Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
40. Pernikahan (Last)


__ADS_3

Baraj mengucapkan selamat tinggal pada Suci sekali lagi. Suci menggangguk pelan. Terlihat jelas wajah tidak rela di wajah Suci.


Sebenarnya, ia ingin Baraj tinggal bersamanya. Tapi Baraj menolak. Ia mengatakan kalau tugasnya telah selesai. Dia harus kembali ketempat di mana seharusnya ia berada.


"Sampai jumpa lagi, Baraj," ucap Suci sambil melambaikan tangan.


Baraj membalas lambaian itu. Perlahan, tubuh Baraj menghilang sedikit demi sedikit. Suci terus melambaikan tangannya sambil menatap dengan sedih.


"Budi." Suci membalikkan badannya lalu memeluk Budi dengan erat sambil menangis.


Budi membelai rambut Suci perlahan. Meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tahu kalau saat ini Suci sedang kehilangan.


"Tenang, jangan sedih."


Budi masih belum menanyakan apa yang terjadi barusan sehingga membuat Suci menangis. Ia hanya berusaha terus memenangkan Suci.


Usaha Budi berhasil. Suci akhirnya tenang dan berhenti menangis.


"Sekarang, bisakah kamu ceritakan padaku apa yang terjadi barusan?" tanya Budi dengan sangat lembut sambil terus membelai rambut Suci.


Suci menceritakan semuanya pada Budi dengan kepala tertunduk. Kesedihan itu masih tergambar jelas di wajah Suci saat ini.


"Aku benar-benar merasa kehilangan sekarang. Walaupun dia muncul hanya berpamitan padaku, tapi aku merasa sangat kehilangan," kata Suci setelah selesai bercerita.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Chi. Tapi kamu harus ingat satu hal. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Kamu harus kuat."

__ADS_1


"Aku tahu." Suci berucap pelan.


"Udah dong, jangan sedih lagi. Kasihan Baraj nya kalo kamu sedih melepaskan kepergiannya. Baraj pasti merasa gak enak hati berpisah dengan kamu, sementara, dia harus kembali karena mungkin, Baraj sudah ditunggu keluarganya di sana."


Suci terdiam. Perlahan, dia mencerna perkataan Budi dengan baik.


"Iya, kamu benar, Bud. Aku ikhlas kok melepaskan Baraj kembali ketempat di mana seharusnya dia berada." Suci berkata mantap, berbeda dari yang tadi.


"Gitu dong. Itu baru Suci namanya. Senyum dikit dong, biar tambah manis lagi."


Suci tersenyum simpul sambil melihat Budi dengan tatapan penuh kebanggaan. Ia merasa beruntung bisa memiliki Budi karena Budi sangat pengertian dan pandai membuat hatinya tenang. Terlepas dari tampan dan lembutnya sikap Budi padanya selama ini.


"Woy!"


Sontak, Susi dan Budi terperanjat akibat suara keras yang tiba-tiba saja merusak momen hangat yang susah payah mereka bangun. Keduanya melihat ke depan dengan tatapan kesal. Di depan sana ada Irfan yang sedang berdiri tegak.


"Kayaknya paman benar deh, kalian gak ingat jalan pulang, cuma gak nyasar kayaknya," kata Irfan lagi.


"Udah bicaranya?" Suci bertanya dengan nada tinggi.


"Belum sih. Sebenarnya masih ada unek-unek yang ingin aku keluarkan. Karena kalian berdua udah bikin aku bulak-balik kejalan ini hanya untuk melihat kalian pacaran."


"Ayo, Bud! Kita jalan sekarang," ucap Suci.


Mereka berdua meninggalkan Irfan yang masih terdiam di tengah jalan tanpa bisa berkata apa-apa. Karena Budi dan Suci tidak menghiraukan keberadaan Irfan. Keduanya berjalan sambil bergandengan dan mengabaikan keberadaan Irfan.

__ADS_1


"Woy! Kalian anggap apa aku? Tunggul atau batu sih?" Irfan kesal karena diabaikan oleh abang dan calon kakak iparnya.


Suci dan Budi tetap saja tidak menghiraukan apa yang Irfan katakan. keduanya terus saja bermesraan sambil berjalan. Bahkan, mereka menambah kemesraan mereka saat Irfan berbicara dengan mereka berdua.


"Dasar kalian menyebalkan," kata Irfan pada akhirnya.


________


Pernikahan Budi dan Suci di laksanakan dengan sangat meriah. Seluruh warga desa diundang. Bukan hanya desa mereka, desa tetangga juga mereka undang.


Tamu pernikahan yang datang bukan hanya manusia, melainkan para mahkluk gaib juga ikut memberikan restu pada keduanya. Memang tidak ada yang bisa melihat keberadaan mereka selain Suci dan Budi.


Di antara tamu itu ada Yuni. Tapi, dia hanya melihat dari kejauhan saja. Ia tidak berniat datang untuk memberi restu, melainkan datang untuk berduka karena ia telah gagal memiliki Budi untuk selamanya.


"Dengan menikahnya laki-kaki itu, kau benar-benar telah terputus dari perjanjian itu, Yuni." Ayahnya berkata sambil melihat wajah sedih anaknya.


"Aku tahu ayah. Aku sudah bisa menerimanya dengan lapang dada."


"Bagus anakku. Kau memang harus melupakan manusia itu."


"Aku memang merelakan Budi ayah. Tapi tidak bisa melupakan semua manusia. Aku akan tetap menanti seseorang yang berhati serakah di hutan belakang rumah Budi. Aku akan jadikan mereka budak di istana kita." Yuni menghilang setelah berkata seperti itu pada ayahnya.


Ya, mereka tidak akan pernah lenyap selagi dunia masih ada. Mereka akan hidup hingga dunia ini berakhir. Itulah jin dan iblis. Tidak akan pernah musnah, selagi kita masih hidup.


Hutan belakang rumah adalah istana gaib milik kerajaan jin. Memang tidak bisa di lihat oleh mata, tapi keberadaannya pasti. Hanya orang-orang yang punya kelebihan yang bisa melihat keberadaan tempat-tempat astral seperti itu.

__ADS_1


____________________Sekian____________________


__ADS_2