Hidden Marriage

Hidden Marriage
Bab 24


__ADS_3



💃💃💃



Dito



"Nilai kamu tidak diragukan lagi Dito. Tapi sayang sikap kamu yang masa bodoh membuatnya semakin jelek. Kalau saja nilaimu tidak bagus mungkin bapak akan senang hati memarahimu. Sayangnya nilai mu sempurna." cecar Pak Hasan wali kelas Dito. Ia menyerahkan hasil tes Dito yang sempurna dengan rata rata 9 didalamnya.



Dito mengambil kertas hasil ujian itu lalu segera bangkit dari sana. Langkah kakinya segera terhenti saat mendengar perkataan wali kelasnya.



"Dengan nilai sempurna seperti itu kamu bisa dengan mudah kuliah di jurusan kedokteran. Tapi Bapak ngga yakin kamu mau kuliah." ucap Hasan lagi.



Mendengar kata Kedokteran membuat Dito teringat akan Abel, istrinya. Abel sangat ingin sekali kuliah di jurusan Elite itu. Dito bergegas keluar dari ruang guru dan melangkahkan kakinya menuju kelas Abel. Ia ingin tahu bagaimana hasil tes istrinya itu. Pasalnya selama seminggu kemarin, istrinya itu sangat giat belajar sedangkan dirinya lebih memilih tidur atau tidak latihan basket.



Dito sangat yakin jika nilai Abel sangat bagus. Secara istrinya itu belajar dengan tekun. Bahkan saat menemaninya berlatih basket, Abel selalu membuka buku pelajaran. Mengitak atik isi buku itu bahkan tak jarang Abel ketiduran saking seriusnya.



Dengan langkah girang, Dito menuju kelas Abel. Saat berbelok Dito dikagetkan dengan kemunculan Maria dan Friska teman sekelas Abel yang sepertinya akan pergi ke kantin.



"Aduuh Dito pelan pelan napa jalannya. Untung ngga nabrak idung gue yang minimalis ini."gerutu Maria sambil menyentuh hidung minimalisnya yang tadi hampir ditabrak Dito.



Dito tertawa.



"Eh kalian mau ke kantin ya? Kok Abel ga ikut? Kemana dia?" tanya Dito sambil celingukan.



"Si Abel lagi males ke kantin. Tau tuh anak tumben tumbenan ga mau ke kantin." jawab Friska.



"Ada di kelas donk ya."

__ADS_1



"Ngga, dia pergi ke perpus. Mau balikin buku sih katanya mah."



"Oh yaudah gue samperin dia aja kalo gitu."



"Ciyee ciyee bilang aja mau berduaan di perpus. Pake alesan loe ah." sindir keduanya sambil cekikikan.



"Serah loe lah. Sultan mah bebas." ucap Dito mengabaikan omongan keduanya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke Perpustakaan sekolah. Tak lama ia melihat Abel masuk ke dalam perpus. Ia sempat berteriak memanggil tapi sepertinya Abel tak mendengar. Dito pun mempercepat langkahnya menemui Abel.



***



Dito celingak celinguk mencari keberadaan istrinya didalam perpustakaan. Hampir setengah jam ia celingak celinguk mencari keberadaan istrinya itu. Ia nyaris putus asa. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana.



Saat akan berbelok ke pintu keluar, tak sengaja sudut matanya menangkap sosok di pojok perpustakaan yang agak gelap tengah menundukkan kepalanya. Dito penasaran dengan sosok yang duduk di pojokan itu. Dito merasa yang tengah menundukkan kepalanya itu adalah Abel.




Barulah Dito bisa melihat wajah sosok yang duduk dipojokan itu yang ternyata adalah Abel. Dito membeku saat melihat linangan air mata di wajah istrinya. Dito melihat raut sedih istrinya disana. Ingin rasanya ia menghampiri sang istri tapi entah mengapa kakinya seperti dipaku ditempat.



Ia melihat Abel mengabaikan panggilannya. Ia lalu mengirimkan pesan, berharap akan dibalas. Tapi lagi lagi Abel hanya mengabaikan pesan yang masuk. Ia lebih memilih menangis dipojokan sana.



Dito penasaran dengan apa yang terjadi pun mulai mendekati Abel. Baru dua langkah ia berjalan seseorang menahan tangannya. Ia menoleh ke belakang dan ternyata yang menahan tangannya adalah Maria, teman sekelas Abel.



Ia melihat Maria dan Friska di sana menggelengkan kepalanya seolah meminta Dito untuk tidak menghampiri Abel yang saat ini butuh waktu untuk sendiri.



***



"Kenapa kalian tahan gue? Gue harus tau kenapa Abel sampe nangis kayak tadi." ucap Dito sebal saat Maria dan Friska menariknya keluar dari perpustakaan.

__ADS_1



"Please... Kasih waktu Abel untuk sendiri. Kita tahu loe khawatir sama Abel kita juga sama khawatirnya. Tapi biarin Abel sendiri dulu. Karena percuma lo samperin si Abel sekarang ngga akan ada gunanya. Yang ada lo ribut nanti ama dia." ucap Maria.



"Udah deh percaya aja sama Abel. Dia dalam kondisi gak pengen di deketin siapa siapa saat ini. Biarin dia tumpahin rasa sedihnya kayak gitu. Ini bukan pertama kalinya kita liat Abel kayak gitu. Loe tunggu aja nanti Abel cerita kok ke loe." ucap Maria lagi. Dito menoleh ke arah perpustakaan.



"Bener apa yang dibilang Maria. Mending kita biarin Abel sendirian dulu. Loe sekarang masuk ke kelas. Kita juga ke kelas." sambung Friska.



Dengan terpaksa Dito pun pergi dari perpustakaan dan kembali ke kelasnya. Begitu juga dengan Maria dan Friska. Sementara itu, Abel yang sudah lebih lega setelah menangis pun terdiam. Ia mencoba menarik nafas untuk merilekskan dirinya. Tak lama sebuah pesan pun masuk.



Maria



Belong... Dimanakah engkau?? Ada bu Ratmi nih. Buruan ya.



Abel membacanya sekilas lalu mengetik balasan untuk sahabatnya itu.



Oke gue ke kelas Sisteer...


Duh gue keasikan nih ampe lupa waktu 😁😁



Maria



Okaayyy 👍👍



Abel pun bangkit. Ia keluar dari perpustakaan, lalu singgah sebentar ke kamar mandi, mencuci mukanya sejenak lalu kembali ke dalam kelas dengan wajah yang lebih fresh.




***


__ADS_1


TBC...


__ADS_2