
Setelah Sintya keluar semua kembali tenang dan melanjutkan acara. Ku lihat mama Wiwi,mama Yesi tampak tertawa bahagia,baru kali ini aku melihat mereka tertawa lepas begitu juga sama papa Ridwan dan papa Abdul. Mereka bercengkrama bersama para relasi bisnisnya. Apakah ini awal kebahagiaanku? Ku lirik pria di sampingku yang kini statusnya adalah suamiku,dia tersenyum manis sekali dan ketampanannya begitu terlihat.
" tetaplah tersenyum seperti itu kak,jangan pernah tampakkan wajah datarmu dihadapanku nanti." ucapku membuat dia menengok kepadaku.
" apakah selama ini wajahku datar?" tanyanya sambil meraba wajahnya.
" ya,muka datar sikap sedingin es. Gak percaya coba tanya karyawan saja." ucapku.
" jahat benar ngatain suami begitu." rengeknya seperti anak kecil ngambek membuatku tertawa.
" jangan pasang wajah seperti itu,tidak cocok sama badan kamu." aku benar benar tidak menyangka,Reno simuka datar bisa bersikap layaknya anak kecil.
Pesta pun usai,kami kembali ke kamar untuk istirahat. Hari ini badanku sangat lelah sekali.
" bersihkan diri kamu sekarang,air panas sudah aku siapkan. Kamubpasti lelah seharian memakai sepatu hak tinggi itu." perintah Reno,ternyata dia perhatian juga.
" baiklah kak,tolong bantu aku lepas ini aku tidak bisa sendiri." pintaku melepaskan resleting bagian punggungku, dan ku rasakan dia mencium punggungku seketika ada gaetaran aneh ku rasakan.
" aku mandi sekarang kak,badanku lengket." ucapku menghindar,entah kenapa aku merasa malu padahal ini bukan pertama kalinya.
" lebih baik mandi bareng aja biar hemat waktu." ucapnya langsung mengangkatku masuk ke dalam kamar mandi. Aku tidak sempat protes lagi,selesai mandi kami pun istirahat.
Besok paginya kami sekeluarga kumpul sarapan bersama. Aku bahagia sekali,rumah jadi ramai dan banyak cerita antara kami semua. Tidak sama saat bersama mama Hana,akupun sedih mengingatnya.
__ADS_1
" kamu kenapa sayang?" tanya Reno.
" aku kangen sama mama Hana." ucapku sedih. Walau mereka jahat padaku namun aku sangat menyayanginya.
" bagaimana kalau kita mengunjungi dia ramai ramai? Kita surprise buat dia." usul mama Wiwi.
" tapi ma,apa tidak apa apa? Soalnya kan mama Wiwi orangnya begitu.? " tanyaku ragu. Aku ragu apakah mama Wiwi mau menerima kehadiran kami. Aku takut malah akan ada keributan ,apalagi dia tidak dihadirkan pada acara pernikahanku ini.
" kamu tenang saja,mama yang akan atasi Hana." ucap mama Wiwi membuatku tenang.
" besoknsaja kita berangkat ya,toh kalian masih libur juga sekalian honey moon." perintah mama Yesi mampu membuatku melongo.
" maaf sayang,mama sudah pengen cucu." ucapnya tanpa merasa bersalah setelah membuatku melongo.
" kapan lagi kita liburan ya Abdul,jarang jarang kita bosa santai." ucap papa Ridwan.
" betul juga,nanti kita istirahat saja dan bersantai,perusahaan serahkan pada yang muda." balas papa Abdul membuat kak Reno melotot.
" gak bisa gitu dong pa,aku kan harus bantu istriku urus perusahaannya." protes Reno namun tak ayal dia pun mendapatkan buku mendarat di kepalanya.
"Edan kamu ya,itu punya istrimu, jangan pernah kamu mau menyuruh Aini tinggal jadi ibu rumah tangga dan kamu mau bebas di perusahaannya. Kecuali Aini sendiri yang mau istirahat." ucap mama Yesi yang emang tau kalau aku tetap akan bekerja setelah menikah.
