Hidden Marriage

Hidden Marriage
Bab 25


__ADS_3

WARNING TYPO BERTEBARAN!!!



💃💃💃



Flashback on



Dito berlarian ke ruang guru untuk menemui wali kelas Abel, Pak Anwar. Dito terengah-engah saat tiba di meja Pak Anwar.



"Dito? Ngapain kamu lari lari segala sampe ngos ngosan." tanya Anwar.



"Pak saya mau tanya hasil tes Abel. Gimana hasil tes Abel?" tanya Dito sambil duduk di kursi depan meja Anwar. Anwar mengernyitkan dahinya.



"Emang kamu siapanya Abel pake kepo segala?"



"Ya elah bapak. Saya pacarnya Abel. Makanya saya tanya nilai pacar saya."



"Halaah baru pacar aja songong." ucap Anwar. Tak lama ia membuka map hasil ujian Abel.



"Nih lihat sendiri nilai pacar kamu." ucap Anwar sambil menyodorkan hasil tes milik Abel. Dito menerimanya. Dito terkejut dengan hasil tes Abel yang jauh dari kata sempurna.



Dito bengong melihatnya. Ia mengucek ngucek matanya seakan tak percaya. Tak mungkin nilai istrinya jelek. Padahal ia sangat rajin belajar dibandingkan dirinya.



"Ga mungkin Pak. Ini pasti bukan nilainya Abel." ujar Dito tak percaya.



"Kenap tak percaya? Bukan kah sudah jelas nama yang tertera disana. MARIBELL ANDRIANA. Apanya yang salah?"



"Tapi...."



"Saya beri tahu. Karena kamu mengaku sebagai pacarnya, otak kamu kan cerdas. Coba gunakan otak mu yang cerdas itu buat bantu pacar kamu. Dengan nilai seperti ini, Bapak yakin tidak akan bisa lulus Ujian Nasional. Jadi Bapak mohon bantu dia belajar untuk menaikkan nilainya. Minimal bisa lulus Ujian Nasional saja. Kalo lulus perguruan tinggi favoritnya itu mah bonus. Bapak mohon Dito, bantu Abel." ucap Anwar sambil menepuk pundaknya.



Flashback off



***

__ADS_1



Sepulang sekolah Dito mencoba menghibur istrinya dengan mengajaknya makan malam di sebuah restoran Jepang di Jalan Setiabudhi Bandung. Dito sama sekali tidak membahas sama sekali tentang nilai ujian kepada Abel. Ia tahu Abel tengah bersedih akan hal itu.



Dito melihat Abel berpura-pura senang dan bahagia diajak makan malam. Bahkan Abel tak nyambung saat diajak bicara olehnya. Tatapan matanya kosong tapi senyum terus menghiasi wajahnya.



Abel yang sedang tidak mood untuk diajak jalan oleh Dito meminta pulang setelah makan malam mereka usai. Dito pun mengiyakan. Keduanya pulang kerumah. Selama perjalanan, Abel hanya memeluknya erat dan menyandarkan kepalanya di pundak Dito. Biasanya mereka saling menjahili satu sama lain. Tapi kali ini berbeda.



Dito seolah tengah membawa boneka besar di punggungnya. Dito menghela nafas melihat Abel yang sangat tidak ceria seperti itu. Dito terus memantau istrinya dari kaca spion motornya. Dito teringat sesuatu. Ia suka menjahili istrinya dengan tiba-tiba merem mendadak. Biasanya Abel akan kaget dan ngomel ngomel ga jelas dibelakang sana.



Dito mencoba melakukan hal yang sama tapi reaksi Abel berbeda. Ia hanya memejamkan matanya kuat kuat dan meremas jaket yang dikenakan Dito. Tak ada umpatan atau gerutuan yang keluar dari bibirnya. Dito merindukan celotehan dan omelan Abel. Ia pun kembali melajukan motornya menuju rumah.



Setibanya dirumah, Abel langsung turun dari motor lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Dito yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya. Entah mengapa disaat Abel sedang bad mood sang mertua selalu sedang tidak ada dirumah. Jadi Abel bebas tidak harus basa basi. Ia melangkahkan kakinya ke lantai dua dimana kamar yang selama hampir 7 bulan ini di tempatinya. Tanpa ingin berganti baju terlebih dahulu, Abel langsung merebahkan diri di ranjang dan berharap ranjang itu akan menenggelamkannya sedalam dalamnya.



