
Setelah aku masuk rumah,aku melihat para tetangga berkumpul membantu mama Hana,dan di sana aku melihat tante Rima namun ada yang beda dari raut wajahnya. Tante Rima tampak murung dan lebih bnyak diam,hanya sesekali menanggapi ocehan ibu ibu gengnya. " loh jeng Rima kok akhir akhir ini pendiam aja,ada apa toh?" tanya Tante Kasma tetangga sebelah. " Iyya nih Jeng Rima,kok tampak bersedih Aini menikah,atau nih jeng lagi sedih karena gak bisa jodohin asrul sama aini??" ucap tante Yati yang mang terkenal ceplas ceplos mengenai hati. " Aku tida apa apa kok jeng,cuma mikirin Asrul kapan ya dia nikah juga,aku kan pengen juga punya mantu loh jeng." ucap tante Rima,tanpa sengaja menatapku. " Nak Aini,semoga bahagia ya cepat dapat momongan." ucap tante Rima dengan mata berkaca kaca membuat hatiku trenyuh." makasih doanya tante." ucapku kemudian berlalu. Tanpa sengaja aku berpapasan sama kak Asrul. Namun dia tidak menyapaku,nyeri ku rasa hatiku tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita semua.
Acara pernikahan pun digelar,aku semakin merasa sesak didadaku,saat injnkeluarga kak Asrul tidak ada satupun yang hadir karena kemarin mereka semua pulang kampung. Hal itu semakin membuatku merasa bersalah dan trluka. Maafkan aku kak,ini bukan mauku. Ucapku dalam hati. Rombongan om Arif pun datang dan aku semakin merasa gamang dan air mataku semakin bercucuran.saat ijab kabul terucap dan kata sah terdengar diluar kamar,aku semakin menangis tersedu,hancur sudah harapan dan impianku. Kini aku harus bangun mimpi baru bersama orang yang tidak aku cinta. Aku pun di bawa keluar ke pelaminan, mama berbisik" demi mama,tolong kamu ikhlas jalani semua ini,atau kamu mau liat mama mati. Hapus air mata kamu dan jangan sampe ada yang basahi pipimu itu."hardik mama sambil mencubit lenganku. Astagfirullah aku gak sanggup lagi duduk disini. Tak lama hpq berbunyi tanda ada pesan. Dri ka Asrul," semoga kamu bahagia,jangan nangis lagi. Kamu cantik jadi penganti." ucapnya,entah siapa yamg kirimkan dia potoku. Ya aku harus bahagia,aku harus tersenyum demi kebahagiaan semua orang.aku pun terdiam menyalami tamu dengan senyum sebaik mungkin,ya inilah senyum penuh luka. Demi mama hana aku harus membahagiakannya,stelah ini aku akan keluar dri rumah kak hasna ikut suami. Suami tuaku.
Rangkaian acara pun selesai,dan aku berganti baju secepatnya untuk menghindari suami tuaku.
" kamu sudah berganti baju ternyata." ucapnya.
" iyya om,aku capek dan mau istrhat jdi gangi baju cepat." balasku tanpa menoleh.
" kok masih manggil om sih sayang,panggilannya diubah dong sayang." ucapnya genit sambil membelai rambutku membuat aku jijik padanya.
" maaf,aku belum terbiasa dengan keadaan inj." ucapku menjelaskan karena aku belum bisa menerima kenyataan bahwa kini aku menikah dengannya yang pantas jadi ayahku malah jadi suamiku. " Maaf om,aku lelah dan mau istirahat saja. Aku mohon pengertiannya." mohonku supaya dia tidak menggangguku lagi.
" Kok begitu sih,ini malam pengantin kita masa kita tidur tanpa menikmatinya." ucapnya tetap menggangguku. Ya Allah aku lelah sekali,kenapa dia gak ngerti juga. Aku butuh istirahat.
" tapi om,aku benar benar capek dan lelah." ucapku berharap dia mengerti kondisiku.
__ADS_1
"Kamu itu apaan sih,kamu itu harus layani aku sebagai suami kamu,jangan terus menolak atau aku akan kasar sama kamu,paham." bentaknya sambil terus mencengkram lenganku,
" om,sakit om,tolong lepas."mohonku dan tanpa kukira dia menghempaskanku ke kasur
" kamu gak mau layani aku jadi jangan salahkan aku memaksa." ucapnya sambil menarik bajuku sampai sobek,ya Allah dia seperti orang yang tempramental membuatku ketakutan dan kilas kejadian di perantauan terlintas,haruskah aku alami pemerkosaan lagi, tolong aku Tuhan.
