Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
44. Telat Pulang


__ADS_3

Sudah satu minggu Benn menempatkan Eril beserta Evan di rumah orang tua saat siang. Demikian juga ketika malam, hanya lelaki itu akan datang dan bergabung untuk menginap di sana bersama. Meski sebenarnya itu juga rumah keluarganya sendiri.


Dan ini adalah malam terakhir yang Benn putuskan untuk menginap di rumah orang tua. Besok pagi Benn akan membawa Eril untuk kembali ke gedung utama kembali. Untuk Evan, lelaki itu berharap agar Eril menyerahkan anak lelakinya pada mama Donha saja. Namun Eril menolak halus dan merasa sangat tidak sanggup meninggalkan Evan di manapun tanpa bersamanya.


Eril telah wangi dan berhias sangat cantik demi menunggu Benn pulang kerja dan masuk ke dalam kamar. Benn telah memberi tugas pada Eril untuk standby di kamar dengan keadaan ready dan cantik setiap pulang kerja. Lelaki itu akan pulang dan sampai di kamar sehabis maghrib.


Namun ini sudah melewati makan malam, bahkan isya' pun telah berlalu. Tapi lelaki yang telah ditunggu dengan riasan paripurna tak kunjung nampak datangnya.


Beberapa kali membuka pintu kamar, tak juga terlihat bayangnya. Tidak biasanya seperti ini. Benn juga tidak memberi pesan dan kabar.


Untuk menghubungi... Ah, rasanya segan dan gengsi. Eril resah berfikir kemungkinan Benn pergi ke mana,,


Meski berusaha tenang dan harusnya merasa gembira jika Benn pulang lambat, tapi rasanya tidak bisa. Tetap saja kepikiran akan keberadaan Benn yang terlambat pulang sangat lama.


Sedang malam ini, Eril hanya sendirian di rumah. Evan telah dibawa mama mertua dan ayah mertua mengunjungi villa keluarga milik mereka di puncak. Namun Benn tidak membolehkannya untuk turut pergi bersama mereka.


Dan asisten rumah sedang bercuti dua hari ini. Jadi wanita cantik itu sedang sendirian di rumah. Kecuali pak security yang selalu siaga berjaga di gerbang depan sana.


Eril tidak yakin, gundah akan kelambatan pulang Benn malam ini sebab murni risaunya, atau sebab sedang sendirian di rumah. Yang jelas sangat berharap agar lelaki itu segera pulang dan datang.


Ceklerk,,!


Bersama bunyi pintu terbuka, ponsel itu tercampak begitu saja. Eril berdiri cepat dan memandang arah pintu.


Lelaki yang ditunggu nampak masuk dan kembali menutup pintu. Tidak mengetuk pintu terlebih dulu seperti biasanya.


"Assalamu'alaikum," sapa Benn setelah melepas gagang pintu dan berbalik. Dua tangannya sambil terentang dengan memandang harap pada wanita di dalam kamarnya.


Benn memang telah menambahkan sebuah aturan. Agar Eril melepas dirinya pergi kerja saat pagi,,atau menyambut pulang kerjanya saat petang, dengan sebuah pelukan di kamarnya.


"Wa'alaikumussalm, Benn," jawab Eril lembut bersama hamburan tubuhnya ke dalam pelukan Benn.

__ADS_1


Mereka berdua saling berpelukan sangat erat. Bahkan Eril pun tak segan memeluk tubuh keras itu kuat-kuat. Seperti yang pernah Benn minta saat pertama kali Eril memeluknya. Tapi tentu saja wanita itu tidak mampu melakukannya. Hanya peluk renggang dengan sedikit rasa terpaksa.


Benn yang sedang mendapat pelukan lebih kuat dari biasanya merasa heran. Eril tidak pernah memberi pelukan yang hangat dan kuat sebelumnya. Perempuan itu tidak melakukan seperti yang Benn katakan dan inginkan.


Benn harap kali ini bukan hanya skenario seperti yang dibuatnya. Berharap jika Eril melakukannya dengan rela.


"Benn, kenapa lambat pulang?" tanya Eril. Masih terus memeluk erat tubuh gagah yang masih harum dengan aroma parfum di dadanya.


"Ada rapat mendadak dengan rekanku. Ini pun belum selesai. Akan kami lanjut di resto Irawan selepas ini sambil makan malam," kata Benn yang juga masih memeluk punggung Eril.


"Kau akan keluar sebentar lagi, Benn,,?" tanya Eril di dada Benn. Merasa tidak ingin mendengar jawaban Benn yang akan memberi kekecewaan.


"Iya, mungkin akan kembali agak malam,," jawab Benn. Menunggu respon Eril selanjutnya. Tapi perempuan dalam dekapan bungkam tanpa kata.


"Eril, aku ingin mandi. Lepas dulu .. Nanti peluk-peluk lagi sepuasmu, bebass," jelas Benn tersenyum.


