Hidden Marriage

Hidden Marriage
Bab 15


__ADS_3

Kabar meninggalnya ibu Abel membuat seluruh sekolah berduka. Terutama teman teman dekatnya Abel seperti Maria dan Friska. Maria dan Friska yang juga sangat akrab dengan Inneke pun ikut terpukul mendengar berita kematian ibu dari sahabatnya tsb.



Rumah kediaman Abel di daerah Kopo Sayati di padati pelayat yang menunggu kedatangan jenazah Inneke di rumah duka. Para guru dan murid murid serta tetangga dan sanak sodara sudah menanti kehadiran rombongan pengantar jenazah.



Tak lama iring iringan mobil jenazah pun tiba dirumah duka. Tangisan pun mulai terdengar. Beberapa orang mulai menggotong peti mati yang berisi jenazah Inneke yang sudah terkafani. Dito dan Ahmad ikut menggotong peti mati tsb.



Beberapa orang teman teman sekolah Abel dan Dito sempat bertanya tanya mengapa ada Dito turun dari mobil Ambulans. Tapi ke kepoan mereka sempat menghilang karena tak ingin mengacaukan suasana sedih hari itu.



Maria dan Friska memapah Abel yang terlihat kusut karena terus terusan menangis. Abel yang tak kuasa melihat jenazah Bundanya yang dikeluarkan dari peti pun beberapa kali terkulai lemas. Maria dan Friska memeluk dan memberikan dukungan moril untuk sahabat mereka.



Dito menghampiri Abel yang duduk tak jauh dari jenazah bundanya.



"Bel ambil wudhu yu. Bunda mau di sholatin." ucap Dito sambil mengusap rambut istrinya. Maria dan Friska saling bertatapan dan bertanya-tanya.



Abel mengangguk. Ia menerima uluran tangan Dito untuk bangun. Maria dan Friska yang beragama non muslim hanya bisa berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing.



***





Setelah menyolatkan sang bunda, tangis Abel kembali tak terbendung saat jenazah bundanya di bawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebuah makam keluarga yang berada 50 meter di belakang rumahnya. Dito kembali ikut memangul tandu jenazah mertuanya sambil melafalkan doa sepanjang perjalanan menuju makam.





Abel berjalan tertatih di dampingi oleh kedua sahabatnya. Banyaknya pelayat yang mengiringi proses pemakaman Inneke hari itu. Maria dan Friska kembali bertanya-tanya saat Dito ikut menabur kembang untuk almarhumah Inneke. Tak hanya itu, Dito juga menangisi kepergian Inneke.



Dito memeluk Abel yang menangis tersedu-sedu di pelukannya. Maria dan Friska serta beberapa murid disana yang menghadiri proses pemakaman hari itu dibuat bertanya-tanya.





'Ada apa dengan Abel dan Dito?'



Mungkin itu yang berada di pikiran anak-anak SMA Pelita Harapan yang menyaksikan kedekatan antara Dito dan Abel.



***



Seminggu sudah Inneke pergi meninggalkan suami, anak, menantu dan juga cucunya. Seminggu itu pula Dito harus pulang pergi berangkat ke sekolah dari rumah mertuanya karena Abel belum mau diajak pulang kerumahnya.


__ADS_1


Abel masih sering menangis tiap kali mengingat bundanya. Abel yang masih shock sudah seminggu ini belum masuk sekolah. Hanya Dito yang pergi sekolah. Meski bersedih Abel selalu ingat amanah bundanya yang harus ingat kewajibannya sebagai seorang istri. Abel selalu menyiapkan makanan bagi Dito suaminya. Dito juga lebih sering pulang cepat. Seminggu ini dia absen latihan basket.



Seperti hari ini Dito memberi kabar kalau dia akan pulang telat karena terpaksa harus hadir untuk latihan basket. Jadi Dito mau tak mau ikut latihan. Abel menerima telepon dari suaminya pun mengiyakan. Ia berpesan agar hati hati saat latihan.



"Telepon dari siapa Bel?" tanya Rahma kakak tertua Abel. Sejak Inneke meninggal, Rahma dan keluarganya kembali tinggal dirumah menemani sang ayah yang kesepian. Saat Abel menikah, Rahma tak sempat hadir karena suaminya sedang bertugas. Barulah seminggu setelah menikah Rahma bertemu dengan adik iparnya.



"Mas Adit teh. Mas Adit ijin pulang telat. Harus latihan basket. Dia udah beberapa hari ga latihan. Di cariin pelatih." jelas Abel setelah mematikan sambungan telepon dari Dito.



"Oh kirain siapa. Oiya teteh mau tanya. Kapan kamu mau pulang kerumah Dito, Bel? Bukannya teteh ngusir, tapi kasian loh Dito pulangnya kejauhan. Belum lagi jalannya macet parah. Tau sendiri jalanan Kopo kayak gimana."



"Tapi teh Ayah...."



"Kamu ga usah khawatir dek. Ayah kan ditemenin sama teteh dan Bang Rio. Terus ada Icha juga yang bikin heboh. Jadi Ayah juga ada temennya."



Abel terdiam memikirkan perkataan Rahma. Bukannya ia tak memikirkan itu, tapi rasanya berat jika harus pergi dari rumah meninggalkan ayahnya yang masih berduka. Tapi ia juga tak tega melihat Dito yang pulang pergi ke Kopo dari sekolah.



