
Aku tidak tau lagi harus gimana menghadapi ini semua,cinta yang baru saja terjalin harus kandas. Aku keluar kamar lagi manuju ruang keluarga buat bicara sama mama,aku harus memberi tahu semau tentang hubunganku dengan kak Asrul. " Ma,aku gak bisa nerima lamaran itu ma,soalnya aku sudah punya calon." ucapku pelan. " Siapa calon kamu?" tanya kak rian membuatku cemas dan takut. " kak Asrul kak." jawabku ketakutan kalo kak rian marah.semua diam terkejut mendengar jaeabku. " sebenarnya aku dan kak Asrul pacaran kak,dan kak Asrul pulang kampung untuk persiapan lamaran kak." aku pun kembali menangis. " Tapi Ai,mama sudah nerima lamaran om Nasir untuk kamudan Arif. Dan besok mereka datang antar uang panaik dan penentuan tanggal pernikahan kamu." ucap mama. "Tapi ma,aku gak mau nikah sama sama om Arif ma,dia itu pantasnya jadi ayahku ma." ucapku tak menyangka kalo mama menerima lamaran seorang yang pantas jadi ayahku,umur kita beda jauh. " Mama juga kenapa gak bicara dulu sih sama kita baru nerimanya" ucap kan Hasna jengkel. " Mam gak enak sama om Nasir,selama ini dia banyak bantu kita saat awal kita kesini,jadi mama nerimanya." ucap mama. " tapi bagaimana dengan keluarga tante Rima,mereka pasti kecewa sama kita ma,aku dan Asrul itu temenan. Aku gak tau gimana ketemu ma Asrul nti ma pasti aku gak enak sama dia." ucap kak Rian sambil mengusap wajah kasar. " tapi mama gak bisa nolak om Nasir Rian." ucap mama," Ai,kamu bicara ma Asrul saja,kamu putuskan hubungan kamu sama dia. Mama gak mau tau kamu harus nikah sama Arif." putus mama membuatku menangis.aku harus gimana bicara sama kak Asrul. Baru sebentar merasakan cinta tapi harus kandas lagi. Kenapa nasibku selalu gagal dalam percintaan. Seharian aku mogok makan dan ngurung diri,mpe malam pun aku gak keluar. "Ai,ini kaka,kamu kluar dulu kaka mw bicara." teriak ka Rian depan kamar namu aku terlalu malas bergerak dan bicara. " Ai,kalo kamu gak keluar kaka dobrak pintu kamar kmu." teriak ka Rian seakan dia marah. Gak punya pilihan akupun keluar dari kamar dengan mata sembab dan muka bengkak karena kebanyakan nangis. " kamu harus terima semua ini,sekarang kamu putuskan hubungan kamu sama Asrul,kakak gak mau kita malu sama keluarga om Nasir,mereka terlalu baik buat kita,Ai." ucap ka Rian membuatku terduduk depan pintu kamar,dadaku sesak dan sakit,aku harus bagaimana. " sekarang kamu mandi dan makan, ntar siang keluarga om Nasir datang,kamu jangan bikin malu keluarga karena lamaran om Arif sudah kita terima." tegas kak Rian meninggalkan aku sendirian. Gak lama datang kak Hasna bersama anakny " kamu yang sabar ya Ai,kaka dulu juga ga nerima pernikahan ini tapi kamu liat kaka bahagia,asal kita jalani dengan ikhlas. Kamu liat kan kaka ata,umurnya jauh beda sama kaka dulu tapi dia tetap baik sama kita semua." nasehat kak Hasna padaku membuatku teringat saat dia dijodohkan pas tamat sekolah dan dia harus pisah sama pacarnya. " tapi kak,gimana kalo om Arif jahat sama aku kak?" tanyaku. " kamu jalani saja ya,pasti om Arif baik sama kamu karena kita kluarga om Nasir."Aku gak ada pilihan,aku harus terima nasib,gimana aku bisa bicara sama ka Asrul, siangnya rombongan keluarga om Nasir datang. Aku makin merasa hancur,aku duduk terdiam saja air mata gak berhenti menetes,." gimana kalo acaranya kita percepat saja?" ucap om Nasir." aku sih terserah kamu Nasir,niat baik alangkah bagusnya kalo dipercepat." ucap mama tanpa peduli perasaanku,akupun semakin merasa hancur kisah cintaku kandas lagi. "Kalau minggu depan saja bagaimana menurut kamu Hana?" tanya om Nansir. " iyya hari senin bagus,merupakan hari baik." ucap mama hana,yang artinya sisa 6 hari. Aku tidak dibiarkan bicara,hancur sudah impianku bersama kak Asrul. Tak tahan lagi aku undur diri masuk kamar,sedangkan mereka semua asyik tertawa tanpa ada yang peduli pada perasaanku.