***



Keesokan harinya, Abel terbangun dan merasa sakit kepala luar biasa. Efek menangis di sekolah kemarin dan juga saat sampai dirumah, membuat kepalanya berdenyut. Ia melirik ke samping dimana sang suami selalu menemaninya tidur. Ternyata kosong. Hanya seprai yang kusut seperti bekas ditempati. Abel melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Abel pun bangun perlahan karena tak kuat menahan nyeri kepalanya.




"Ma... Mama jangan maksain Dito donk buat kuliah. Dito ga minat sama sekali denga kuliah. Dito mau jadi atlit basket aja." ucap Dito kekeuh ingin menjadi atlit profesional Basket seperti Michael Jordan idolanya.



"Dito, emang digaji berapa sih jadi Atlit? Denger ya di kita aja Atlit tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah, lain halnya dengan di luar negeri. Mama kepingin kamu masuk kedokteran nak. Sama kayak Abel yang mau masuk kedokteran juga. Mama ingin kau seperti itu juga. Anak dan menantu mama seorang dokter duh rasanya mama bangga."



"Kan ada Abel yang mau jadi dokter, yaudah dia aja. Aku tetep jadi atlit mah."



"Ngga. Mama ngga akan ridhoi kamu jadi atlit. Ngga akan pernah kamu sukses jadi atlit. Inget ucapan mama." ucap Sarah kesal.



"Terserah mama!"



"Dito! DITOO!! Mama belum selesai bicara!" teriak Sarah yang merasa diabaikan oleh putranya.



Dito beranjak dari sana. Malas meladeni keinginan mamanya yang terlalu memaksakan kehendak. Ia naik ke lantai dua kamarnya. Mending tidur menemani istrinya dikamar dari pada mendengar omelan mamanya.



"Loh sayang... Kamu udah bangun? Mas baru aja mau bangunin kamu." ucap Dito saat melihat Abel duduk di sofa dilantai dua. Dito menghampiri Abel dan duduk di sampingnya.

__ADS_1



"Mas kangen kamu yank. Kamu kok pendiem banget sekarang." ucap Dito sambil memeluk Abel dengan erat. Di ciuminya rambut istrinya yang sudah menjadi kebiasaannya.



"Kenapa..." ucap Abel. Dito menjauhkan tubuhnya dari Abel. Ia menatap Abel yang terlihat menahan air matanya.



"Hm?"



"Kenapa mas ngga mau kuliah dan memilih jadi Atlit?" tanya Abel to the point.



"Kamu denger ya. Jadi tahu kan alasannya kenapa milih jadi atlit dibanding kuliah." ucap Dito santai.



"Aku ngga ngerti jalan pikiran kamu mas. Disaat kamu dengan otak cerdas dan nilai yang sempurna yang bahkan bisa masuk ke perguruan tinggi yang orang lain tidak bisa raih justru kamu menolaknya. Apa otak kamu bermasalah!!" ucap Abel mulai meninggikan suaranya.



Dito mengerjap. Ia kaget Abel meninggikan suaranya.



"Hei... Heii kenapa sih kamu. Kok malah marah." tanya Dito kebingungan.



"Justru aku yang tanya kamu kenapa?! Aku yang otaknya pas pasan aja berjuang sekuat tenaga meski hasilnya jauh dari kata sempurna." Abel mulai tak bisa mengontrol emosinya. Rasa amarah, iri bergabung menjadi satu di dadanya kini meluap begitu saja. Air matanya mengalir begitu saja.



"Tapi kamu... Kamu... Hiks... Aku benci sama kamu!!!" ucap Abel pergi meninggalkan Dito dengan air mata yang membasahi wajahnya. Ia masuk ke kamar tamu dan membanting pintu cukup kuat dan menguncinya.



Sarah yang mendengar suara Abe yang tengah emosi pun berlarian ke lantai dua. Ia melihat Abel menangis dan masuk ke kamar tamu. Sedangkan Dito terdiam duduk di sofa. Tak lama terdengar tangisan pilu dari Abel yang menyayat hati.



Itu pertama kalinya Abel dan Dito terlibat pertengkaran selama keduanya membina rumah tangga.



"Astagfirullahaladzim... Dito ada apa sebenarnya? Kenapa Abel terlihat marah nak." tanya Sarah bingung.



Dito menggelengkan kepalanya pelan. Lalu ia beranjak dari sofa menuju kamarnya sendiri. Sarah hanya bisa mendoakan yang terbaik agar anak dan menantunya segera berbaikan.



***



TBC


__ADS_1


__ADS_2