Hidupku penuh air mata dan luka

Hidupku penuh air mata dan luka
tahanan suami


__ADS_3

Hari hari aku lalui dengan banyak drama sejak ikut Om Arif, tiap pagi dia selalu marah bila aku telat membangunkan sedangkan aku yang sibuk di dapur tak sempat bolak balik ke kamarnya.


" kamu itu kerjanya lelet banget sih,masa kerja gitu aja lambat kayak siput." bentaknya karena aku telat bawakan dia kopi.


" Maaf,aku lagi gak enak badan jadi ga bisa gesit." ucapku membela diri namun itu sia sia belaka.


"Alasan aja terus,bilang saja kmu malas layani aku." bentaknya sambil membanting gelas kopi dekat kakiku alhasil pecahan kaca melukai kakiku.


" nangis lagi nangis lagi,,,,,bosan aku liat air mata kamu." bentaknya berlalu ke kamarnya,dan tak lama kemudian dia keluar membawa koper.


" hari ini aku ada urusan keluar kota,kamu tidak usah masak untukku. Dan kamu tidak boleh keluar drdi rumah selama aku enggak ada." ucapnya.


" berapa hari om akan pergi." tanyaku karena kalau lama aku ingin pulang ke rumah kak hasna.


" seminggu, dan kamu tak usah kemana mana."


Ucapnya melarangku,pupus sudah inginku melepas rindu sama keluargaku.


" baik om. Aku minta uang om aku mau beli keperluanku." pintaku karena selama menikah aku tak pernah dia beri pegangan uang.


" kamu mau beli apalagi sih,hambur hamburkan uang saja terus. Sudahlah gak usah kamu keluar rumah,dikulkas bahan masakan sudah aku sediakan,jadi kamu gak perlu belanja lagi makan seadanya saja." tolaknya membuatku miris sekali bahkan sepeser uang pun tak dia be ku ip ri namun akupun tak pernah mau ambil simpananku. Ya sampe sekarang gak ada yang tau simpananku itu.


" tapi aku mau beli pembalut om,persediaanku habis." ucapku mengharap.


" tidak usah keluar beli,nanti aku belikan kamu tunggu saja paketnya." ucapnya." ya sudah aku berangkat dulu." ucapnya berlalu. Dan ku dengar bunyi suara kunci diputar,aku pun keluar melihatnya ternyata aku dipenjara dalam rumah.


Pernikahan apa yang aku jalani ini,Tuhan. Aku tidak bisa berinteraksi dengan dunia luar,hp ku pun dia sita,aku betul betul terisolasi dari dunia luar. Kini aku sendirian,ga ada handpone,gak ada teman cerita. Aku menangis tergugu,baru 1 bulan menikah penderitaan dan tekanan batin yang ku alami benar benar membuatku gila. Aku harus apa untuk menemukan kebahagiaan. Tak lama kemudian ada kurir,mungkin itu  pembalut yang aku minta tadi pagi. Kurir mengetuk pintu namun terkunci dari luar. Aku pun menyingkap jendela.


"Maaf mba,ini ada paket." ucap sang kurir.

__ADS_1


" ya udah mas,sini lewat jendela saja." ucapku meminta paket. Tampak  sang kurir meliat liat sekeliling membuat aku heran.


" ada apa mas?" tanyaku,


" mbak,terkurung dirumah atau bagaimana?"


" kok sepi sekali mbak,atau mbak butuh bantuan?"tanya kurir  menawarkan bantuan,tampaknya aku begitu memprihatinkan.


"Boleh saya pinjam hpnya mas,saya mau telpon mama saya?" pintaku. Untungnya aku hafal nomor mama.


"Ini mbak,kasian mbak kok dikurung?" tanyanya lagi yang hanya ku balas senyuman. Telepon berdering dan tak lama suara mama menjawab.


" halo ma,ini Aini ma. Tolongin Aini ma,Aini gak sanggup tinggal disini lagi." tak tahan lagi aku menangis tersedu,dan membiarkan kurir duduk di teras menunggu.


" kamu kenapa? Bagaimana pun kamu itu tanggung jawab suami kamu,mama gak mau ikut campur. Bagaimanapun dia itu suami kamu,jadi kamu harus tetap bersamanya." ucap mama tanpa peduli.


" tapi ma,aku gak sanggup lagi,dia selalu nyiksa aku . Sekarang saja dia keluar kota dan mengunci rumah dari luar ma. Aku jadi tahanan disini,ini tuh penjara neraka ma . Tolong ma bebaskan aku?" pintaku pada mama,semoga saja mau menolong .


Tak tahan lagi sesak ku rasakan aku pun berteriak meluapkan rasa sakitku,aku lupa pada sang kurir.


