Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
26. Mengulang Hasrat


__ADS_3

Meski tidak ada selera makan dan rasa di perut baik-baik saja, tapi Eril sadar bahwa ini sudah malam. Sudah hampir sepuluh jam lambung itu pengangguran. Demi harapan bersua dengan Evan saja lah, kini Eril duduk menghadap meja yang ada banyak makanan.


Perutnya telah terisi dan sedang sibuk menggerus di dalam sana. Badan yang tadinya tak terasa apa pun dan nyaman, kini merasa gerah dan lekit. Kerja remas di perut menghasilkan rasa gerah di badan. Merasa dirinya sedikit berkeringat. Benn tidak sempat menyalakan mesin pendingin di kamar pengantin. Dan Eril pun bersikap tidak ingin peduli.


Teringat pesan lelaki itu sebelum pergi. Menolehkan kepala di sofa sampingnya. Ada beberapa kotak yang bisa dipastikan berisi baju-baju seperti yang Benn sempat sampaikan. Diambilnya salah satu kotak dengan acak. Dan dibawa ke dalam kamar mandi.


Meski sudah malam, tetap saja diguyurinya seluruh badan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan air yang deras memancar dari shower. Selain merasa gerah dan sore tadi belum mandi, tapi juga ingin membebaskan kulitnya dari sisa-sisa bibir dan lidah Benn di badannya.


Merasa sedih dan kesal, ada beberapa stempel merah yang menempel semi permanent di leher dan dada peninggalan Benn barusan. Yang disabun dan digosok sebanyak berapa kali pun, tidak akan luntur dalam waktu dekat ini. Diabaikannya dengan pasrah putus asa.


Baju dalam kotak yang acak disambar, adalah dress tidur yang terbuka dan seksi dikenakan. Tapi tidak ada pilihan dan terpaksa dipakai juga. Sebab sepasang baju pengantin telah jatuh di lantai kamar mandi dan basah. Sedang baju yang lekat di badan saat datang dijemput asluk, entah di mana rimbanya. Kepala ibu muda itu terlalu ruwet jika dipaksa mengingat dan mencari. Eril hanya menutupi baju di bagian badan atas dengan handuk lembab yang baru digunakan.


Ponsel yang ingin dipakai untuk menghubungi teh Sulis tidak menyala. Kehabisan daya dan Eril lupa membawa penyambung isi daya jenis apa pun. Serabut di kepala semakin rumit dan memanjang. Merasa begitu tertekan oleh keadaan yang menyulitkan.


🌢


Dua lelaki tampan namun berbeda gaya, baru keluar dari lift dan berjalan memisah. Lelaki tegap bergaya gentle melangkah cepat menuju garasi dan menghampiri kendaraannya. Sedang satu lelaki yang juga terlihat gagah, berjalan sedikit feminim menuju halaman luas dan melewati pintu gerbang. Menghampiri taksi online yang sudah siaga menunggu di luar pintu gerbang.


Benn membawa dirinya membelah jalan raya Jakarta yang tetap padat merayap saat malam. Merasa dirinya sudah kembali normal dan segar. Merasa lebih bersemangat menuju hotel membali. Merasa telah meninggalkan kamar pengantin yang sangat khusus dihadiahkan untuknya. Dengan pengantin perempuan alias istri di dalamnya. Sang istri yang diakui diam-diam adalah herbal terapi yang dikirim Tuhan tiba-tiba untuknya. Benn merasa harus bersyukur yang akhirnya telah menemukan sosok Eril.


🌢


Kamar pengantin dengan suasana sama saat ditinggal, namun lebih remang lagi sebab sudah sangat malam, terasa sangat lengang. Benn bergegas masuk lagi ke dalam kamar. Menyisir mencari sesuatu. Yang ingin dilihat tidak nampak. Eril tak berada di pembaringan.


Merasa lega, perempuan yang dicari tengah tertidur di sofa dengan memegangi ponsel di tangan sebelah kanan. Tengah berselimut handuk yang memanjang menutup bajunya. Dan sekilas wajah yang telah berubah polos tanpa rias itu nampak berkerut dahi di pejam tidurnya.