"Kasian Bel Dito. Udah mah capek di sekolah terus pulangnya macet macetan. Apalagi hari ini pulang sekolah mesti latihan basket. Kamu kan bisa ngunjungin ayah seminggu sekali."



"Teteh mu benar dek. Kasian Dito kejauhan pulangnya. Ayah ngga apa apa nak. Memang ayah sedih kehilangan bunda tapi ayah ga mau berlarut-larut. Pulang lah kerumah suami mu nak. Ayah dan teteh menerima kamu dengan tangan terbuka jika kamu dan Dito datang kerumah." ucap Ahmad yang baru pulang dari mesjid sehabis sholat Ashar.




"Kamu udah jadi milik Dito nak. Ayah udah ga berhak lagi. Nurut sama suami seperti pesan yang selalu diamanatkan oleh bunda. Insya allah ayah baik-baik aja."



Ahmad mengelus punggung putrinya. Ia juga sebenarnya tak rela jika Putri bungsunya pergi dari rumah. Tapi apa daya Putri bungsunya sudah ada yang memiliki. Ada yang bisa bertanggungjawab dan lebih berhak atas putrinya itu.



"Adek sayang ayah & bunda."



"Ayah dan bunda juga nak. Doakan bunda ya semoga khusnul khotimah. Ayah dan bunda selalu mendoakan yang terbaik buat Putri Putri ayah. Semoga rumah tangga kalian barokah. Sakinah, mawaddah dan warahmah. Amin...."



"Makasi yah." ucap Rahma dan Abel barengan.



***



Abel membawakan teh manis hangat ke kamar untuk Dito yang baru saja pulang latihan basket. Dito tiba dirumah pukul sembilan malam. Abel yang menyambut sang suami melihat wajah Dito yang kelelahan makin tak tega.



Apalagi saat masuk kamar, Abel melihat Dito tertidur dalam posisi tengkurap tanpa melepas atributnya. Abel yakin Dito pasti kelaperan tapi ia malah tertidur saking lelahnya perjalanan pulang. Jika dari rumah mertuanya Abel dan Dito hanya menempuh perjalanan tidak sampai 20 menit. Tapi jika dari rumahnya kurang lebih satu jam kalau lancar. Tapi kalau ngga lancar sih jangan ditanya berapa waktu yang dibutuhkan.



"Mas... Bangun dulu. Minum teh anget dulu, mandi baru tidur." ucap Abel yang disahuti gumaman tak jelas dari Dito.

__ADS_1



Abel melucuti satu persatu sepatu basket dan kaus kakinya. Bahkan tas basket pun masih melingkar di tubuhnya. Setelah semuanya lepas, Dito pun semakin lelap tertidur. Untungnya besok hari minggu jadi Abel akan membiarkan Dito puas tidur.



***



Tengah malam Dito terbangun. Ia mengucek matanya. Ternyata ia ketiduran setelah pulang latihan. Ia melirik ke sebelahnya ternyata Abel sudah tertidur sambil memeluknya. Dito tersenyum. Ia mengusap rambut istrinya itu. Dikecupnya dahi Abel lalu ia pun beranjak dari tempat tidur. Rasa gerah menyerang karena sepulang tadi ia tak sempat mandi.



"Mau kemana mas?" tanya Abel yang kebangun gara-gara lepas pelukan dari Dito.



"Loh kok bangun. Udah bobo lagi aja. Masih malem. Mas mau mandi gerah." ucap Dito sambil mengelus rambut Abel.



"Peluk." Dito tertawa.



"Sebentar ya mandi dulu biar Wangi. Gerah banget." Abel mengiyakan. Ia rela menunggu Dito mandi dengan air hangat. Setengah jam kemudian Dito pun keluar setelah mandi. Tubuhnya menjadi rileks. Ia pun segera memakai baju lalu bergabung dengan Abel yang sudah menantinya.



"Hummm... Wangi." ucap Abel sambil mengendus tubuh Dito.



"Seger banget yank. Bobo yu." ucap Dito. Abel pun makin mengantuk. Keduanya tak lama terlelap dan bangun menjelang subuh.



"Kita pulang yuk mas." ucap Abel setelah keduanya selesai sholat subuh berjamaah. Dito membalikkan tubuhnya menghadap Abel.



"Kita pulang ke rumah mama yuk." ucap Abel sambil tersenyum.



"Loh katanya mau tinggal disini temenin ayah. Kenapa jadi mau pulang."



"Aku gak tega liat suamiku pulang pergi kejauhan. Apalagi kayak semalem. Ga sempet makan, mandi sama minum udah langsung tepar."



"Gpp kalo mau tinggal disini. Lagian mama juga ngga ngebolehin mas pulang kalo ngga sama kamu."



"Yaudah kita balik ke rumah mama. Aku kangen mama papa mas. Kita bisa kunjungin ayah tiap weekend. Lagian disini ada teh Rahma sama bang Rio. Belum Icha yang bisa menghibur ayah. Kita pulang ya."



"Yaudah kalau maunya kayak gtu. Hari ini kita pulang. Abis sarapan kita pamit ya." ucap Dito sambil membelai wajah istrinya. Abel tersenyum mengangguk.



***



TBC...



__ADS_1



__ADS_2