
Keesokan harinya polisi datang ke SMA Pelita Harapan untuk mengecek tempat kejadian perkara. Polisi juga sebelumnya datang ke rumah sakit melihat kondisi Abel yang masih trauma tapi ia sudah bisa di ajak komunikasi.
Sehari sebelumnya polisi juga sudah datang ke sekolah dan menanyai beberapa murid termasuk Chika dan genknya. Chika dan genknya merasa diatas angin karena mereka tahu cctv di gedung terbengkalai itu mati. Maka mereka terbebas dari tuduhan telah menyakiti Abel.
Tapi polisi tak sepenuhnya mempercayai pengakuan Chika dan teman temannya. Salah satu polisi merasa ada sesuatu hal yang aneh dengan sekolah itu. Maka dari itu ia bersama satu orang anak buahnya kembali datang ke sekolah dan kembali memeriksa gedung terbengkalai tsb.
Perwira polisi yang bernama Ajun Sentana merasa tubuhnya tak bisa dikontrol olehnya. Ia melangkahkan kakinya ke tempat dimana Abel disekap untuk kedua kali. Ajun membiarkan dirinya mengikuti insting yang sepertinya ingin mengungkap kejadian sebenarnya.
Setibanya di tempat kejadian, Ajun melihat beberapa cctv terlihat menyala. Padahal sebelumnya ia dan anak buahnya sudah mengecek berkali kali jika cctv di gedung itu mati meski semuanya terpasang dengan baik.
"Ijin dan. Bukannya cctv ini kemarin mati ya. Tapi kenapa sekarang menyala?" tanya Bagas anak buah Ajun yang ikut ikutan bingung dan heran.
"Kamu benar. Kemarin kita memastikan betul betul kalo cctvnya off. Cepat periksa cctvnya siapa tahu kita akan menemukan pelaku dan kejadian yang sebenarnya." ungkap Ajun sangat yakin.
"Baik dan." ucap Bagas. Ia memberi hormat lalu meninggalkan Ajun yang masih kebingungan dengan semua ini. Tanpa Ajun sadari, makhluk bermata merah itulah yang kembali menyalakan cctv tsb. Sebenarnya cctv tsb tak pernah mati. Kekuatan si makhluk merah itulah yang membuatnya seolah cctv itu mati.
Ajun pun pergi meninggalkan gedung itu dan ikut memeriksa rekaman cctv bersama Bagas. Semua terekam dengan jelas tapi hanya bagian Abel yang disiksa. Ajun dan Bagas terdiam tak percaya bagaimana bisa anak SMA bersikap bar bar seperti itu. Ajun membawa rekaman cctv itu kepada pihak sekolah. Betapa marahnya kepala sekolah karena Chika lagi lagi terlibat masuk penyiksaan terhadap Abel tapi dengan santainya ia menyangkal. Kepala sekolah meyakinkan bahwa kali ini pihak sekolah angkat tangan karena ini sudah masuk jalur hukum. Polisi pun segera mengambil tindakan tegas akan hal ini.
Chika dan teman temannya akhirnya mendekap dipenjara karena kasus penganiayaan dan perencanaan penyekapan terhadap Abel. Meski Abel telah memaafkan mereka tapi trauma yang masih tersimpan di hatinya tak bisa hilang begitu saja. Apalagi Sarah bersikeras tak ingin mencabut tuntutan kepada ketiga siswi nakal tsb.
Abel kembali ke sekolah. Ia sudah diperbolehkan pulang dua hari lalu. Meski mulai kembali ceria, Dito tetap saja khawatir. Apalagi saat Abel meminta mertuanya untuk mencabut tuntutan dari ketiga siswi nakal tsb. Tapi percuma hukum sedang berjalan.
***
__ADS_1
Tak terasa ujian nasional di depan mata. Selama beberapa bulan terakhir Dito mulai mengajari sang istri mempersiapkan ujian nasional. Meski ujian Abel akhir akhir ini cukup baik tapi tetap saja Ujian Nasional menjadi momok bagi para siswa.
"Jadi mas mau ikut ujian apa?" tanya Abel saat pulang bergandengan tangan dengan Dito.
"Mas ga mau kuliah yank. Basket aja ya di tekunin." melas Dito.
Pletak
"Aduuh yank sakit tau" ringis Dito memegangi kepalanya. Abel menimpuk kepala Dito dengan tangannya.
"Kalo ngomong itu di pikir dulu. Asal nyembur aja. Aku pengennya mas masuk kedokteran gantiin aku buat ngobatin pasien pasien yang kayak bunda. Aku mau jadi dokter karena bunda. Tapi mas tau sendiri otak aku ngga nyampe sana. Mas bantuin aku belajar aja udah alhamdulillah."
"Tapi yank ngebosenin tau fakultas kedokteran tuh."
Dito meraih tangan Abel yang tengah mengelus wajahnya. Keduanya bertatapan mesra.
"Suamimu ini ga sehebat itu sayang. Mas takut bikin kamu kecewa." ucap Dito lirih tanpa mengalihkan tatapannya kepada Abel.
"Aku yakin mas. Bismillah ya. Mau ya sayang ujian di fakultas kedokteran?" pinta Abel.
"Kamu yakin ga cemburu? Fakultas kedokteran itu banyak cewek cewek calon dokter yang cantik cantik. Yakin mas nya ngga akan tergoda?" ucap Dito sambil mulai mendekatkan bibirnya di bibir Abel yang terbuka. Ia mengecup sekilas.
"Aku yakin suami ku ga akan selingkuh." ucap Abel pasrah saat bibir tebal Dito menciumnya. Abel membuka mulutnya menyambut ciuman mesra Dito. Keduanya berciuman mesra ditaman.
Dito menarik tubuh istrinya semakin dekat. Abel mengalungkan tangannya dileher dan membalas tiap ciuman dan cumbuan Dito. Keduanya terengah saat melepas ciuman mereka. Dahi mereka menempel satu sama lain.
__ADS_1
"Percayalah kalau dulu mas playboy tapi untuk menikah mas hanya mau satu kali seumur hidup dan itu hanya sama kamu yank."
Dito membelai wajah istrinya. Abel menikmati sentuhan lembut Dito di wajahnya.
"Oh sayang... Mas udah ngga sabar pengen cepet cepet ujian nasional selesai." erang Dito kesal.
"Loh memangnya kenapa mas?" tanya Abel bingung.
"Mas pengen cepet cepet halalin kamu yank. Mas ngga sanggup nahan lebih lama lagi." ucap Dito jujur. Abel langsung merona. Ia tahu Dito masih memegang Teguh janjinya kepada alm bunda untuk tidak menyentuh Abel sebelum keduanya lulus sekolah.
"Maasss...."
"Mas masih kuat nahan sayang. Tapi cuma sampai ujian nasional selesai aja. Selebihnya mas ga sanggup nahan lagi." bisik Dito sambil mencium telinga Abel.
Abel mencubit perut Dito yang keras. Dito meringis sambil tersenyum.
"Makasih dan maaf udah menunggu lama untuk itu. Aku juga udah ngga sabar buat di halalin sama mas."
Keduanya tersenyum lalu berpelukan mesra.
***
TBC....
Okeaayy sekian dulu untuk malam ini. Besok lagi yak 🤗
__ADS_1