__ADS_1


Ingin hati mendekati dan memindah tidur kan di ranjang. Tapi Benn menahan dirinya. Merasa diri sedang tidak bersih. Lelaki pemijat yang nampak garang di luar dan nyatanya lembut di dalam, sangat melimpah menumpah minyak rempah di seluruh permukaan kulit tubuh. Dan kini seperti lem alteco saja rasanya.


Meski telah mandi dan segar mewangi, Benn tetap merasa gerah dengan masih berlilit handuk kecil di pinggangnya. Baru menyadari jika mesin pendingin di ruangan masih belum dinyalakan. Seperti kilat saja lelaki itu menyambar remote dan menekan tombol on off nya. Lalu diletakkan ke tempat semula.


Segera mendekati istri yang terlelap dengan tubuh menyandar di sofa. Dipandang sesaat perempuan yang nampak bergurat sedih di wajahnya. Benn tidak heran, aura sedih memang sudah seringkali terlihat pada wajah polos itu.


Tanpa ragu menarik dan melepas handuk yang menutup baju dan tubuh Eril. Apa yang diharapkan Benn dengan debar penasaran terjadi lagi. Perempuan ini begitu mudah mendatangkan hasrat dirinya. Benn telah mendapatkan nafsu itu datang lagi.


Benn merasa menemukan jati diri kembali meski itu belum lagi sempurna. Namun Benn merasa sudah cukup bahagia. Kembali mampu merasakan debar hasrat yang seringkali dirindukan dan kini telah didapat dari perempuan yang tak disangka datangnya. Dan lebih serasa tak percaya, perempuan itu telah halal dimiliki dengan sangat mudah olehnya.


Eril tersadar dan merasa dirinya sedang melayang. Ternyata Benn Sedang mengangkat dan menggendongnya menuju pembaringan.


"Benn,,,?!!" seru Eril terkejut dan panik.


"Benn,,?!! Kumohon, jangan lakukan lagi padaku,,!" seru Eril memohon. Kaki dan tangannya telah tak lagi melawan. Benn mengunci tindihannya sangat lihai.


"Maafkan aku, Eril. Kumohon padamu, relakan dirimu untukku," mohon Benn dengan wajah kabut penuh hasrat.


"Kau ingkar janji, Benn!!" jerit Eril sangat cemas.


"Aku akan segera melunasi pembayaran dan yang seperti ini pasti selalu kutambahkan!" sahut Benn meyakinkan dengan cepat.


"Aku bukan pelacur,,!" sambut Eril juga cepat.


Benn yang merasa kesusahan untuk meraup bibir polos itu menjauhkan wajah dan menatap mata indah menyala Eril dengan sayu.

__ADS_1


"Jika begitu relalah. Layani suamimu ini. Kau istri halalku, Eril. Apa kau lebih rela jika aku benar- benar mendatangi pelacur di luar sana..?" tanya Benn dengan dingin. Kembali menurunkan dan mendekatkan wajahnya pada Eril.


"Aku tidak ingin hamil,,!!" sentak Eril cepat-cepat sebelum Benn berhasil membungkam bibirnya.


"Aku akan bertanggung jawab.!" Benn menjawab cepat. Dan tak lagi memberi kesempatan untuk wanita dalam kungkungan berkesempatan bicara.


Dan kegiatan panas itu telah berlangsung lama tanpa ada lagi keributan. Tetes air yang mengalir dari mata dan bergulir ke pelipis, telah berhenti beberapa menit yang lalu. Eril tidak lagi berontak. Justru kini terlihat pasrah dan rela.


Yang ada hanya suara bising erottiss dari bibir keduanya bersahutan. Suara seksi Eril telah lolos keluar begitu saja tak terputus. Membuat Benn semakin agresif penuh harap dan berdebar.


Baju tidur terbuka hemat kain itu telah tercampak ke lantai. Menyusul dua benda sakral pelindung aset Eril yang terakhir juga terhempas dari tangan Benn. Handuk yang melilit pinggang dan pinggulnya telah lepas sendiri tanpa disentuh. Benn begitu bersemangat melakukannya. Berharap keajaiban yang didamba akan segera terbukti menyapanya.


🍟🍟🍟


🍟🍟🍟


πŸ„πŸ„πŸ„


🌢🌢🌢


Terimakasih buat kakak readers yang senantiasa meninggalkan jejak dan memberiku semangat bermacam hadiah.


Berikan VOTE itu pada karya ini di sini..


Terimakasih relamu!!😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2