3 hari setelah acara pernikahan,semua sibuk dan aku tidak pernah keluar rumah,aku gak sanggup ketemu sama kak Asrul. Ya kak Asrul sudah kembali dri kampungnya,dia pun ikut membantu orang di rumah mempersiapkan pernikahanku. Makin hancurlah hatiku,aku selalu mengintip dia di jendala kamar. Aku perhatikan kak Rian ngobrol berdua sama kak Asrul,aku lihat kak Rian menepuk pundak kak Asrul dan berlalu. Sepertinya mereka bicara hubunganku,dan aku liat kak Asrul menunduk dan menyeka mukanya,apakah dia menangis? Ya Allah pasti dia pun merasa sakit hati dengan pernikahan ini. Besoknya aku mencoba keluar ke taman,aku harus bicara sama kak Asrul,dia harus bahagia walau bukan denganku. " Aini" aku pun menoleh dan mendapati kak Asrul menatapku sendu,aku pun menghambur ke pelukannya,dan menangis pilu,aku gak peduli ada yang melihat atau tidak. Aku menangis di pelukan kak Asrul,dan aku juga merasakan kak asrul membelai rambutku." Sudah ya Ai,mungkin ini jalan takdir kita,aku ikhlas semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu." ucapnya membawaku duduk ke bangku taman. Aku tatap matanya yang memerah sepertinya dia juga habis nangis. " tapi aku ga mencintainya kak,aku hanya cinta kaka. Bagaimana kalau kita kabur aja kak,aku punya kok tabungan yang bisa kita pake." ucapku. " Tidak Ai,kakak gak bisa lakuin itu. Kita juga harus mikirkan keluarga yang kita tinggalkan," ucapnya. Dia begtu dewasa memikirkan semua,itulah kenapa aku sayang sekali sama dia karena selalu menasehatiku. " tapi kak,bagaiamana aku menjalani pernikahan ini,hatimu hancur kak." ucapku menangis tersedu. " kaka juga merasa sakit Ai,tapi inilah takdir. Ikuti arus jangan melawan,karena kita akan hancur. Kalo emang kita jodoh pasti Allah memberi jalan untuk kita bersatu. Sekarang kamu pulang istirahat,jangan nangis lagi,kamu harus bahagia,biar kaka ikut bahagia." ucapnya sambil meraih tanganku dan memelukku erat,aku dengar diapun terisak ternyata dia pun terluka. Ya aku harus menghadapi ini semua,harus jalani pernikahan tanpa cinta,semoga aku bisa bertahan seperti kak Hasna. " sampe kapan pun aku selalu sayang kamu Ai,kamu menempati ruang hatiku,biarkan aku mencintai kamu dengan caraku." ucap Ka Asrul." akupun aka selalu cinta sama kaka,biarlah cinta ini ku bawa.benar kata orang mencintai tak harus selalu saling memiliki. Sampaikan maafku buat tante Rima." ucapku menghapus airmata." aku harap setelah aku menikah kaka menemukan kebahagian,walau bukan sama aku." ucapku mencoba tersenyum. Ya hubungan kami tidak terputus tapi masing masing menyimpan dalam hati,semoga bahagia segera ku raih..akupun beranjak dan pulang,saat akan kluar dari taman aku menoleh melihat senyum yang selama ini selalu membuatku rindu." aku pasti akan selalu merindukan senyum kakak," ucapku berlalu tanpa menoleh lagi karena aku tak mau semakin terluka jika melihatnya. Ya akupun mencoba berdamai dengan hatiku,menerima nasib menikah dengan orang yang lebih tua..