
Merasa diabaikan, Yuni benar-benar kesal. Dia pun bersikap semakin menjadi-jadi dengan membelai tangan Budi dengan lembut. Yuni berharap usahanya kali ini membuahkan hasil. Tapi sayangnya, Budi tetap tidak membukakan matanya untuk melihat Yuni. Kekesalan Yuni pun semakin meningkat sekarang.
"Aggghhh ... jika kamu masih mengabaikan aku, aku bunuh pacarmu!" kata Yuni mengancam Budi dengan penuh amarah.
"Setan! Jangan macam-macam kamu ya," kata Budi tak mampu menahan diri lagi.
"Ha ha ha ... ternyata kamu sangat menyayangi kekasihmu, Budi."
"Kamu setan lak*nat! Jangan pernah ganggu aku, apalagi pacarku!"
"Budi, ada dua hal yang ingin aku katakan padamu. Yang pertama, aku bukanlah setan seperti yang kamu kira. Yang kedua, aku tidak akan pernah pergi dari kamu, karena apa? Karena kamu adalah calon suami aku."
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang penting, aku gak akan pernah mau jadi suami kamu sampai kapanpun."
"Kamu tidak bisa melawan takdir," kata Yuni.
"Takdir apa, hah! Takdir yang berasal dari dunia kalian? Itu tidak akan berlaku di dunia ku."
"Siapa bilang? Mau dunia aku atau dunia kamu, itu sama saja. Kamu tetap tidak bisa melawan takdir. Perjanjian tetaplah perjanjian," kata Yuni.
"Perjanjian? Perjanjian apa?"
"Sebuah perjanjian dari masa lalu."
"Apa maksud kamu? Katakan dengan jelas!"
"Itu bukan tugasku. Cepat atau lambat, kamu juga akan tahu sendiri apa yang aku maksud," kata Yuni sambil beranjak dari tepatnya lalu tiba-tiba menghilang dengan sendirinya.
"Yuni tunggu! Yuni!"
"Yuni, kembali. Katakan padaku tentang perjanjian yang kamu bicarakan barusan!"
Budi berteriak-teriak memanggil nama Yuni. Sekuat apapun ia memanggil, Yuni tetap saja tidak muncul. Karena Yuni sudah tidak ada lagi di kamar itu, ia sudah kembali ke alamnya. Yang mendengarkan teriakan itu hanyalah penghuni rumah.
"Pa, Budi," kata mama ketika mendengarkan suara Budi.
__ADS_1
"Ada apa lagi ini? Siapa yang anak itu panggil?" tanya papa dengan nada kesal.
"Kamu apaan sih, Pa. Bukannya perihatin dengan keadaan anak, eh, malah kesal."
"Aku gak kesal, Ma. Hanya bingung aja."
"Ya udahlah, terserah kamu mau bilang apa. Ayo lihat Budi!"
Papa dan mama pun bergegas menuju kamar Budi.
"Ada apa, Nak?" tanya mama saat membuka pintu.
"Ma--mama, papa." Budi terlihat bingung dengan kehadiran mama dan papanya.
"Ada apa lagi sih, Bud? Siapa lagi yang kamu panggil?" tanya papa.
"Yuni."
"Yuni? Siapa Yuni?" tanya mama.
"Yuni .... " Budi berpikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. Ia berpikir kalau mama dan papa mungkin tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan.
"Budi, Yuni itu siapa, Nak?" tanya mama dengan lembut sambil membelai punggung Budi.
"Tidak, bukan siapa-siapa, Ma."
"Gimana sih kamu, Bud? Tadi bilangnya ada Yuni. Terus bukan siapa-siapa, kan bikin mama sama papa bingung aja kamu," kata papa sedikit kesal.
"Maaf, Pa."
"Sudahlah, jangan banyak pikiran. Sebaiknya kamu istirahat yang cukup agar tidak terlalu banyak berhalusinasi," kata papa sambil berjalan keluar kamar Budi.
"Maafkan papa mu ya Bud. Dia sedang banyak pikiran, makanya dia bicara seperti itu," ucap mama saat melihat ekspresi wajah sedih Budi.
"Gak papa kok Ma. Aku gak masalah."
__ADS_1
"Ya sudah kalo gitu, mama tinggal dulu ya. Ingat apa yang mana katakan, jangan banyak pikiran dan jangan pedulikan hal yang tidak penting. Cukup abaikan saja semua hal yang menurut kamu tidak penting, ya nak."
"Ya, Ma."
Mama tersenyum sambil beranjak dari tempat duduknya. Belum juga mama melangkahkan kaki untuk meninggalkan Budi, tangan mama Budi tahan dengan erat.
"Ada apa, Bud?" tanya mama sambil membalikkan badan.
Budi tidak menjawab apa yang mamanya tanyakan. Ia malah diam mematung dengan kepala yang tertunduk ke bawah. Mama merasa ada yang tidak beres dengan anaknya. Pegangan tangan Budi semakin erat mencengkram tangan sang mama.
"Bud, ada apa nak?" tanya mama cemas.
Budi masih diam membisu. Sang mama semakin cemas dengan keadaan Budi saat ini. Cemas yang disertai rasa takut akibat pegangan tangan itu semakin erat saja.
"Budi, kamu kenapa, Nak?"
"Lepaskan tangan mama, Nak. Kamu memegang tangan mama terlalu erat," kata bu Nunung lagi.
"Ha ha ha ... hi hi hi .... "
Bukannya melepaskan atau menjawab apa yang mamanya katakan, Budi malah sibuk cekikikan. Ia mengangkat kepalanya. Saat itu mama menyadari kalau yang ada dihadapannya saat ini bukanlah Budi.
"Lepaskan tanganku!" kata mama membentak dengan kuat sambil berusaha melepaskan genggaman itu.
"Mama ... oh mama. Kamu kelihatan ketakutan sekarang," kata Budi bicara sambil tersenyum menyeringai.
Saat itu mama sadar kalau Budi sudah kerasukan. Suara Budi tidak sama lagi. Suaranya sudah berubah berat dan lebih mirip suara seorang wanita dibandingkan dengan suara laki-laki.
"Siapa kamu!?" tanya mama dengan suara tinggi.
"Aku anakmu, Ma."
"Bukan! Kamu bukan anakku."
"Apa kamu tidak lihat kalau aku ini anakmu. Apa matamu sudah bu*ta sekarang, hah!" kata Budi membentak bu Nunung dengan keras.
__ADS_1
"Kau bukan anakku. Anakku tidak pernah bicara kasar padaku. Budi ku adalah anak yang sangat lembut dan penuh sopan santun. Sedangkan kau, kau sangat kasar dan tidak tahu sopan santun sedikitpun," kata mama melawan dengan penuh keberanian.