

Jangan lupa vote dan komen yang banyak ya 🤗
💃💃💃
"Bel... Gimana hasil testnya? Apa kata Pak Anwar?" tanya Maria dan Friska saat di bagi hasil test untuk masuk universitas.
"Kalian gimana?" tanya Abel balik. Abel melihat raut wajah kedua sahabatnya berseri seri. Mereka dapat dipastikan gampang lolos ujian masuk universitas yang mereka inginkan tidak seperti Abel yang meski mati matian belajar belum tentu masuk ke universitas yang ia inginkan apalagi mengingat jurusan kedokteran yang ia mau sangat berat.
"Gue puji Tuhan hasilnya Bagus Bel." jawab Maria senang.
"Gue juga. Duh ga sabar deh ikut ujian di UGM bareng yayang." jawab Friska tak mau kalah. Abel tersenyum senang akan hasil teman-temannya. Ia miris akan dirinya sendiri.
"Kalo loe gimana Bel? Bagus kan hasilnya?" tanya Friska.
"Ya... Lumayan meningkat sedikit dari hasil bulan lalu."ucap Abel bohong karena sebenarnya hasil ujian Abel bukannya meningkat justru malah menurun.
"Bagus donk Bel. Semangat ya. Kita bertiga pasti bisa masuk ke universitas yang sama bareng bareng." ucap Maria semangat. Abel tersenyum. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan nilainya.
"Ke kantin yuk. Laper nih." usul Friska.
"Ayok gue juga udah laper nih. Saking deg dengannya nunggu hasil gue jadi leper. Yuk bel kita makan siomay mang Ohang." ajak Maria tapi di tolak oleh Abel. Ia tak bersemangat untuk makan apapun saat ini. Ia sedih memikirkan nasibnya sendiri.
"Hmm... Gue masih kenyang. Kalian duluan deh. Lagian gue masih mau balikin buku ke perpus." tolak Abel.
"Yaaahhh... Ga asik nih Abel."
"Hehehe... Sorry. Beneran gue belum laper guys. Sok kalian aja duluan yak. Buruan pergi ntar keburu abis jam istirahatnya." usir Abel sambil mendorong punggung Maria dan Friska keluar dari kelas.
"Yaudah kita ke kantin duluan ya. Bye..." ucap Friska dan Maria sambil melambaikan tangan mereka. Abel membalasnya. Ketiganya berpisah. Abel melangkahkan kakinya ke perpustakaan.
***
__ADS_1
Kebetulan hari itu perpustakaan sedang sepi pengunjung. Yang bertugas menjaga perpus juga entah kemana. Abel celingak celinguk sejenak lalu ia menuju ke salah satu sudut dimana ia selalu kesana untuk menangis.
Abel duduk dilantai perpus mengabaikan kotornya lantai perpus di rok seragamnya. Ia kembali membuka kertas hasil tes miliknya. Hampir semua nilai yang diujikan dibawah batas standar. Hanya ada dua mata pelajaran dari lima yang diujikan yang pas dengan nilai standar yang ditentukan.
Hasil ujian bulan lalu lebih baik dari ujian kali ini. Entah mengapa ujian kali ini justru nilai Abel semakin merosot. Harapannya untuk masuk universitas dan jurusan kedokteran yang ia harapkan pupus sudah. Bahkan kata kata Pak Anwar wali kelas Abel masih terngiang-ngiang di benaknya.
"Maafin Bapak Abel. Nilai kamu makin lama makin turun. Nilai untuk ikut ujian masuk Universitas yang kamu mau apalagi jurusan kedokteran hanya impian semata. Maaf bukan Bapak menciutkan semangat kamu, tapi kamu bisa lihat dan perhitungkan sendiri semua nilai nilai mu sejak semester awal hingga sekarang. Entah bagaimana lagi cara Bapak agar membuat kamu bisa masuk Universitas yang kamu mau. Bahkan untuk lulus sekolah saja menurut Bapak dengan nilai kamu seperti ini agak sulit Bel. Maaf Bapak tidak bisa bantu banyak lagi." ucap Pak Anwar wali kelas Abel.
Tak terasa air mata Abel mulai menetes. Ia tak sanggup menahan air matanya lagi. Ia menelungkupkan kepalanya dan sesegukan. Abel meratapi kebodohannya dalam mengikuti pelajaran.
Sejak dulu alm bundanya rutin mengikutkan Abel les mata pelajaran tapi hampir semua tempat les yang diikuti Abel selalu mengeluh karena Abel tak bisa menyerap materi yang di ajarkan.
Abel menyadari ketidak mampuan dirinya akan pelajaran, maka dari itu Abel masih bersyukur saat ia naik ke kelas tiga meski nilainya pas pasan.
Drrrrttt... Drrrrt....
Abel mengangkat wajahnya dan merogoh handphone di saku seragamnya.
(Suamiku)
Abel mengabaikan telepon masuk dari Dito. Saat ini ia sedang tak ingin bicara dengan siapapun termasuk Dito. Abel tahu Dito menelpon pasti akan bertanya tentang hasil ujiannya.
Tak perlu Abel tanyakan lagi, Dito yang cerdas meski sering membolos di jam pelajaran pasti mendapatkan nilai sempurna. Panggilan dari Dito pun terputus. Tak lama pesan via whatsapp pun masuk.
남편
Yank... Kamu dimana? Kok ngga ke kantin?
Abel tak membuka pesan suaminya. Ia masih terus menangis.
남편
Hei... Kok ga dijawab sih? Km lg dimana yank?
__ADS_1
Lagi lagi Abel hanya menatap pesan yang masuk tanpa berniat membalasnya.
남편
Sayaaang.... Istriku yang cantik jawab donk please 🙏🙏🙏
Abel yang kesal akhirnya memasukkan handphonenya ke saku seragamnya. Ia kembali menangis di sudut pojok perpustakaan.
Tanpa ia sadari, Dito ada di dalam perpustakaan tengah menatapnya dengan perasaan sedih.
***
TBC
hehe... Maaf pendek 🙏
Numpang Promo cerita aku yang baru. Boleh di kepoin ya. Ditunggu like dan komennya.
Judul : Just Friends
Sinopsis :
#1 goalscouple
#1 Reino
Adelia Cartwright selama ini diam diam menyimpan rasa untuk sahabat masa kecilnya Reino Williams. Reino bukannya tak tahu tentang perasaan Adelia, karena ia benar benar menganggap Adelia tak lebih dari seorang sahabat.
Sebuah pernyataan cinta dari Adel membuat Reino terkejut. Reino tentu saja tak membalas perasaan cinta Adelia. Adelia kecewa karena perasaannya tidak terbalaskan tapi setidaknya ia merasa lega dengan perasaannya yang selama bertahun tahun ia pendam.
Suatu hari Adelia di kejutkan oleh kabar pernikahan Reino dengan salah satu sahabat karibnya Amanda Clark. Adelia kecewa. Adel selama ini sering curhat tentang Reino kepada Manda, dan kini malah Manda yang akan dinikahi oleh pria yang selama ini dicintainya.
bagaimana kisah Adelia, Reino dan Amanda selanjutnya ?? Akankah Adelia bisa bersatu dengan Reino?? Yuk mari di cekidot.
ps : cerita ini terinspirasi oleh lagunya teteh incess "Cintaku Kandas" yang akhir2 ini sering aku dengerin 😁😁😁. Tiba Tiba aja terlintas ide cerita ini 😄.
__ADS_1