
Sebuah kenyataan yang membuatku terperangah. Ternyata selama ini aku dikelilingi orang orang yang sayang padaku.
" apa mama hana tau semua ini tante?" tanyaku kemudian.
" tidak sayang,kami menyembunyikan semua ini sama keluarga kamu,kami takut kalo mereka tau dan nyalahin om kamu." jelasnya.
" kamu tidak apa apa kan Ai." tanya tante
" gak apa tan,Aku ngerti. Tapi aku cuma takut sama om Arif, kalau dia kambuh." ucapku ketakutan
" kamu gak usah khawatir,selama kamu tidak membuatnya marah dia tidak akan kambuh." jelasnya. Suatu hal yang membuatku bingung karena hanya hal kecil saja bisa membuatnya marah dan ngamuk. Haruskah aku kabur saja,tapi bagaimana jika mama hana jadi korbannya.
" tante,bolehkah aku ngunjungin mama hana,soalnya aku juga kangen sama ponakanku.?"tanyaku pada tante Mika.
" boleh,asal Arif ininin kamu. Coba kamu telpon dia saja ya,semoga dia ijinkan." katanya lagi. Akupun mencoba menghubungi om Arif.
" halo Ai. Ada apa aku lagi sibuk?" ucapnya dengan suara yang ngos ngosan. Membuatku curiga.
" om lagi dimana?" tanyaku lagi karena aku mendengar suara samar seorang wanita yang seperti sedang mendesah,akupun meloudspeaker supaya tante mendengarnya.Tak ayal tante Mika pun membulatkan matanya mendengar suara itu.
" aku ya kerja,kamu kenapa?" tanyanya lagi dengan kesal,aku semakin yakin kalo dia bersama seorang wanita. "
" aku mau ijin om mw ke rumah mama." ucapku
" terserah kamu,sudah dulu aku sibuk." ucapnya mematikan telepon,aku memandang tante dan tante pun paham.
" mungkin dia sedang sibuk Ai." ucap tante tapi aku merasa ad yang beda dari om Arif. Tapi aku diam saja,entah ada apa dengab perasaanku apakah aku cemburu atau bagaimana.
" ya sudah tante aku mau siap siap dulu mau ke rumah kak Hasna." ucapku kemudian berlalu ke kamar. Setelah selesai akupun berangkat tanpa memberi tahu mama dan kak hasna. Tak lama aku pun sampai dan samar samar aku dengar percakapan mama dan kak Hasna.
__ADS_1
"Tapi ma,kasihan Aini jika terus berada disana." ucap kk Hasna entah apa yang mereka obrolkan dan aku mendengar namaku pun disebut.
" sudahlah tidak usah peduli sama dia,toh Aris selalu memberi kita uang bulanan,biar saja Aini disana." ucap mama Hana membuatku berdiri kaku.
" tapi ma aku kasihan sama Ai,menikah dengan orang yang mengalami gangguan jiwa. Gimana kalo dia kambuh dan nyakitin Aini ma?." ucap kak Hasna. Jadi mereka semua tau penyakit om Arif.
"Biarkan saja,lagian Aini itu cuma anak pembawa sial,sejak ayahmu membawanya masuk ke rumah hidup kita jadi pas pasan." bagai tersambar petir mendengar ucapan mama Hana,jadi aku bukan anak kandungnya,pantas selama ini perlakuan mama Hana selalu jahat padaku.
" tapi ma,walau begitu aku anggap dia adij kandung ma. Aku sayang banget sama dia ma."ucap kak hasna ternyata kasih sayangnya tulus padaku,apakah kak Rian juga begitu.
"Kamu tak perlu terlalu sayang padanya,asal kamu tau dia anak kandung papa kamu dari wanita lain. Ibunya meninggal saat dia dilahirkan makanya papamu membawanya dan membuat kita harus hidup serba kekurangan,dia itu pembawa sial." ucap mama Hana,mereka tidak tau kehadiranku.
Akupun memilih pergi dari sana,dengan bercucuran air mata,aku pun berlalu dijalan aku bertemu kak Rian,dia pun menahanku.
" ada apa Ai,kenapa kamu nangis? Kamu habis dari rumah kan? "Tanyanya. Akupun menangis dan memeluknya membuat kak Rian bingung.
" kamu tetap adik kakak,bagiku adik kandung atw bukan kamu tetap Aini kecilnya kakak,sudah kamu gak usah. Apa mama yang memberitahu kamu?"tanyanya lagi dan ku jawab gelengan.
