Hidden Marriage

Hidden Marriage
Bab 20


__ADS_3



Jangan lupa Vote dan komen ya pemirsaaah yang Budiman 🤗



Love you 😘



💃💃💃



Sejak kejadian hari itu, Dito jadi sangat protektif kepada Abel. Setiap jam istirahat ataupun jam kosong Dito pasti menghampiri Abel ke kelasnya atau Abel diminta ke kelas Dito. Gerak gerik Abel seakan dibatasi oleh Dito. Tak jarang Abel marah karena Dito membatasi pergaulannya dengan teman temannya.



Seperti hari ini Abel terpaksa menemani Dito latihan basket. Ia duduk di pinggir lapangan seperti teman-temannya yang lain yang menemani pacar pacar mereka latihan. Kalau Maria dan Friska heboh dan teriak teriak menyemangati Brandon dan Farhan, Abel justru manyun sambil menggerutu.



Ia sangat lelah karena jam terakhirnya adalah pelajaran olah raga. Ia ingin segera pulang dan tidur tapi Dito tak mengijinkannya pulang sendirian. Dito masih trauma membiarkan Abel pulang sendiri. Alhasil Abel manyun dan pasang muka bete sepanjang menemani Dito latihan.



Dua jam latihan bagi Dito dan kawan kawan lainnya tidaklah cukup. Tapi bagi Abel dua jam menunggu sang suami latihan basket seakan satu abad. Bukannya tak ingin mendukung sang suami berlatih, tapi Abel lebih dulu sebel dengar teriakan teriakan penggemar Dito tiap kali Dito men-dribble bola.



Meski satu sekolah tahu Abel dan Dito 'jadian' mereka tak sungkan mengungkapkan rasa cintanya pada Dito melalui teriakan ataupun tulisan 'I LOVE YOU DITO. MAU YA JADI PACAR GUE' di atas kertas karton. Abel mencak mencak sendiri dibuatnya.



"Jangan kalah donk ama teriakan cabe cabean Bel. Tunjukin kalo elo ceweknya Dito." ucap Maria memanas manasi Abel yang terlihat kesal. Friska tertawa melihat tingkah temannya itu.



"Mereka ga liat gue yang segede ini apa?! Berani beraninya teriakin I love you ama cowok gue!? Belum pernah keselek bangku penonton kali ya." omel Abel.



"Etdaaahhh... Bangku penonton. Mati yang ada nenk." celetuk Friska.



"Berisik lu ah. Si Dito lagi pake lama segala latihannya. Udah dilapangan bubar deh. Gue di cuekin."



Friska dan Maria hanya bisa tertawa mendengar gerutuan Abel yang tak ada habisnya. Akhirnya sesi latihan pun berakhir. Hampir tiga jam menunggu Dito latihan membuat darah Abel naik drastis. Dito menyadari wajah bete istrinya sejak ia melarang istrinya pulang duluan. Dito tertawa saja melihat wajah kesal Abel.



"Buruan pulang. Ngantuk." ucap Abel bete saat Dito duduk disampingnya sambil meminum air mineral yang disediakannya. Keduanya duduk agak berjauhan dengan yang lain. Maria dan Friska langsung menemani pacar pacar mereka yang kelelahan latihan.



"Iya kita pulang yank. Tapi bentar ya masih capek banget nih yank."



"Kapan pulangnya mas?" rengek Abel sambil menggerakkan lengan Dito.



"Sabar dulu napa. Istirahat bentar, mandi baru pulang. Mau pulang sekarang ayo tapi jangan ngomel kalo badan mas bau."



"Ish... Yaudah buruan mandi. Laper ngantuk mas. Coba pulang dari tadi pasti jam segini baru bangun deh."



"Oke... Mas mandi dulu. Kamu tunggu disini ya." ucap Dito sambil mencium dahi Abel sekilas. Abel mengangguk.



***



"Dito... Brandon kita balik duluan ya." ucap Ricky salah seorang anak tim basket. Dito dan Brandon baru saja selesai mandi dan mulai mengganti pakaian.

__ADS_1



"Oke bro. Besok lagi ya." ucap Dito



"Hati hati dijalan bro." ucap Brandon.



Di ruang loker itu tinggallah Dito dan Brandon. Brandon mendekati Dito.



"Dit, abis lo pulang anter Abel, lo ada acara ga?" tanya Brandon.



