
Mohon votenya ya pemirsah
250 vote ajaa 😁
Jangan lupa komen juga selain next or lanjut.
Biar semangat akunya melanjutkan cerita.
See you soon 🤗
🐝🐝🐝
Sudah satu jam Dito mencoba menelpon Abel namun tak ada jawaban. Ia juga menelpon teman temannya tapi tak ada yang tahu keberadaan istrinya itu. Akhirnya ia dan sang papa dibantu Brandon mencari keberadaan Abel yang hingga kini tak tahu keberadaannya dimana.
Ketiganya berpencar mencari Abel. Sarah menunggu dirumah dengan khawatir. Ia berharap menantu kesayangannya pulang kerumah.
Dito mencari di sekitaran sekolah. Entah mengapa kakinya membawanya kesana. Benar saja Dito melihat Abel yang berlari ketakutan keluar dari gerbang sekolah. Bahkan Pak Imin satpam yang bertugas malam itu pun berteriak memanggil namanya.
Abel sesekali menengok ke belakang seperti ada orang yang mengikutinya. Ia bahkan menabrak Dito cukup keras dan terjatuh. Abel menatap sekilas. Ia histeris dan akhirnya pingsan di pelukan Dito.
***
__ADS_1
Dito menanti dengan gelisah di lorong rumah sakit. Ronald dan Brandon pun terlihat gelisah tapi mereka hanya bisa duduk dan berdoa dalam hati demi kesembuhan Abel. Tak lama dokter yang memeriksa Abel pun keluar. Dito dan yang lainnya segera menghampiri.
"Dok bagaimana kondisi istri saya?" tanya Dito khawatir.
Dokter tua itu melihat kearah Dito, Ronald dan juga Brandon. Ia menghela nafas.
"Istri anda kondisinya sangat memprihatinkan. Ia terlihat sangat depresi. Apakah ada hal yang membuat istri anda seperti itu?" tanya dokter
"Astagfirullah...." ucap Dito lemas.
"Ditubuh istri Anda ada banyak tanda tanda kekerasan." lanjut dokter Adrian.
Dokter Ardian terdiam.
"Apa istri saya baik baik saja dok?"
"Luka luka luar sudah ditangani dengan baik. Bahkan luka robekan yang cukup dalam di lengan kanannya sudah dijahit. Tapi saya tidak yakin dengan luka bathinnya." ucap dokter Ardian sambil menepuk pundak Dito.
__ADS_1
"Boleh saya menemui istri saya dok?"
"Boleh tapi jangan terlalu lama. Istri mu butuh istirahat dan ketenangan." ucap dokter Ardian. Dokter tua itu pun pamit.
"Dit... Gue pamit dulu ya. Besok gue kesini lagi. Loe yang kuat ya Dit." ucap Brandon menguatkan. Dito menoleh sekilas.
"Thanks bro."
Brandon pun pamit pulang. Di sana hanya tinggal Ronald dan juga Dito. Dito tak sedikit pun meninggalkan Abel sendirian. Bahkan disaat Ronald terlelap di sofa, Dito tetap menatap sendu wajah istrinya yang terlihat pucat. Jarum infus menempel di kulitnya. Bahkan lengannya terlilit kain kassa steril. Dito menggenggam tangan Abel sesekali menciumi lengan itu dengan lembut.
Rasa kantuk, lelah, lemas semuanya bergabung menjadi satu. Tapi Dito tak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Ia ingin saat istrinya membuka mata, ia lah yang dilihat pertama kali.
"Sayang... Ayo bangun. Aku kangen kamu yank. Maafin aku bikin kamu kayak gini." sesal Dito sambil mengusap air mata yang keluar dari matanya.
"Maafin mas sayang. Maafin mas..."
***
__ADS_1
TBC