

Vote & komennya ya
Please jgn komen "NEXT" or "lanjut kak" dan sejenisnya karena tanpa kalian minta aku pasti UP kok.
💃💃💃
Sudah tiga hari ini Dito dan Abel saling berdiam diri. Abel tetap melayani Dito seperti sarapan dan juga pakaiannya. Keduanya juga masih pisah kamar. Tak ada satu pun yang mau mengalah, berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Keduanya berego tinggi.
Abel juga terlihat murung dan tak bersemangat ke sekolah. Jika biasanya ia selalu bareng dengan Dito, akhir akhir ini entah Abel atau Dito yang berangkat duluan. Kalau pun bareng Abel lebih memilih jalan kaki keluar kompleks lalu naik angkot ke sekolah. Keduanya saling diam dan dingin satu sama lain.
Tapi kediaman keduanya justru menjadi kesenangan tersendiri bagi Chika dan genknya. Chika dan genknya yang seminggu lalu sudah mulai bersekolah, menunggu dengan sabar keduanya lengah. Chika kembali menculik Abel dan melampiaskan kekesalannya kepada gadis itu.
Kali ini Chika dan teman temannya membawa Abel yang sudah terlelap karena di beri obat tidur, ke bagian paling belakang gedung terbengkalai di sekolahnya. Abel di dudukkan di kursi. Tangan dan kakinya terikat serta mulut yang tertutup solatif hitam.
"Loe pikir dengan di skors dendam gue sama loe ilang begitu aja hm... Ngga sama sekali. Tiap menit gue menahan amarah gue untuk gue lampiasin sama loe hari ini. Siap siap aja loe ya." ucap Chika dengan tatapan benci dan amarah yang menggunung saat Abel membuka matanya.
Abel membelalak. Chika mencengkram rahangnya cukup kuat hingga ia meringis kesakitan. Abel meronta dan berusaha untuk bicara tapi sayang ia tak bisa. Mulutnya di plester. Abel hanya bisa berteriak teriak tak jelas. Chika dan teman temannya malah tertawa puas.
"Kali ini gue pastiin loe gak akan bisa ditemuin Bel. Gue harap penghuni gedung ini yang bakal makan loe Bel. Hahaha..."
Abel menggelengkan kepalanya. Tangisannya semakin menjadi. Chika dan teman temannya pergi dan mengunci pintu tempat dimana Abel disekap. Abel meronta sambil berteriak memohon agar tak ditinggalkan sendirian tapi percuma.
Abel menjerit histeris. Ia melihat sekeliling bangunan yang terasa lembab dan gelap itu. Hanya ada suara tetesan air yang menerobos masuk dari sela sela atap bangunan.
Abel berusaha membuka selotip yang menutup mulutnya dengan membungkukkan badannya kearah tangannya yang terikat selotip juga. Berkali kali Abel mencoba membuka selotipnya dan berkali kali juga Abel gagal. Ia marah pada dirinya sendiri.
Ia mencoba lagi kali ini ia mencoba menenangkan diri dan akhirnya bisa terlepas. Abel menghirup nafas lega setidaknya ia bisa berteriak meminta pertolongan.
"Tolooooong... Toloongin gue" teriak Abel kencang. Ia tahu gedung bekas di belakang sekolah ini sudah lama tak pernah dijamah oleh manusia. Bahkan murid murid dilarang masuk ke area itu. Abel terus berteriak minta tolong sambil berusaha melepaskan tangannya dari selotip yang menempel kuat.
***
__ADS_1
Sementara itu, Dito dimarahi oleh pelatih karena tidak konsen dengan latihannya. Ia merasa ada hal buruk yang sedang terjadi.
"Hei Dito!! Bisa maen ga kamu, hah!! Dari tadi ngaco terus! Becus maen ngga?! Kalo ngga becus keluar dari tim." omel Pak Rama pelatih basket. Dito mengusap wajahnya kasar.
"Istirahat 10 menit habis itu mulai latihan." ucap Pak Rama tegas.