" bukan aku mau kuasai ma,aku gak mau dia kecapean terus dia sakit,lah gimana aku mau ambil jatah malam kalau dia sakit." ucapnya benar benar tidak disaring dan langsung pun aku memukul kepalanya. Bikin malu saja.
__ADS_1
" dasar ya kakak,aku kira khawatir terhadapku ternyata yang dipikirin cuma itu. Kamu libur seminggu." ucapku kesal membuat Reno kelabakan dan berusaha merayuku membuat kedua orang tua lami terbahak bahak.
" rasain tuh makanya jangan suka seenaknya saja." timpal papa Ridwan. Aku kini tersenyum bahagia melihat semua kebahagiaan di sekitarku,namun itu redup mengingat mama Hana. Apakah dia akan menerimaku atau malah membenci kami,sungguh aku tidak bisa membayangkan itu semua.
" kamu kenapa sayang."tanya Reno.
" tidak apa kak,aku hanya khawatir sama mereka jika sikap mama Hana tidak seperti yang mereka harapkan." ucapku pelan takut mereka mendengarnya. Semua kini diam larut dalam pikiran masing masing.
" Aini,kamu nanti jangan dekat dekat sama mama kamu ya,dan mas kita persiapkan memang hotel kita yang di sekitaran kota Hana." ucap mama Wiwi dan kemudian kembali bicara sambil berdiri,macam pemandu wisata saja yang memberi arahan pada rombongannya.
" kita harus siaga jika nanti di sana kita tidak mendapat sambutan yang baik,karena emang mantan iparku itu sedikit geser otaknya." ucap mama Wiwi membuat yang lain tertawa sedangkan aku entah apa yang ku rasakan. Aku takut,marah,gelisah semua jadi satu.
" kamu tenang saja ya sayang,semua pasti akan baik baik saja,kami ada semua bersamamu." ucap Reno menenangkan aku.
" betul nak,kami tidak akan membiarkan mereka nyakitin kamu,dan dia tidak akan bisa nyakitin kami." ucap mama Yesi. Aku pun merasa lega,semoga semua sesuai keinginan kami,semoga mama Hana sadar akan kesalahannya. Sebencinya aku sama dia tapi tidak mengalahkan rasa sayangku padanya. Karena dialah yang selama ini merawatku hingga dewasa. Dia pulalah yang menempaku menjadi wanita yang kuat,dan menjadikan aku wanita yang bisa berdiri di kaki sendiri. Walau kesalahannya membunuh mama kandungku tidak bisa ku maafkan tapi aku oun tidak bisa membencinya.
" sebesar apapun salahnya kamu harus memaafkannya,kamu harus ikhlas nak. Karena semua sudah terjadi,jangan menaruh dendam." ucap mama Wiwi yang sangat bijaksana bagiku.
" iyya ma,aku akan ikhlas. Aku juga sayang sama mama Hana walau dia membenciku,karena darinyalah aku tau rasa sakit itu seperti apa." ucapku yang mendapat anggukan dari semua orang,dan tanpa ku sadari sebuah lengan melingkar di pinggangku.
" kamu tidak usah khawatir lagi ya sayang,apa oun yang terjadi di sana nanti kami semua pasti berada di dekatmu. Jika ada yang berusaha menyakitimu,aku akan berada pada barisan paling depan untuk melindungimu. Jadi kamu tidak usah pikirin semuanya ya. Kamu baiknya istirahat karena ke perkebunan ini lumayan jauh dari bandara ini dan kota ini." nasehat suamiku sungguh aku menjadi tenang. Ya sejak turun dari pesawat dan beralih ke mini bus aku tidak bisa tenang,semua yang mendengarkan ucapan Reno terdiam. Aku pun akhirnya memilih tidur,karena jarak bandara ke perkebunan lumayan lama.
# maaf telat ya postnya soalnya lagi tidak enak badan,aku akan berusaha untuk tetap update
__ADS_1