Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
31. Ki Agung


__ADS_3

Suara itu mengangetkan semuanya. Suara berat yang terdengar penuh amarah, membuat semuanya semakin bingung dan panik. Tiba-tiba, sesosok wanita cantik dengan gaun putih muncul di tengah-tengah tegangnya suasana.


"Yuni."


Semua menoleh kearah Budi yang memanggil wanita itu dengan nama Yuni. Untuk pertama kalinya, Yuni menampakkan diri kesemua orang. Biasanya, ia menutup pandangan orang lain jika ia ingin muncul di hadapan Budi.


"Ja--jadi ... jadi dia yang bernama Yuni?" tanya papa seakan tak percaya. Sedangkan mama dan Irfan hanya menatap kagum saja pada sosok mahkluk halus yang ternyata sangat cantik meleset dari apa yang mereka bayangkan.


Sarah tiba-tiba merasa ketakutan saat Yuni muncul. Walaupun sebenarnya, Sarah sudah tahu akan kemungkin kemunculan Yuni jika dia mengusik keluarga Budi.


"Sarah! Sudah aku katakan padamu sebelumnya, kau jangan pernah menganggu apa yang menjadi milikku, atau nyawa jadi taruhannya. Ternyata, kau sangat tidak sayang pada nyawamu, Sarah."


"Tunggu, Yuni! Aku tidak berniat mengusik apa yang jadi milikmu. Kau tahu, aku bahkan ingin membantumu untuk menjaga apa yang seharusnya menjadi milikmu dari orang yang ingin merebutnya."


"Apa maksudmu?" tanya Yuni mulai goyah.


"Kau lihat gadis itu." Sarah mengarahkan telunjuknya kearah Suci.


Yuni menoleh kearah Suci yang berdiri tepat di samping Budi.

__ADS_1


"Kau tahu siapa dia?" tanya Sarah.


Yuni tidak menjawab. Hanya tatapan tidak suka yang ia perlihatkan pada Suci dan Budi.


"Dia adalah pacarnya Budi. Kau tahu, dia akan merebut Budi darimu. Kau tidak akan memiliki Budi jika gadis itu masih ada." Sarah mencoba menghasut Yuni.


"Aku tahu siapa dia. Kamu tidak perlu memperingati aku soal gadis itu. Dia adalah manusia, sama seperti kamu. Dia tidak akan bisa merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Jadi ... kau tidak perlu menghasut aku Sarah."


"Sarah ... kau merasa terpojok akibat kemunculanku. Jadi, kau berkata seolah-olah kau adalah manusia terbaik yang siap membantu aku. Kau pikir, aku bodoh Sarah. Tidak. Kau salah dalam menilai aku," kata Yuni lagi sambil tertawa menyeringai.


"Yuni! Kau .... "


Sebuah serangan dari jauh menghantam sisi kiri Sarah. Sebuah suara dentuman keras terdengar begitu kuat sehingga memekakkan telinga. Membunuh tanpa menyentuh, itulah kehebatan dari mahkluk halus seperti Yuni.


Sarah berteriak histeris ketika tahu bahwa mahkluk halus yang menjadi peliharaanya telah Yuni musnahkan untuk yang kedua kalinya. Air mata jatuh perlahan akibat rasa sakit hati dan kecewa telah memenuhi hati Sarah saat ini. Ia lagi-lagi kehilangan mahkluk peliharaan dengan cara yang sama, yaitu dimusnahkan oleh mahkluk yang sama.


Sarah jatuh tersungkur kelantai. Kakinya tidak sanggup menopang tubuh saat tahu kenyataan kalau dirinya telah kalah. Kemungkinan yang ia bayangkan sebelumnya, telah lenyap karena Yuni tidaklah mudah untuk ia pengaruhi.


"Sarah! Sekarang giliran kamu!" ucap Yuni dengan mata berbinar merah.

__ADS_1


"Tunggu, Yuni! Aku mohon jangan lakukan itu!" Suci mencegah niat Yuni untuk membunuh Sarah. Meskipun Suci tahu kalau Sarah bukan ibu kandungnya, ia tetap tidak menginginkan Sarah mati dengan sia-sia. Suci masih berharap Sarah berubah menjadi orang baik setelah mendapat pelajaran berharga hari ini.


"Jangan halangi aku. Aku yakin kau sudah tahu bagaimana sifat dari Sarah ini."


"Aku tahu, tapi tolong, jangan bunuh dia. Berilah dia kesempatan kedua untuk merubah sifat dan perilakunya."


"Yuni, apa yang Suci katakan itu benar. Tolong berikan bibi Sarah kesempatan kedua untuk ia berubah menjadi yang lebih baik. Aku yakin, dia pasti akan berubah jika kamu berbaik hati padanya."


Bukannya merasa tersentuh dengan pembelaan yang Suci dan Budi berikan, Sarah malah berpikiran lain saat ini. Sarah yang putus asa awalnya, kini telah mendapat kesempatan baik untuk menyelamatkan diri. Ia melihat peluang besar saat Suci dan Budi berbicara dengan Yuni.


Secepat mungkin, Sarah membaca mantra untuk memanggil gurunya yang sedang berada jauh dari dia saat ini. Tanpa alat komunikasi yang bisa dilihat oleh mata, Sarah pun berhasil memanggil gurunya dengan cara mengunakan panggilan batin.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja, guru Sarah muncul di tengah-tengah pembicaraan antara Budi, Suci, dan Yuni.


"Guru!" Sarah seperti sedang mendapat semangat baru, segera bangun dari jatuhnya.


Semua mata tertuju pada seorang laki-laki tua yang lebih mirip seorang dukun santet. Baju lusuh dengan ikat kepala menambah kesan mistis dalam diri laki-laki tersebut.


"Yuni! Aku Ki Agung." Laki-laki tua itu memperkenalkan diri pada Yuni dengan sangat hormat.

__ADS_1


"Aku datang ke mari tidak untuk mencari permusuhan dengan mu. Tapi, aku datang ingin membantu kamu," kata laki-laki tua itu dengan nada lembut.


"Apa maksudmu?" tanya Yuni sedikit luluh.


__ADS_2