Dito segera melipir ke sisi lapangan. Ia terlihat kusut dan tak fokus. Itulah yang menyebabkan permainannya jelek. Brandon menghampiri Dito sambil menyerahkan sebotol air minum kemasan. Dito menerimanya lalu meneguknya.
"Lagi berantem sama Abel?" tanya Brandon penasaran melihat temannya kacau. Tak hanya saat latihan saja, saat dikelas dan dikantin pun Dito seperti orang yang tak bernyawa.
Dito mengangguk. Ia menundukkan kepalanya sambil mengumpat kesal.
"Kalian kenapa lagi. Udah berapa hari diem dieman? Di rumah juga diem-dieman?"
"Tiga hari." jawab Dito pendek.
"Ckckckck... Kalian tu yah. Kalo lagi berantem aja udah kayak anak TK rebutan maen. Gada yang mau ngalah. Kalo lagi mesra beuuuh....yang ngontrak."
"Ga enak gimana?"
"Ngga ngerti gue juga. Perasaan gue bilang kayak ada hal buruk yang terjadi. Tapi gue ngga tau itu apa."
"Cuma perasaan bersalah aja Dit karena loe ga mau minta maaf duluan sama Abel."
"Iya kali. Nanti deh dirumah gue minta maaf sama dia."
"Nah gitu donk. Yok ah mulai lagi latihannya. Yang fokus bro. Ini pertandingan terakhir kita sebelum fokus ujian nasional."
"Kayaknya gue mau langsung pulang aja deh. Ga tenang gue kalo belum minta maaf ama istri." bisik Dito sambil nyengir. Brandon tertawa.
"Yaudah balik sono. Makanya jangan sok sokan pundung kayak anak TK tau."
"Mana ada anak TK yang bisa bikin anak." ucap Dito sambil menjulurkan lidahnya. Brandon menumpuk kepalanya dengan botol kemasan yg kosong. Dito berlari keluar lapangan basket. Ia tak sabar ingin segera menemui istrinya dirumah.
__ADS_1
***
Abel yang sudah lelah menangis pun tertidur. Tak lama ia membuka matanya. Ia beberapa kali mengerjapkan matanya untuk melihat sekeliling. Gelap hanya itu yang bisa di lihat oleh Abel. Ia ketakutan. Takut yang amat sangat.
Saking takutnya membuat Abel parno tingkat tinggi. Ia berusaha melepas ikatan selotip ditangannya. Abel terus melafalkan doa doa agar ia tak di ganggu oleh penghuni gedung tua itu. Abel sama sekali tak mendengar ada orang yang lewat. Abel terus berharap agar ada yang bisa membantunya. Ia terus berteriak meminta tolong.
Rasa haus dan lapar yang mendera diabaikannya. Yang ia inginkan hanyalah terbebas dari gedung itu dan kembali ke rumah.
"Toloong... Toloong..." isak Abel yang sudah tak berdaya melepas ikatan di tangannya.
"Ayah... Tolongin Abel yah... Abel takut... Hiks..." isak Abel tak berhenti.
Kriiiing... Kriiiing...
Abel mendengar handphonenya bunyi. Ia mencari cari dimana keberadaan handphonenya yang ternyata berada tak jauh darinya. Abel berusaha menggeserkan kursi mendekati handphonenya yang berada di dalam tas. Tapi ia malah jatuh ke lantai yang lembab.
"Aaaaarrggghhhh!!!!" teriak Abel frustasi karena ia tak bisa bangun karena terhalang kursi. Abel benar-benar kesal dan marah. Ia hanya bisa menangis melihat Dito yang berkali-kali menelponnya. Ia sangat ingin menjawab handphonenya tapi tak terjangkau.
Sementara itu...
"Kamu dimana Bel? Kenapa belum pulang sayang?" gumam Dito khawatir.
***
TBC....
Next....
"PERGI!! PERGI!! JANGAN MENDEKAT!!" teriak Abel histeris
Nah loh
__ADS_1