Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
26. Kunjungan kedua


__ADS_3

Mendengarkan kata belum yang Yuni ucapkan, Budi segera bangun dari duduknya. Tanpa kata, Budi bergegas beranjak meninggalkan Yuni yang melihat tingkah Budi dengan rasa bingung.


"Kau mau ke mana?" tanya Yuni sambil menahan langkah Budi dengan memegang tangan kanan Budi.


"Aku ingin bicara dengan Suci."


"Jangan!" Yuni mencegah Budi, seolah ia tahu apa yang ingin Budi bicarakan dengan Suci.


"Kenapa jangan? Aku ingin katakan pada Suci apa yang selama ini bibi Sarah rahasiakan dari Suci. Aku ingin mengingatkan pada Suci agar dia berhati-hati dengan bibi Sarah."


"Jangan katakan rahasia ini pada siapapun."


"Kenapa jangan?" tanya Budi kesal.


"Kau akan membahayakan nyawa Suci, jika Sarah tahu kalau rahasianya sudah terbongkar, maka nyawa Suci jadi taruhannya. Selama ini, ia menyimpan rapat-rapat rahasia ini dari semua orang. Ia menutupi dari semuanya, bahwa Suci punya darah suci yang banyak di cari oleh orang-orang serakah seperti dia."


"Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi Suci?" tanya Budi melemah.


"Aku tidak bisa mengatakan apa yang harus kamu lakukan. Karena itu sama saja dengan melukai hatiku," kata Yuni dengan wajah serius.


"Apa hubungannya dengan kamu?"


"Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu sendiri apa hubungannya."


"Aku tidak mengerti."

__ADS_1


"Kamu akan mengerti suatu saat nanti."


Budi melihat Yuni dengan tatapan tak mengerti. Ia merasa penasaran tapi tidak mungkin memaksakan Yuni mengatakan apa yang tidak ingin ia katakan. Budi melihat, ada kesedihan di mata Yuni saat ini. Apakah begitu besar kaitannya dengan Yuni sehingga ia merasa sedih? Budi tidak bisa menebak soal itu. Bagaimanapun, Yuni bukan manusia. Semuanya bisa saja sandiwara yang Yuni buat untuk mengelabui dirinya, itulah yang terlintas dalam benak Budi saat ini.


"Baiklah, aku pergi dulu," kata Yuni membuyarkan semua pikiran yang sedang bermain-main dalam benak Budi.


"Tunggu!"


"Apa?"


"Bisakah aku bermain ke alam mu?"


"Boleh. Dengan senang hati," kata Yuni sambil tersenyum manis.


"Ulurkan tanganmu!"


"Seperti biasa, tutup matamu!"


Budi melakukan apa yang Yuni katakan dengan senang hati. Ia tidak banyak bertanya lagi sekarang. Baginya, Yuni sekarang adalah teman. Yuni sudah banyak membantu dalam menyelesaikan semua masalah yang ia hadapi. Mungkin, jika Yuni tidak ada bersamanya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Buka matamu Budi, kita sudah sampai ke istana ku."


Budi membuka mata, ia memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.


"Ini ... bukankah ini hutan belakang rumah ku," kata Budi bingung.

__ADS_1


"Oh ya, aku lupa membawa kamu ke dunia gaib. Tutup matamu kembali."


Budi melakukannya tanpa banyak kata. Saat ia membuka matanya untuk yang kedua kali, semuanya sudah berubah. Hutan belakang rumah yang tadinya hanya hutan lebat yang begitu semak, kini berubah menjadi sebuah kerajaan yang begitu megah.


Kerajaan yang begitu kaya dan makmur. Rakyatnya hidup serba berkecukupan. Pakaian mereka serba bagus, rumah mereka begitu megah dan mewah. Pasar-pasar tertata rapi dan bersih.


Kunjungan kedua kalinya Budi ke kerajaan gaib milik Yuni. Ia benar-benar merasa kagum dengan apa yang ia lihat. Tidak seperti kunjungan pertama yang datang langsung menuju istana, kunjungan kedua ini, Yuni langsung membawa Budi ke tengah-tengah keramaian alias pusat kota kerajaan gaibnya.


"Apakah kau suka dengan keramaian kota kami?" tanya Yuni ketika mereka sudah meninggalkan keramaian kota.


"Lumayan."


"Kau bisa tinggal lebih lama jika kau suka. Di sini tidak ada nominal uang yang harus kau pikir dan cemaskan akan kekurangannya. Kau bisa belanja sesuka hatimu. Kau bisa jalan ke tempat hiburan tanpa harus bayar lagi. Dan .... "


"Cukup. Aku rasa aku lebih suka tinggal di duniaku. Bukan berarti di sini tidak enak, tapi di sana, ada orang-orang yang aku cintai."


"Aku tahu."


"Aku tidak bermaksud membuat hati mu kecewa, hanya saja, dunia kita memang berbeda. Aku tidak mungkin tinggal di sini selamanya."


"Ya, itu terserah padamu, aku tidak memaksa. Bukankah aku hanya menawarkan saja?"


Yuni melanjutkan langkah memasuki istana. Budi hanya bisa mengikuti tanpa menjawab apa yang Yuni katakan. Tiba-tiba, ia ingat pada ponsel yang ia bawa sebelumnya. Ia takut mama cemas ketika melihat kamarnya kosong, Budi berpikir untuk menghubungi mamanya agar sang mama tidak cemas ketika tahu kalau dia tidak ada di kamar.


Beberapa kali Budi mencoba menelpon sang mama, tapi tetap saja, tidak bisa. Ia melihat sisi kiri ponselnya, jaringan ada. Lalu, dia mencoba menghubungi Irfan. Hal yang sama ia seperti halnya dia menghubungi sang mama, dia tetap tidak bisa menghubungi semua anggota keluarganya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Mengapa tidak bisa? Apa ponselku sudah rusak?" tanya Budi pada dirinya sendiri.


__ADS_2