" om aku mohon jangan lakuin itu,tolong jangan om." mohonku padanya namun Plakk..tamparan itu mendarat sakit ya Allah..dia tidak bicara namu dia menampar seluruh tubuhku dan menyobek pakaian dan melakukannya sampe aku pun pingsan.
Keesokan harinya aku terbangun dengan badan memar,malam pertama jadi istrinya badanku remuk dan luka.bagaiamana aku lewati ini semua.
"Makanya,jangan menolak permintaanku. Aku tidak suka di tolak dan bantahan. Mengerti?" bentaknya.
"Jangan sampai kamu laporkan ini dan jangan ada yang tau kalau sampai itu terjadi,keluargamu aku hancurkan. Paham kamu." lagi dan lagi dia membentak dan mengancamku. Pernikahan apa yang aku lalui ini,mampukah aku bertahan.
" pake ini dan tutupi lukamu,kamu harus tampil ceria,hari ini kita akan berkumpul bersama keluarga. Dan kamu harus ikut aku ke rumahku."
Bagaikan boom meledakkan kepala dan dadaku,aku harus ikut bersamanya jauh dari keluargaku,apakah aku akan baik baik saja. Aku kini ketakutan jika harus bersamanya apakah dia akan tetap kasar padaku. Akupun akhirnya keluar dari kamar dan bergabung bersama keluarga,aku melihat mereka semua bahagia dan kini aku berjanji untuk menutup semuanya biarlah kini aku hidup dalam tekanan yang penting keluargaku bahagia terutama mama hana. Akupun tersenyum semanis mungkin karena setelah inj aku yakin senyumku akan hilang saat meninggalkan rumah kak Hasna nanti. Tak terasa akupun harus berangkat ikut kemana suamiku,was was pun menggerogoti apakah aku akan bertahan.
__ADS_1
"Aini,kmu baik baik ya di sana,jangan lupa kabari kaka kalo ada apa apa." ucap kak Hasna memelukku.
"Iyya kak,aku akan baik baik saja." ucapku berusaha menahan air mata,aku gak mau meneteskan air mata didepan mereka,ya aku harus berkorban demi kebahagiaan banyak orang. Akhirnya kami pun berangkat,om Arif diam saja dari tadi gak pernah berucap sepatahpun dan aku pun memilih diam juga,sambil memikirkan hidupku ke depannya.
"Setelah nti di rumah kamu harus jadi istri yang penurut,jangan coba coba membangkang,aku juga tidak ijinkan kamu kerja atau berkumpul sama tetangga. Kamu harus berdiam diri saja di rumah jadi istri sepenuhnya. Paham" ucapnya
" iyya om aku paham dan om gak perlu kuatir aku akan nurut." ucapku sudah pasrah,menghindari dia marah akan jauh lebih baik dari pada aku disiksa.
" tugasmu hanya melayaniku,dan tak boleh keluar rumah tanpa ijinku,kamu gak boleh bergaul sama sembarang orang apa lagi kalo itu lelaki." ucapnya.
" iyya om," ucapku lirih,kini aku paham aku sekarang dalam penjara berkedok rumah sang suami, aku menjadi tahanan berkedok istri. Hari ku pun pasti akan berat.
" jangan coba coba menghubungi teman atau keluargamu selama aku tidak dirumah. Karena kalau sampai aku tau maka kau pasti aku hukum."
Aku menangis,tanpa bisa berucap,
" sekarang kamu masuk kamar,kamurmu yang itu." tunjuknya pada kamar dekat ruang keluarga,semoga kami memang tidak sekamar.
__ADS_1
" jangan pernah kunci pintu kamarmu Ai." ucapnya tanpa ku pedulikan,akupun masuk kamar merebahkan tubuhku,memikirkan nasib yang entah kapan akan mendapat bahagia,,entah dosa apa yang ku lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga aku harus menikah sama om Arif yang memiliki tempramen. Tanpa sadar aku tertidur karena lelah menangisi nasibku...