"Gada kayaknya. Gue dirumah aja. Kenapa?"



"Oh... Gpp. Bisa ngobrol berdua ga? Ada yang mau gue obrolin sama lo. Penting."



"Tumben ngajak gue keluar. Berdua aja nih apa ngajak yang lain juga?"



"Berdua aja biar romantis." goda Brandon.



"Apa sih lo ah. Gila. Gue cowok normal ye."



"Gue juga normal gila lu. Gimana bisa ga?"



"Emang lu mau ngobrolin apa sih? Jadi kepo gue."




"Oke lah. Nanti gue bilang Abel dulu ya kalo mau jalan sama lo nanti. Biar dia ga mikir yang aneh aneh sama gue."



"Iya terserah lu aja lah. Atur atur aja."



Setelah sepakat, keduanya pun beranjak dari ruang ganti. Dito menghampiri Abel yang sudah mati bosan menunggu ia selesai ganti.



"Kirain cewek doank yang mandi ama dandannya lama. Cowok juga lama bener ya dandannya." sindir Abel saat melihat Dito dan Brandon keluar dari ruang ganti.



"Hehehe... Bisa aja lu bel. Eh Bel nanti gue pinjem Dito bentar ya. Mau jalan ama Dito sambil curhat." ucap Brandon pamit kepada Abel.



"Kemana?" tanya Abel ketus.



"Eits... Kalem neng kalem. Gak usah galak gitu ntar cantiknya ilang." ucap Brandon yang melihat Abel udah ngegas aja.



"Kita cuma mau ngopi bentar sambil ngobrol dari hati ke hati. Gada maksud lain kok Bel. Kalo lo ngga percaya lo boleh ikut kalo elonya mau."



Abel menatap Dito. Dito mengangguk.



"Yaudah gue ikut deh. Emang jam berapa perginya?" tanya Abel.

__ADS_1



"Malem aja gimana?" usul Brandon.



"Kagak ah malem gue bisa bisa digorok ayah keluar malem malem. Sekarang aja lah. Sekalian capek gue. Males lagi kalo udah dirumah pergi pergian."



"Gue sih oke oke aja. Lu gimana To?"



"Let's go..." ucap Dito setuju.



***



Ketiganya duduk santai di sebuah cafe milik Dito. Abel tak menyangka cafe yang tengah ramai itu ternyata milik suaminya. Suasana cafe yang apik, makanan dan minuman yang enak diperut dan dikantong serta rasa hangat yang tercipta membuat cafe dan kedai kopi milik Dito ramai dikunjungi kaula muda yang sekedar hangout ataupun mengerjakan tugas disana.



Dito mengajak Abel dan Brandon ke ruangan miliknya agar suasana lebih akrab dan tak terganggu dengan adanya live music yang tiap minggunya hadir menghibur para tamu yang datang berkunjung ke kedainya.



"So... Apa yang mau lo obrolin sama gue." tanya Dito to the point setelah mengambilkan pesanan milik Abel dan Brandon. Ia duduk manis disamping Abel yang tengah menyantap Apple Pie yang menjadi menu andalan dikedai ini.



B



randon menatap sejenak Dito dan Abel bergantian. Tadinya Brandon hanya ingin bicara empat mata dengan Dito saja tanpa melibatkan Abel. Tapi karena Abel ingin ikut ya mau tak mau Abel pasti mendengar pembicaraan mereka. Brandon berpikiran kalau tak apa mengkonfirmasi dengan keduanya secara langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman.



"Emm... Gini Dit. Gue mau tanya sesuatu sama elo dan Abel juga. Tapi please jawab dengan jujur. Gue ngga mau ada kebohongan disini. Biar gue ngga berpikiran jelek sama elo berdua." ucap Brandon terdengar serius.



Abel yang dari tadi anteng makan pie nya tiba-tiba tidak selera menghabiskan sisa pienya.



"Gimana? Deal?? Tanya Brandon



"Oke. Kita jawab dengan jujur." ucap Dito waspada. Brandon menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan. Brandon menatap pasangan di depannya.



"Apa benar kalian sudah menikah?"



Uhuk... Uhuk...



***



TBC....



Nah loh?!



gimana menurut kalian jawaban Dito & Abel??


Mengakukah atau ngga??



__ADS_1


__ADS_2