Hidden Marriage

Hidden Marriage
Bab 7


__ADS_3



"Sodara Andito Wiguna saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Maribel Andriana binti Ahmad Samawi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas kawin sebesar 15 gr dibayar tunai." ucap Ahmad ayahanda Abel sambil menjabat tangan Dito.



"Saya terima nikah dan kawinnya Maribel Andriana binti Ahmad Samawi dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Dito lantang tanpa salah.



"Sah??"



"Sah."



"Alhamdulillah."



Begitulah status Abel berubah menjadi seorang istri dan Dito menjadi seorang suami. Keduanya melangsungkan acara ijab kabul di Villa mewah keluarga Dito dengan khidmat. Tak ada hingar bingar pesta pernikahan, hanya akad nikah yang dilaksanakan hari itu. Pesta pernikahan akan segera dilaksanakan setelah Abel dan Dito lulus SMA. Sebentar lagi keduanya akan mengikuti ujian nasional.



Lagi pula mereka sengaja menyembunyikan status pernikahan mereka dari banyak orang agar sekolah mereka tidak terganggu. Dengan air mata yang membasahi wajahnya, abel perlahan meraih tangan Dito yang sudah terulur ke arahnya. Abel mencium tangan Dito sebagai tanda bakti terhadap suami. Dito pun seperti itu. Ia mencium dahi Abel istrinya sekilas. Cincin pernikahan pun terpasang di kedua jari manis mereka.



Tiba saatnya Abel dan Dito duduk bersimpuh di kedua kaki kedua orang tua mereka bergantian. Abel semakin menangis kencang saat bersimpuh di kaki ayah bundanya. Abel teringat peristiwa saat bundanya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.



Flashback on



"Papa gak mau tahu kalian harus menikah." ucap Hendra tegas.



Mendengar putrinya harus segera menikah untuk menghindari zina Inneke tiba tiba pingsan. Abel segera memeluk tubuh bundanya. Ia mencoba membangunkan sang bunda beberapa kali namun sayang Inneke tak jua siuman.



Sarah dan Hendra langsung membawa Inneke yang pingsan ke rumah sakit. Dito tanpa sadar mengelus Abel yang kalut karena Bundanya pingsan.



Untunglah kondisi Inneke kembali membaik setelah mendapatkan pertolongan dari dokter. Dito menjaga Abel dan Inneke di rumah sakit sementara Sarah dan Hendra pulang. Abel tertidur di sisi ranjang bundanya. Dito terjaga. Matanya sulit terpejam. Tiba-tiba Dito melihat pergerakan calon mertuanya. Dito segera menghampiri Inneke.



"Tante... Alhamdulillah tante siuman. Tante Dito panggilin dokter ya." ucap Dito terlihat lega saat bertatapan dengan wajah teduh Inneke. Ia segera memencet tombol di samping bed.


Inneke menggenggam tangan Dito.

__ADS_1



Inneke mengelus wajah tampan Dito. Lalu ia mengelus rambut putrinya. Air matanya kembali mengalir. Dito reflek mengusap air mata camernya.



"Maafin Dito tante. Gara gara kejadian ini tante ngedrop. Dito akan tanggung jawab dan menikahi Abel." Ucap Dito mantap. Ia sudah berpikir ulang atas permintaan papanya. Papa mamanya memang kolot itulah mengapa Dito tak pernah mengakui jika ia punya pacar. Meski Dito pacaran, Dito tak pernah lama berhubungan. Satu bulan itu biasanya Dito tak bertahan lama.



"Tapi kalian masih SMA. Bagaimana bisa kalian menikah. Kamu juga belum bekerja tante tidak mau pernikahan kalian memberatkan kami sebagai orang tua. Belum kalau Abel hamil. Apa kata teman teman kalian."



"Untuk pekerjaan insya Allah saya bisa menjamin kehidupan Abel. Ya meski tidak semerdeka saat bersama tante dan om. Saya punya beberapa usaha yang hingga kini alhamdulillah masih berjalan lancar. Sejak kelas 1 SMA mama dan papa tidak pernah memberi saya yang jajan karena saya bisa menghasilkan uang sendiri. Untuk masalah hamil, tante tenang saja saya maupun Abel tidak akan melakukannya sekarang. Kami akan melakukannya saat ada perasaan cinta diantara kami. Kami akan bersikap seperti biasa. Insya allah rahasia pernikahan kami aman tante."



"Kalau itu tante mengerti. Tapi bagaimana jika selama kalian menikah ternyata kamu mencintai gadis lain begitu juga dengan Abel. Apa yang akan kamu lakukan? Sedangkan kamu tahu kalau Allah SWT sangat membenci perceraian. Tante dan kedua orang tua kamu pun pasti tak ingin kalian bercerai."



