
Hampir satu jam Dito menggedor pintu kamar tamu yang di tempati oleh Abel. Berkali kali ia meminta maaf kepada istrinya namun Abel terlalu kecewa dibuatnya. Akhirnya Dito pun menyerah. Ia akan mencoba meminta maaf kembali keesokan harinya. Dito pun naik ke kamarnya di lantai dua.
Dito menghela nafas berat. Ini pertama kalinya ia tidur sendirian lagi setelah dua bulan tidur bersama Abel istrinya. Dito merutuki kebodohannya malam itu. Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Keesokan harinya
Pagi pagi sekali Abel sudah rapi dan sarapan terlebih dahulu sebelum Dito turun dari kamarnya. Bi inem melihat Abel makan terburu-buru lalu pergi begitu saja. Ia hanya pamit kepada bi inem. Untungnya kedua mertuanya sedang tidak dirumah kalau tidak bisa kena omel oleh mama mertuanya.
Tak lama Dito yang sudah rapi pun turun. Dengan PDnya ia berjalan ke kamar tamu lalu mengetuk pintu kamar tab. Dito terus mengetuk tapi tak ada jawaban.
"Den... Aden ngapain?" tanya bi inem melihat Dito mengetuk pintu kamar tamu.
"Bangunin Abel bi."
"Si neng mah udah berangkat den sepuluh menit yang lalu." ucap bi inem.
"Apa!?"
"Iya den. Tadi pagi pagi banget si neng minta dibuatin sarapan karena perutnya perih. Semalam telat makan. Itu aja makannya cepet cepet. Udah gitu langsung berangkat."
"Kok ga pamit sama aku?!"
"Si neng cuma pamit ke bibi aja den. Si neng lari lari gitu tadi pas berangkat."
Jika semalam Abel yang marah, pagi ini giliran Dito yang marah. Ia merasa tidak dianggap sebagai suami oleh Abel. Meski tengah marah, harusnya sebagai istri ia tetap meminta pamit kepadanya. Bagaimana pun juga restu allah ada ditangan suami.
Dito duduk sendirian dimeja makan. Ia menghabiskan sarapannya dengan hati dongkol.
__ADS_1
Awas aja lu Bel. Berani lo ya kurang ajar sama suami. Gerutu Dito dalam hati.
***
Setibanya di sekolah, Dito yang masih dongkol langsung meluncur ke kelas Abel di kelas XII IPA 2. Sesampainya di kelas Abel, Dito tak melihat keberadaan Abel disana. Dito bertanya kepada Maria dan Friska temen satu genk Abel. Menurut mereka Abel belum datang padahal sebentar lagi jam masuk sekolah.
"Kenapa lo tanyain si belong? Tumben tumbenan." tanya Friska.
"Gue ada perlu ama dia. Jadi dia belom dateng? Atau emang kalian belum liat dia." tanya Dito
"Beneran. Kita belum ketemu si belong pagi ini. Tumben juga tuh anak kagak muncul." ucap Maria sambil mencoba menghubungi Abel.
"Yaudah ya kasih tau si Abel kalo dia dateng. Gue nyari gitu." ucap Dito sambil pergi dari kelas Abel karena bel masuk sudah berbunyi.
Abel tak peduli jika harus bayar lebih karena berbelok dari tujuannya ke sekolah yang penting ia bisa melihat bundanya. Abel terus berdoa untuk kesembuhan bundanya. Ia takut bundanya kenapa kenapa. Pasalnya yang Abel tahu penderita gagal ginjal mempunyai waktu terbatas.
Rutin cuci darah atau cangkol ginjal pun belum tentu memperbaiki kondisi si pasien. Itu hanya cara untuk mempertahankan hidupnya sedikit lebih lama. Abel langsung berlarian ke dalam rumah sakit setelah membayar taksinya.
Ia segera mencari keberadaan bundanya. Ia melihat ayahnya tengah duduk di bangku lorong rumah sakit sambil menundukkan kepalanya.
"Ayaahh... Ayah mana bunda yaah? Bunda gimanaa??" tanya Abel sambil menangis.
"Bunda drop nak. Semalam bunda mengeluh sesak nafas sepulangnya dari cuci darah. Sempet di oksigen dan membaik. Tadi subuh jam 3 bunda kembali mengeluh sesak. Di oksigen bukannya membaik tapi malah makin jelek. Ayah langsung bawa kesini. Sampai sekarang dokter masih belum kasih tau kondisi bunda kayak gimana." ucap Ayahnya.
Abel menangis kencang di pelukan ayahnya. Pikiran Abel langsung negatif saja. Susah bagi Abel berpikiran positif kalau bundanya baik baik saja.
__ADS_1
Abel maupun ayahnya tak memberitahu kondisi bunda kepada menantunya. Mereka terlalu fokus pada kesehatan Inneke. Hingga menjelang siang, Inneke masih belum bisa di jenguk. Dokter memindahkan Inneke ke ruang ICU karena Inneke tidak sadarkan diri.
Belum lagi Ahmad ayahnya Abel harus meninggalkan dirinya sendiri di rumah sakit karena ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan barang sejenak.
"Gpp yah Abel berani kok disini sendiri. Ayah kerja aja dulu. Abis pulang kerja ayah kesini lagi ya." ucap Abel disela sela isakannya.
"Maaf sayang Ayah tinggal sebentar. Nanti ayah balik lagi. Ayah telepon Dito ya biar kamu ada temennya." ucap Ahmad sambil mengeluarkan handphonenya.
"Gak usah ayah. Mas Adit biar fokus belajar. Nanti Abel kabari mas Adit sepulang sekolah nanti."
"Yaudah kalau begitu Ayah pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ahmad dengan berat hati meninggalkan putrinya seorang diri disana. Ahmad yang tidak tenang, akhirnya menelpon sang menantu dan memintanya agar menemai Abel yang tengah kalut.
***
TBC...
Jujur pas ngetik Inneke yang kena gagal ginjal jadi keinget Alm mama ku yang mengidap penyakit yang sama 15 tahun yll 😭😭😭.
Aku tahu gimana rasanya jadi Abel yang hidup dalam ketidak pastian kapan maut menjemput. Alm mama ku meninggal setelah cuci darah. Alm mengalami sesak nafas yang tak terbantu padahal udah pakai bantuan oksigen.
Sedih banget kala itu tapi skg aku berpikiran mama udah sehat dan ngga perlu menderita lagi seperti dulu. Insya Allah mama udah bahagia disana. Amin ya Robbal alamin 🙏
__ADS_1