambatannya. Mengabaikan sindir gurau mereka terhadap dirinya. Mereka terlihat sudah akrab.
Dua lelaki itu adalah salah satu dari sekian banyak pemegang saham, donatur, sekaligus penggerak lapangan dari yayasan Lee dan Irawan group. Yang juga berkantor pusat di gedung utama. Sama atap dengan kantor kerja Benn di sana. Mereka menempati perkantoran di lantai satu dan lantai dua. Namun sudah begitu akrab dengan putra tunggal keluarga Irawan, yaitu Benn.
"Mas Benn, perkenalkan istri cantiknya pada kami, dong,," wanita itu berkata dan memandang Eril penuh senyum. Eril membalas dengan manis senyuman ramah dari wanita itu.
"Ya..ya..ya.. Perkenalkan pada kalian, ini istriku. Kalian panggil saja Eril. Ril, kenalkan dirimu pada mereka," kata Benn sambil menepuk pelan punggung Eril.
Dua rekan Benn yang laki-laki itu masing-masing bernama Asep, memakai kaca mata, dan Fadhil, memakai baju koko. Keduanya sudah menikah dan memiliki anak. Usianya hanya sedikit tahun saja di atas Benn.
__ADS_1
"Eril,,," sebut Eril saat bersalaman dengan wanita yang tadi meminta agar Benn mengenalkan dirinya.
"Rika,," sahut wanita berbadan besar dan nampak sangat tegas di bidangnya.
Tatapan Rika seperti mengagumi penampilan Eril. Beberapa kali kedapatan mencuri pandang pada tubuh sintal ibu muda itu. Meski yang dipakai adalah dress yang sopan dan tidak terbuka. Tapi bentuk tubuh Eril yang berisi itu sama sekali tak bisa dimanipulasi. Hal itu sanggup membuat iri sesama wanita. Dan bisa jadi di antaranya adalah Rika..
"Duduklah, Eril,," tegur Benn. Seolah sedang memutus interaksi antara Rika dan Eril. Benn menarik satu kursi di sebelahnya untuk disodorkan lebih dekat pada Eril.
Eril melempar senyum sebentar pada Benn lalu mengangguk dan duduk. Berusaha duduk tenang dan bersiap untuk diam menyimak. Merasa diri hanya sebagai pelengkap. Tidak akan paham dan menyambung pada obrolan bisnis mereka di meja makan.
"Bagaimana, apa sudah ada keputusan dari kalian, dari beberapa skema yang kita bahas di gedung tadi?" tanya Benn dengan nada dan pandangan serius pada ketiga rekan di meja.
"Menurutku,,, bantuan akan langsung kita serahkan pada panitia dan pengurus korban gempa di Cianjur saja, mas Benn. Tidak usah melewati sponsor. Kita utamakan penyampaian yang segera saja. Jika melewati sponsor, itu akan memakan waktu dan menghambat penyampaian. Nama kita mungkin akan meroket, tapi rasanya kurang pas di waktu duka seperti ini, mas. Tapi keputusan di tangan anda, mas Benn," kata lelaki berkaca mata dan terlihat masih muda, Asep.
Benn terdiam, menimbang beberapa saat. Menatap pada Fadhi, Asep dan Rika secara bergantian. Dan ketika orang yang dipandang telah mengangguk hampir bersamaan kemudian. Dan Benn pun ikut nengangguk juga akhirnya.
"Baiklah, kurasa itu juga bagus. Di tengah krisisnya keikhlasan di zaman ini. Apa salahnya kita pelopori dan kita pertahankan budaya mulia itu. Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. Jangan lupa ambil dokumen simbolisnya saat penyampaian di sana. Bukan pamrih, hanya untuk laporan tertulis agar data yang kalian buat lebih akurat." terang Benn bermaksud mendukung ide sang promotor, Asep.
Eril yang mungkin tidak punya urusan dan tanpa ada kepentingan, hanya menyimak dan memperhatikan. Meski itu bukan tuntutan baginya.
Mengamati Benn diam-diam. Lelaki dengan kepribadian berbeda di tempat yang berbeda. Selama ini, kebersamaan dengannya hampir seluruhnya habis di kamar. Benn seperti mengekang dan mengurungnya. Lelaki itu cenderung kekanakan, manja, mesra, dan juga mesum sesekali. Itulah kesan yang Eril jumpa selama ini.
Dan sekarang, di meja makan dengan beberapa rekan sedang membahas pekerjaan. Lelaki manja itu berubah tegas, berwibawa dan tenang. Rekan kerjanya nampak segan, menghormati, dan patuh. Namun sesekali mereka juga menyelingi obrolan penting itu dengan bercanda.
Di meja makan malam,, Eril merasa melihat lelaki itu sebagai pribadi lain yang baru. Lelaki menawan dan mengagumkan. Pribadi yang menggambarkan bahwa dirinya memang seorang atasan, usahawan dan hartawan kaya raya.
Bukan lelaki lapuk yang sekedar menikahi dan memberi imbalan satu milyar. Tapi di mata Eril, saat itu Benn terlihat sangat tampan!
__ADS_1