Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
10. Kemarahan Yuni


__ADS_3

"Ha ha ha ... kau benar wanita tua. Kau sangat amat benar. Aku memang bukan Budi anakmu. Tapi aku adalah calon istri anakmu," ucap Yuni sambil tertawa.


"Jangan mimpi kau se*tan! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku tidak akan membiarkan kamu menguasai anakku," kata mama dengan tegas.


"Kurang ajar kamu!" Yuni semakin marah mendengarkan perkataan bu Nunung barusan. Ia menggenggam tangan bu Nunung semakin kuat.


"Ahhh ... sakit. Lepaskan tanganku. Kau setan lak*nat!"


Suara keras mama terdengar oleh papa dan Irfan yang berada di ruang tamu. Tanpa pikir panjang lagi, papa dan Irfan segera menuju kamar Budi.


"Budi (abang)," teriak keduanya serentak.


"Apa yang kamu lakukan, Budi? Lepaskan tangan mamamu," kata papa dengan amarah yang tertahan.


"Bang, sadar bang. Lepaskan tangan mama," kata Irfan membujuk abangnya.


"Jangan mendekat!" ucap Yuni yang ada dalam tubuh Budi.


"Jika kalian berani mendekat, akan aku patahkan tangan wanita ini," ucap Yuni lagi.


"Aggghhh." Mama kembali berteriak kesakitan.


"Budi! Kamu sudah gi*la ya!" Bentak papa keras.


"Pa, dia bukan abang," kata Irfan mengingatkan.


"Aku tidak peduli siapa dia. Cepat kamu panggil pak Bujang untuk datang ke sini."


"Baik, Pa," kata Irfan sambil melangkah ingin pergi.


"Berhenti! Jika kamu berani meninggalkan kamar ini, maka aku akan benar-benar mematahkan tangan wanita ini."


"Jangan dengarkan apa yang dia katakan Irfan. Cepat panggil pak Bujang ajar abang mu bisa ditolong," kata mama sambil menahan sakit.

__ADS_1


"Jika kalian benar-benar tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan, maka aku akan membawa tubuh ini kembali ke alam ku."


"Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu!" kata mama memelas.


"Jika kalian tidak ingin aku membawa tubuh ini pergi, maka dengarkan apa yang aku katakan."


"Ba--baiklah, kami akan dengarkan apa yang kamu katakan," kata mama dengan terbata-bata.


"Ma."


Papa kelihatannya tak terima dengan jawaban mama. Sedangkan Irfan, dia juga kelihatan keberatan dengan apa yang mama katakan. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang Yuni inginkan.


"Pa, tolong," ucap mama dengan wajah sedih.


Papa mengerti apa yang mama katakan. Perkataan tolong itu bukan untuk mama, melainkan untuk Budi. Keputusan yang mama buat akan menyelamatkan Budi. Mama tidak ingin kehilangan anak Budi.


"Baiklah, kami akan ikuti apa yang kamu inginkan," kata papa dengan berat hati.


"Bagus. Kalo gitu, berhenti ikut campur semua urusanku, terutama kamu wanita tua," ucap Yuni sambil tersenyum menyeringai melihat bu Nunung.


Mendengarkan perkataan mama yang benar-benar tidak ada takut sedikitpun padanya, Yuni pun sangat marah. Ia mendorong mama dengan keras sehingga mama jatuh ke lantai.


"Mama," panggil papa dan Irfan serentak.


"Anak kurang ajar kamu!" ucap mama sambil mendekati Budi.


"Pa, dia bukan bang Budi," kata Irfan mengingatkan.


"Apa mama baik-baik aja, Ma?" tanya Irfan sambil membantu mama bangun.


"Mama gak papa, Fan. Tolong abang mu, jangan biarkan wanita itu menyakiti abang mu nak."


"Itu adalah peringatan kecil buat kamu, wanita tua. Jika kamu berani ikut campur dengan menasehati Budi untuk tidak menghiraukan keberadaan ku lagi, maka aku akan bikin kamu lebih sengsara lagi," kata Yuni dengan mata melotot.

__ADS_1


Setelah bicara seperti itu, tubuh Budi melemah dan jatuh ke lantai. Ia kembali tidak sadarkan diri setelah Yuni pergi dari tubuhnya.


"Budi!" Mama menghampiri Budi dengan cepat.


"Ma, jangan dekati dia!" ucap papa mencegah langkah mama.


"Kenapa, Pa?"


"Mama gak ingat apa yang baru saja terjadi?"


"Pa, Budi tidak sadarkan diri kenapa mama tidak boleh menghampirinya. Mama yakin sekarang makhluk itu sudah pergi dari tubuh Budi."


"Iya, Pa. Apa yang mama katakan itu benar. Papa bisa lihat perbedaan bang Budi sekarang, bukan?"


"Kalian benar. Tapi kita harus tetap waspada dengan mahkluk tak kasat mata itu. Mereka semua licik dan tak bisa di percaya. Mungkin aja sekarang dia sedang berpura-pura."


"Fan, cepat panggil pak Bujang untuk melihat apakah abang mu sudah baik-baik saja atau tidak," kata papa lagi.


"Baik, Pa," ucap Irfan sambil bergegas meninggalkan kamar Budi.


"Anakku ... kasihan sekali kamu, Nak." Mama melihat Budi sambil menangis.


________


Setelah kerasukan tiga hari yang lalu, Budi terlihat tenang sekarang. Tubuhnya juga sudah mulai pulih seperti sedia kala. Ia juga sudah bisa keluar rumah seperti biasa.


"Bud, aku ingin bicara sesuatu sama kamu," kata Suci saat mereka bertemu di taman rekreasi.


"Mau bicara apa sih, Ci?" tanya Budi sambil tersenyum.


"Aku ingin katakan, kamu harus selalu berhati-hati, ya."


"Berhati-hati?" tanya Budi bingung.

__ADS_1


"Iya," ucap Suci sambil mengangguk.


__ADS_2