Hidden Marriage

Hidden Marriage
Bab 10


__ADS_3

Sejak insiden Abel yang muntah muntah karena helm bau, seharian itu Abel tiduran di ruang UKS karena perutnya tak nyaman. Wajah cantiknya terlihat pucat. Dito yang beda kelas dengan Abel, melihat Abel jalan gontai ke arah ruang UKS saat ia sedang dalam pelajaran olah raga di lapangan.



Abel kembali muntah muntah saat tiba di ruang UKS yang sepi itu. Untungnya ada dokter Sinta yang bertugas jaga hari itu. Abel di papah untuk berbaring di ranjang dan diberi obat. Abel tertidur akibat efek obat.



Dito datang ke UKS setelah ia menyelesaikan pelajaran olah raganya. Biasanya Dito lanjut kabur setelah pelajaran olah raga atau ngga dia malah asik olah raga untuk menghindari pelajaran berikutnya. Tapi kali ini Dito kabur ke ruang UKS karena istrinya sakit.



Suasana ruang UKS hari itu sepi. Dokter Shinta yang berjaga pun pergi entah kemana. Hanya ada Abel sendiri tidur disana. Dito membawakan semangkuk bubur dan teh manis hangat. Ia mengambil kursi lalu duduk di samping tempat tidur sambil memperhatikan wajah Abel yang terlihat pucat.



Ia tak menyangka efek helm bau itu berimbas seperti ini. Ia meraba dahi Abel yang basah karena keringat. Tubuh Abel terlihat lemas. Ia menggerakkan tubuh istrinya itu sambil memanggil namanya.



Abel pun membuka mata. Ia melihat Dito duduk disamping ranjangnya.



"Ayo bangun terus makan biar bisa minum obat. Tadi abis muntah kamu belum makan apa apa lagi." ucap Dito sambil membantu Abel bangun.


Dito menahan tubuh Abel dengan badannya.



"Makan bubur ya biar ada sedikit tenaga." ucap Dito sambil mengambil bubur yang dibawanya tadi. Abel mengangguk.



Dito menyerahkan gelas yang berisi teh manis hangat untuk Abel. Gadis cantik itu menurut. Lalu perlahan Abel memakan bubur ayam itu setengahnya. Dito menyerahkan obat untuk Abel lalu setelah itu membaringkan Abel lagi.



"Kita pulang ya." ucap Dito sambil mengelap keringat di wajah istrinya.


Abel menggeleng.



"Gak usah cari cari alesan buat kabur deh. Aku tunggu mas disini aja sampe jam pulang. Udah sana belajar yang rajin. Ntar ngga lulus baru tau rasa."



"Kok kamu tahu sih aku pengen kabur." ucap Dito sambil tertawa.



"Kerjaan kamu kan emang doyan kabur kaburan di jam pelajaran. Udah sana belajar yang rajin. Biar ngga malu ntar istrinya kalo mas ngga lulus."

__ADS_1



Bukannya marah Dito malah tersenyum Abel ngomel ngomel sambil menahan kantuk. Dari sekian omelan Abel tentangnya yang sering kabur kaburan saat mata pelajaran, ada satu hal seperti menampar wajahnya.



Abel merasa iri dengan kepintaran Dito dalam hal mata pelajaran dan juga olahraga. Abel yang termasuk anak yang kurang cepat menangkap pelajaran. Dito mendengar cita cita Abel yang ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan bundanya yang sakit gagal ginjal.



Mendengar hal itu hati Dito terenyuh. Dito tak pernah memikirkan apa keinginannya setelah lulus SMA. Ia hanya ingin main basket dan basket. Menurutnya bermain basket selain menyalurkan hoby ia juga bisa di kenal orang karena prestasinya. Tapi ia tak pernah memikirkan efek balik yang di timbulkan dari kesukaannya itu.



Berkat Abel, Dito mulai berpikir tentang masa depannya. Apalagi kini statusnya adalah seorang suami dari gadis manis yang sudah terlelap di depannya. Dito mengelus wajah damai istrinya dan mencium dahi istrinya lama.



Lagi asik asiknya Dito menemani sang istri, tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam ruang UKS. Dito yang takut ketahuan menjaga Abel pun bersembunyi agar tak ketahuan teman teman Abel yang datang menjenguk lalu ia pun keluar diam diam dari ruang UKS.



***



Abel menunggu Dito menjemputnya sepulang sekolah di belokan warung si mpok. Tak lama Dito pun muncul. Abel memberengut saat ia harus kembali mengenakan helm bau yang menyebabkan dirinya seharian tidur di ruang UKS.




"Helmnya mana?!" tanya Abel sambil cemberut.



"Aku buang. Udah naek aja nanti kita ke toko helm dulu." ucap Dito. Abel tersenyum senang. Ia segera naik ke motor Dito. Keduanya pun melaju membelah jalanan kota Bandung siang itu.



Abel memegang erat erat di tubuh kekar Dito karena Dito selap selip menghindari pemeriksaan polisi. Muka Abel yang pucat semakin pucat karena Dito mengebut kencang. Akhirnya motor Dito berhenti di sebuah toko helm.





Abel melihat lihat berbagai macam merek dan warna helm. Saking banyaknya yang dipajang, Abel sampai bingung dibuatnya. Akhirnya ia meminta Dito saja yang memilihkan helm untuknya.



"Gimana udah nemu yang mau dibeli?" tanya Dito yang sedari tadi mengekori Abel. Abel menggeleng.

__ADS_1



"Gak tahu ah yang mana. Semuanya Bagus dan lucu. Bingung."



"Dasar cewek ya. Cuma di lihat bagus dan lucu doank. Nyari tuh fungsi dan kenyamanan." ujar Dito.



"Yaudah mas Adit aja yang pilihin. Kalo aku yang milih bisa ampe lebaran monyet baru dapet."



Hah?! Mas Adit?!



"Mas Adit? Sapa tuh?"



"Aku panggil mas Adit aja ya. Nama panggilan sayang buat suami. Dito kan udah banyak yang manggil aku ngga suka. Mas Adit aja aku manggilnya." ucap Abel cekikikan.



"Ya lah terserah aja." ucap Dito sambil ******** senyum. Mas Adit. Nama panggilan dari istrinya yang membuatnya tak henti tersenyum.





Akhirnya Dito pun melabuhkan pilihan pada helm KYT Putih yang sama dengan miliknya. Selanjutnya Dito pun membayar helm yang dipilihnya lalu keduanya pulang.





***



TBC....




__ADS_1


__ADS_2