Eril seketika merasa malu. Ditarik dirinya cepat-cepat dan menjauhi tubuh Benn.


🌶


Tubuh polos dengan otot yang tepat dan sempurna, telah keluar dari kamar mandi dengan hanya berboxer. Disambut siaga oleh Eril dengan set baju hangat yang akan dipakai oleh lelaki itu untuk pergi keluar.


Benn yang terkadang juga lebay meminta dibajukan, kali ini cukup manis dengan mengambil baju satu demi satu dari tangan Eril dan dipakainya sendiri. Tangan Eril hanya siaga memegangi baju Benn dengan sabar dan diam.


"Ril, hari ini aku lambat pulang. Apa kau mencemaskanku,,?" tanya Benn sambil mengancingkan bajunya.


"Tentu saja, Benn. Kamu kan biasanya pulang sebelum isya," sahut Eril dengan jujur.


"Kenapa tidak menelpon dan bertanya padaku?" tanya Benn dengan tatap redupnya.


"Aku tidak ingin mengganggu kerjamu, Benn," terang Eril meyakinkan. Mengikuti Benn ke meja rias dan mengambilkan sisir untuknya.

__ADS_1


"Sudah dua hari ini kau tidak memberiku laporan berapa kali aku menyenggolmu. Kenapa,?" tanya Benn dan tersenyum pada Eril. Benn masih menyisir rambutnya.


"Aku bosan, terserah kamu saja Benn. Lagipula,, kamu tidak menyentuhku,," jawab Eril dengan menunduk. Menyembunyikan rona di wajahnya.


Benn terkejut dengan jawaban wanita di depannya. Merasa tersindir oleh perkataannya barusan. Sejak perjanjian itu, Benn memang sama sekali belum menyentuh. Menyentuh dalam makna tanda kutip. Apa Eril berharap di sentuh? Hingga berani berkata begitu..


"Jadi menurutmu, aku memeluk,, mencium ,,merabamu, itu tidak menyentuh? Dan kau memijatku begitu lama, itu bukan sebuah sentuhan?" tanya Benn berusaha melarikan galaunya. Sebenarnya merasa khawatir jika ada tuntutan akan hal ini. Meski Eril tidak bermaksud meminta itu, tapi sebagai lelaki tentu saja Benn merasa diuji.


"Benn, bukan maksudku seperti itu. Hanya kamu sangat baik. Sudah banyak uang darimu yang mengalir ke rekeningku. Kurasa aku tidak perlu mengatakannya, sebab kamu akan memikirkan sendiri untukku. Aku percaya denganmu, Benn." kata Eril meluruskan. Merasa malu jika Benn menganggap dirinya menginginkan sebuah sentuhan lelaki.


"Jika aku lupa tidak membayarmu, bagaimana?" tanya Benn sangat dekat di atas kepalanya.


"Kuanggap kamu sedang berhutang padaku,Benn,," sahut Eril cepat.Tersenyum pada Benn yang juga sedang tersenyum.


"Kupikir kamu akan ikhlas, kupikir kamu akan rela, Ril,," jawab Benn. Merasa gemas dengan wanita yang tiap malam semakin menggoda saja dipandang. Tapi apa daya, Benn masih tetap tidak mampu.


"Semua kulakukan demi Evan. Masa depannya masih sangat panjang. Sementara, hanya seperti inilah yang bisa kulakukan. Terimakasih ya, Benn. Maafkan aku,," ucap Eril menundukkan wajahnya. Juga merasa malu pada Benn, suaminya.


Benn merengkuh tubuh Eril. Dibenamkannya kepala indah itu ke dalam dekapan tangan dan dadanya. Mengelus lembut rambut dan kepala Eril yang terasa sangat halus.


"Aku mengerti, Eril. Anggap saja kita ini sedang saling membutuhkan. Aku sangat membutuhkanmu,," ungkap Benn.


Diciuminya rambut Eril banyak kali, merasa wanita yang didekap sedang membalas memeluknya begitu erat. Benn merasa puas dan bahagia untuk ke sekian kalinya.


"Ril, apa kau ingin ikut aku ke acara makan malam di resto Irawan,,?" tanya Benn akhirnya. Berharap Eril akan memohon untuk ikut rasanya sia-sia. Wanita itu tidak akan meminta padanya.


"Kamu tidak malu membawaku, Benn,,?" tanya Eril tercekat. Tidak percaya Benn akan mengajak nya.


"Kenapa malu? Kau itu istriku, Ril,," terang Benn. Kembali diciuminya kepala Eril.


"Iya, Benn. Aku ikut pergi keluar denganmu." sambut Eril bersemangat.

__ADS_1


Benn tersenyum mendapat jawaban itu. Dan semakin lebar tersenyum saat merasa pelukan Eril menjadi lebih erat dan kuat di tubuhnya.


__ADS_2