" mbak kenapa mbak? Tunggu sebentar mbak aku minta bantuan." ucapnya yang akan beranjak.


" tidak usah mas,aku gak apa apa kok." ucapku menghapus air mata. Ini mas handphonenya. Makasih banyak." ucapku menyerahkan handpone.


" sudah lah mba,hmgak apa kok. Kalo butuh bantuan bilang saja,aku siap bantuin." tawarnya.


" iyya mas,terima kasih." jawabku.


" baiklah mbak kalo begitu saya permisi dulu masih banyk paket mau saya antar." pamitnya.

__ADS_1


Setelah kurir pergi aku pun kembali ke kamar ingin rasanya aku kabir saja mumpung dia tidak ada disini. Tapi aku harus kemana. Tumah di kunci dari luar,jendela semua pake terali,aku lewat mana keluar. Aku pun gak punya tempat bersembunyi saat keluar dari rumah ini,mama pasti tidak akan setuju aku pisah sama dia. Disaat aku mulai menerima pernikahanku tetapi bukan bahagia ku dapatkan tapi penderitaan batin. Tak lama kemudian ada yang datang,bell terus berbunyi. Aku pun keluar melihat di jendela,seorang lelaki berdiri nampak dengan sebuah barang di tangan,siapakah dia. Saat dia akan memencet bell lagi dia melihatku di balik jendela.


" Maaf kalo aku mengganggu mbak,aku kesini cuma antar paket ini." katanya menyerahkan paket yang isinya keperluan pribadik,tapi ini dari siapa?


" iyya mas terima kasih,tapi kalo boleh tau ini dari siapa?" tanyaku padanya karena aku sudah menerima paket juga dari suami,lalu ini siapa yang memberikan lagi.


" itu dari pak Asrul mbak." ucapnya membuatku terperanjat,kak Asrul masih saja memperhatikan kebutuhanku.


" kata pak Asrul,anda harus menerima paket ini karena kalo anda menolak,aku yang kena imbasnya." ucapnya membuatku mau tak mau harus menerima.


" terima kasih,sampaikan pada kak Asrul aku menerimanya dan terima kasih." ucapku.


" baik mbak,aku permisi kalo begitu." ucapnya. Aku pun masuk kekamar mengeluarkan isi paket tersebut. Ternyata kak Asrul ingat jadwal bulananku,dia juga memberi obat anti nyeri,sepertinya dia ingat aku tiap datang bulan pasti kesakitan. Tak terasa air mataku menetes. Aku terus mengeluarkan isi paketnya dan aku terkejut sebuah handpone dan surat


" Aini,aku selalu merindukanmu,aku harap kamu mau menggunakan handpone ini,karena aku belum bisa nerima semua ini,aku selalu ada di sekitarmu namun aku tidak bisa mendekat karena ada batas yang tak boleh ku lewati. Kalau kamu sudah tidak sanggup bertahan bersamanya,kembalilah padaku.aku dulu mengijinkanmu menikah dan tidak membawa mu kabur,karena aku kira kamu akan bahagia bersamanya. Ternyata aku salah,aku lihat semuanya,dia ngunciin kamu. Aku ingin mendekati kamu namun aku tak mau dia melihat dan akan menyiksa kamu. Tetaplah tersenyum walau dalam keadaan apapun."


Akupun menangis tersedu setelah membaca surat itu,ternyata dia selalu memantau keadaanku.terima kasih kak,tapi aku tidak mau kaka dalam msalah. Aku mencintaimu kak dan akan selalu begitu. Tak lama handpone itu begetar akupun menoleh ternyata ada menelpon.


" halo.." ucapku dengan suara serak


" kamu jangan menangis lagi,kamu tidak sendirian. Aku akan selalu ada untukmu Ai." itu suara kak Asrul membuatku semakin menangis.


"Kak Asrul.... Terima kasih." ucapku


" sudahlah Ai,aku minta maaf karena melepasmu untuknya,seharusnya dulu kita kabur saja." ucapnya penuh penyesalan.


" sudahlah kak,semua sudah terjadi. Sebaiknya kita jangan begini kak,aku gak mau nanti kaka kena masalah karena aku." ucapku kwatir padanya.


" kmu gak usah kwatir,aku tau kapan aku bisa nelpon kamu,Ai. Aku gak bisa tenang biarkan kamu disana sendirian." jelasnya

__ADS_1


" makasih kak,kmu selalu ada untukku." ucapku.


Kini kami oun berbagi cerita tak terasa sdah sejam kami bicara. Akupun mengakhiri dan menyembunyikan handpone itu sungguh aku takut kalo om Arif menemukannya. Akupun istirahat karena gak tau mau ngapain dan tubuhku pun lelah...


__ADS_2