"Tante,, walaupun saya terkenal playboy di sekolah tapi jika saya sudah mengikat seorang gadis dihadapan Allah dan ayahnya, maka haram bagi saya untuk menyukai gadis lain. Saya pun sama seperti tante. Saya hanya ingin melakukan pernikahan sekali seumur hidup. Doakan pernikahan kami tante agar tetap harmonis, tetap dalam ridhonya Allah SWT."



Inneke melihat kejujuran dan ketegasan di mata Andito. Awalnya ia ragu karena Abel memberitahu kalau Dito playboy di sekolahnya, tapi mendengar ketegasan Dito Inneke pun mengijinkan Dito menikahi putrinya.



Abel pun akhirnya menerima pinangan Dito dan keluarganya setelah diyakinkan oleh ayah bundanya. Dan pernikahan sederhana itu pun terjadi.




****



Setelah resmi menjadi suami istri, Abel di bawa oleh Dito pulang kerumahnya. Abel sempat menolak karena ia tak ingin berjauhan dengan ayah bundanya, tapi lagi lagi Abel terpaksa mengikuti keinginan Bundanya yang mengharuskan seorang istri mengikuti kemana pun suaminya pergi atau pun tinggal.



Selain itu, Dito juga berjanji setiap Weekend ia akan membawa Abel untuk mengunjungi ayah bundanya. Dito merasa terlalu jauh jika berangkat ke sekolah dari rumah mertuanya.



"Nah sudah sampai. Yuk turun sayang." ucap Sarah mengagetkan Abel yang sedari tadi melamun. Abel tersenyum. Ia pun pun turun dari mobil mertuanya. Begitu juga dengan Dito dan Hendra.



Abel kembali lagi ke rumah mewah yang dulu sempat ia impikan untuk tinggal disana dan benar saya Tuhan mengabulkan keinginan Abel untuk tinggal dirumah itu sebagai menantu keluarga besar Wiguna. Abel menghela nafasnya.



"Ayo masuk sayang kok malah diem aja." ucap Sarah yang melihat menantunya diam terpaku di samping mobil.


__ADS_1


"Em... Abel mau bantuin ambilin tas Abel tante... Eh mama." ucap Abel kikuk memanggil Sarah dengan panggilan yang sama dengan Dito. Sejak resmi menjadi menantunya, Sarah meminta Abel terbiasa memanggil ia dan suaminya papa dan mama. Lalu Dito memanggil mertuanya ayah dan bunda.



"Ga usah biar suamimu aja yang bawain tasnya. Kamu ikut mama. Kita liat kamar kalian." ucap Sarah sambil menarik tangan menantunya. Sarah sangat antusias membawa Abel berkeliling rumah mereka.



Belum selesai keterkejutan Abel berkeliling rumah mertuanya yang sangat luas, Abel dikejutkan dengan kamar Dito yang akan menjadi kamarnya juga.



"Nah ini kamar kalian. Yuk masuk." ajak Sarah saat tiba di depan pintu putih itu. Sarah membuka pintu dan Abel kembali melongo. Kamar Dito sangat luas. Sepertinya kamar kamar di rumah ini di desain sangat luas agar penghuni kamarnya betah.





Meski Dito pecinta basket sejati, kamarnya tidak ada ornamen ornamen yang berbau basket. Hanya di lantai satu saja terpajang berbagai macam medali dan piala dari kejuaraan basket. Kamar Dito terkesan minimalis dan maskulin dengan dominasi warna putih dan abu khas pria. Dito masuk ke kamarnya dengan membawa koper koper milik istrinya.



"Beresin sendiri ya baju lo. Gue ogah. Cape angkut angkutnya. Bawa apa sih berat banget. Bawa baju apa bawa batu kali sih." gerutu Dito sambil membaringkan tubuhnya diatas ranjang.



Adelia mencabik kesal.



Inginku berkata kasar apalah daya ada mertua. Gerutu Abel. Abel menarik kopernya salah satu ruangan yang berisi wardrobe milik Dito.



"Dito jangan kasar gitu sama istrinya. Mama gak suka ah." omel Sarah. Dito hanya memutar bola matanya malas. Sarah pun meninggalkan pengantin baru itu.



Setelah membereskan pakaiannya di dalam lemari Dito, Abel ingin mandi karena merasa gerah. Abel mencari handuk di lemari Dito lalu ia mencari kamar mandinya tapi ga ketemu. Alhasil ia pun bertanya kepada Dito.



"Dito gue gerah nih. Pengen mandi." ucap Abel sambil menyeka keringatnya dengan punggung tangan.



"Ya mandi lah. Masa iya gue yang mandiin juga. Jangan ngarep lo!" ucap Dito ketus tanpa merubah posisinya terlentang di atas ranjang. Ia menutup kedua matanya dengan tangannya. Abel menggembungkan kedua pipinya karena kesal.



***



TBC


__ADS_1


__ADS_2