
"Assalamualaikum Dito." ucap seseorang di sebrang sana saat Dito mengangkat teleponnya.
Dito melihat layar handphonenya dan tertulis 'Ayah Ahmad' mertuanya. Ia pun kembali menempelkan handphonenya.
"Waalaikum salam yah. Apa kabar yah? Bunda gimana kabarnya?" sapa Dito sambil menjauh dari teman temannya.
"Alhamdulillah ayah baik nak. Tapi Bunda tidak. Mohon doanya. Bunda semalam dilarikan ke RS Al Fatih karena sesak nafas. Kamu bisa datang dan temani Abel disana nak? Ayah sedang ada kerjaan di kantor yang tidak mungkin ditinggalkan."
"Astagfirullahaladzim. Oke oke yah Dito pergi ke rumah sakit Al Fatih sekarang ya." ucap Dito panik.
"Makasih nak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam yah."
Dito langsung kembali ke kelas, mengambil tasnya dan pergi dari sana sambil berlari. Ia mengabaikan teriakan teman temannya dan juga Pak Hasan guru matematika yang tengah mengajar di kelasnya.
Dito buru Buru ke parkiran motor dan langsung melesat di jalanan. Ia berdoa untuk keselamatan ibu mertuanya. Meski belum ketemu lagi usai pernikahan, tapi Dito yakin bundanya adalah wanita yang baik dan lembut. Tiap kali Dito bertatap wajah dengan ibu mertuanya, ia merasakan tenang dan damai.
***
Setibanya Dito rumah sakit, ia melihat Abel tengah menangis terduduk dengan seorang dokter di sampingnya. Ia segera berlari menghampiri mereka. Abel yang melihat Dito pun memeluknya dan menangis.
"Ada apa dok dengan bunda?" tanya Dito khawatir.
"Apa anda keluarganya?"
__ADS_1
"Saya menantunya dok. Ada apa dengan mertua saya?" tanya Dito tak sabar.
Dokter muda itu melihat Abel dan Dito yang masih berseragam SMA tapi sudah menikah.
"Bisa kita bicara diruangan saya? Istri anda tidak memungkinkan untuk diajak bicara." ucap dokter itu. Diti menatap istrinya. Abel menggelengkan kepala. Ia tak mau ditinggal sendirian.
"Istri saya boleh ikut kan dok?" tanya Dito kepada dokter yang merawat Inneke.
"Boleh. Tapi saya harap keluarga bisa menerima ya." Dito mengiyakan.
Dito dan Abel pun pergi ke ruangan dokter untuk membicarakan kondisi Inneke. Dito dan Abel mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan dokter Bram. Hati Abel semakin hancur saat mendengar Inneke yang semakin drop. Cangkok ginjal yang di lakukannya setahun lalu malah memperburuk kondisi Inneke.
Kali ini yang lebih buruk. Tubuh Inneke semakin lemah dan sudah tak sanggup berjuang. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Inneke tak akan bertahap lebih dari tiga hari. Dokter memberitahu baik dan buruknya kondisi Inneke agar keluarga siap menghadapi kepahitan ini.
***
"Dito kemarilah." panggil Ahmad keluar dari ruang ICU. Dito pun menghampiri.
"Bunda pengen ketemu kamu." ucap Ahmad dengan mata berkaca. Dito yang sedari tadi khawatir pun semakin takut. Ia menatap Ahmad yang memintanya segera masuk. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang yang serba steril itu.
Dito yang telah mengenakan baju, topi dan masker serba hijau itu pun mengikuti ayah mertuanya menuju kamar Inneke. Baru beberapa langkah tiba tiba Ahmad dan Dito mendengar teriakan Abel dari dalam serta bunyi mesin yang terpasang di tubuh lemah Inneke.
Keduanya pun berlari. Dito terpaku di depan pintu kamar. Ia melihat beberapa perawat dan dokter saling bergantian memompa dada Inneke untuk membuat jantung itu kembali berdetak. Abel menangis kencang dalam rengkuhan ayahnya. Begitu juga dengan Ahmad yang ikutan menangis.
__ADS_1
Beberapa perawat bergantian memompa dada Inneke tapi sayang Inneke tak menunjukkan respon apapun. Monitor yang terpasang di samping tubuhnya sudah menunjukkan garis datar.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un." ucap dokter dan perawat disana.
Dito terduduk lemas di depan pintu saat dokter mengucapkan belasungkawa. Air mata Dito mengalir begitu saja. Ia tak kuat menahan air matanya.
"BUNDAAAAAAA" teriak Abel histeris sambil mengguncang guncang tubuh Inneke yang terbujur kaku dengan selang di sekujur tubuhnya. Ahmad ayah mertuanya mencoba menghentikan Abel yang tampak histeris kehilangan bundanya. Ahmad pun berhasil merengkuh tubuh putrinya kedalam pelukannya. Keduanya menangis tersedu sedu.
Dito mencoba berdiri. Ia berusaha berjalan mendekat. Ia ingin melihat wajah mertuanya untuk terakhir kalinya. Ia juga ingin mengucapkan kata perpisahan untuk bundanya.
Dito menunggu sejenak jenazah Inneke yang tengah di lepasi alat alat penunjang hidupnya oleh perawat barulah ia bisa mengelus wajah pucat ibu mertuanya yang tampak tersenyum.
Ya Allah Engkau membuat bunda tersenyum pergi meninggalkan kami. Bunda sudah sembuh. Bunda udah ngga sakit lagi. Bunda tenang aja jangan mikirin Abel karena ada Dito yang akan menjaga Abel dan juga ayah.
Doa kami sebagai anak akan selalu mengiringi kepergian Bunda di alam kekal sana. Doakan kami ya Bunda agar kita bisa melanjutkan hidup meski hampa tanpa kehadiran Bunda.
Dito dan Abel sayang Bunda.
Ungkap Dito dalam hati sambil mencium tangan ibu mertuanya. Tak lupa ia juga mencium dahi mertuanya untuk terakhir kali.
***
TBC...
__ADS_1