" Bukan kak,aku dengar sendiri mama ngomong sama kak Hasna. Kenapa kaka masih sayang sama aku sedangkan aku adalah anak dari seorang pelakor?" tanyaku pun akhirnya pada kak rian.
" walau bagaimanapun kamu tetap adik kaka,kamu gak ada salah,kamu lahir bukan kamu yang mintakan untuk lahir dari seorang pelakor."ucapnya lagi menghiburku.
"Tapi mama benci sama aku kak," kataku sambil hapus air mataku,kini aku tau sebuah kenyataan pahit. Aku bukan anak kandung mama Hana,pantas saja perlakuannya padaku selalu menganak tirikanku,karena kenyataannya aku mang anak tiriaku hadir dari rahim wanita lain yang disebut pelakor oleh mama.sesak itulah kurasakan.
"Ayo kita ke rumah,kamu pasti belum ketemu sama Andra." ajaknya,namun aku memilih pulang saja.
" gak usah kak,aku pulang saja. Aku cuma mau ketenangan saja saat ini. Kenyataan ini sungguh membuatku terkejut kak." ucapku berdiri.
" aku pulang dulu ya kak,jangan bilang sama mama kalo aku sudah tau soal ini,jangan tanya kalo aku datang hari ini,aku gak mau mama tau kalo aku sidah tau kenyataan ini." pintaku padanya.
__ADS_1
" ya sudah,kamu pulang gih,kaka juga mau pulang." ucapnya pun berdiri yang hanya q jawab anggukan. Akupun meninggalkan taman depan rumah kak Hasna dan kak Rian pun masuk rumah.
" jadi kamu hanya anak dari seorang pelakor?"ucap seseorang dibelakangku membuatku kaget. Mataku membelalak saat ku lihat kak Asrul berdiri disana,aku tak menyangka dia mendengar semua.
" kak Asrul,sejak kapan ada disitu?"tanyaku.
" cukup untuk mendengar kenyataan bahwa kamu anak seorang pelakor." ucapnya membuatku terkejut,tak menyangka seorang Kak Asrul ucapkan kata itu. Sedih itulah yang ku rasakan.
" aku pun tidak pernah meminta untuk lahir dari rahim wanita manapun kak,kalo boleh memilih aku tak ingin lahir ke dunia ini." ucapku kemudian berlalu meninggalkannya. Aku sakit hati karena ucapan kak Asrul pun yang mengatakan aku anak pelakor,aku yang tak tau apa apa kenpa harus alami semua ini. Lebih baik aku pulang saja.
"Aku tidak menyangka bahwa aku pernah mencintai anak pelakor sepertimu. Tapi untunglah aku tidak jadi menikah sama kamu." ucapnya membuatku semakin terluka dan sakit hati.
" aku juga minta maaf kak,aku pun tak tau kalau aku hanya anak pelakor,mulai sekarang kakak anggap saja kita tidak pernah saling kenal." ucapku sambil berlalu. Tak ingin makin sakit hati lebih baik aku meninggalkannya dan pulang kerumah.
Akupun ke jalan Raya,tanpa ku tau kalau kak Samsul sudah menjemputku,dia dengan wajah tampak memerah entah kenapa.
" kakak kok ada disini?" tanyaku mendekatinya.
" sebaiknya kamu tidak usah kesini lagi,aku gak mau kamu dihina lagi. Orang yang dulu katanya sayang sama kamu malah menghina kamu."ketusnya menyindir kak Asrul yang ternyata tak jauh dariku dan kak Samsul.
" ya kalau aku tau sebelum jatuh Cinta padanya,pastinya aku gak mau menjalin hubungan sama dia." ucapnya sinis memandangku.
"Bajingan." marah kak samsul berniat memukul kak Asrul namun segera ku cegah,aku tak mau ada keributan disini.
"Sebaiknya antar aku pulang kak." ajakku untuk menghindari keributan. Kini aku sedih,setelah tau sebuah rahasia besar selama ini. Dan kini aku menduga mama menerima lamaran inj bukan karena om Nasir,tapi ingin menyingkirkanku dari keluarganya. Ya aku pun tak akan kembali kesini lagi. Akupun bertekad,jika om Arif menyakitiku maka akupun akan pergi darinya.
" Kamu gak apakan Ai?" tanya kak Samsul.
" tak apa kak,aku baik baik saja." ucapku kemudian kembali diam,aku lelah sekali dan tak terasa aku pun tertidur dengan mata sembab. Hidupku benar benar penuh air mata.
__ADS_1