
Bunda menatap punggung Suci dengan tatapan tak percaya. Ia merasakan ada yang tidak beres dengan anaknya saat ini. Cepat-cepat ia ingat sesuatu yang mungkin sudah terjadi selama ia pergi dari rumah.
"Ayah, bunda permisi dulu. Bunda juga mau istirahat," ucap bunda sambil melangkah pergi.
Ayah yang bingung melihat tingkah anak dan istrinya yang aneh hari ini, hanya bisa mengangguk pelan. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada keduanya, tapi ayah yakin, ada yang tidak beres dengan anak dan istrinya saat ini.
Sementara itu, Suci dengan cepat menyimpan kotak kayu yang telah ia curi dari sang bunda. Ia lupa mengembalikan kotak kayu tersebut sebelum bunda pulang. Sekarang, ia bingung harus apa. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat bunda sadar kalau kotak kayunya telah hilang.
Apa yang Suci takutkan, ternyata benar-benar jadi kenyataan. Bunda mengetuk pintu kamar Suci dengan keras. Awalnya, Suci ingin mengabaikan ketukan itu, tapi ia tidak bisa. Semakin lama, bunda mengetuk pintu itu semakin keras saja.
"Suci! Buka pintunya! Bunda ingin bicara," kata Bunda dari luar.
Suci tidak menjawab. Ia berjalan pelan mendekati pintu kamar. Hatinya masih bimbang. Ia merasa berada dalam dilema antara ingin mengabaikan atau membuka pintu kamar ini.
"Suci!"
"Ada apa sih, Bun?" tanya ayah.
Suara ayah menghentikan tangan Suci yang hampir saja memutar kenop pintu kamar. Suci mengusap dadanya pelan. Ada sedikit kelegaan ketika mendengar suara ayah.
"Ada yang ingin bunda tanyakan pada Suci, Yah."
__ADS_1
"Apakah tidak bisa nanti saja, Bun? Bukankah bunda tahu, kalau Suci sekarang tidak enak badan. Mungkin dia sedang istirahat saat ini."
"Ayah selalu saja membela Suci. Pantas saja anak itu jadi sangat manja sekarang."
"Bukan begitu, bunda. Ayah hanya .... "
"Sudahlah, ayah sama anak sama aja. Sama-sama bikin kesal, bikin aku jadi naik tensi aja," ucap bunda sambil melangkah pergi.
Ayah hanya bisa geleng-geleng kepala saja saat bunda menutup pintu kamar dengan keras. Entah apa yang terjadi antara istri dan anaknya belakangan ini, ayah juga tidak tahu. Yang ayah tahu, keduanya pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Di kamar, bunda melampiaskan rasa kesal yang ia miliki. Ia membanting semua barang yang berada di dekatnya.
"Dasar kurang ajar, ini semua terjadi pasti karena anak itu. Jika tidak ada dia, maka semua rencana yang sudah aku susun selama belasan tahun akan berhasil tanpa ada hambatan sedikitpun," kata bunda marah.
"Bagaimana aku bisa sabar! Kau tahu bukan? Aku sudah bersabar selama belasan tahun, dan kotak yang hilang itu adalah kotak yang paling berharga buat aku," ucap Sarah dengan nada tinggi.
"Sekali lagi aku ingatkan, kau harus sabar Sarah. Bukankah kau sudah bersabar sejak lama? Maka tidak ada salahnya kalau kau bersabar sedikit saja lagi."
"Kau bilang sedikit? Apa kau tidak tahu kalau rencana yang aku buat sudah hancur berantakan? Itu semua karena mahkluk itu! Makhluk yang tiba-tiba ikut campur dan merusak semuanya."
"Sekarang, aku ingin kau bunuh mahkluk itu untuk aku. Jika jin sebelumnya kalah, maka aku yakin, kau bisa melakukannya," kata bunda sambil menyapu air mata di pipinya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa."
"Kenapa? Bukankah kau adalah peliharaan ku sekarang? Seharusnya kau tunduk dengan semua perintah ku," ucap bunda kesal.
"Ya, aku memang peliharaan mu sekarang. Tapi kau harus ingat satu hal. Kekuatanku tidak setara dengan mahkluk itu. Jangankan setingkat, dua tingkat di bawahnya saja tidak. Jika aku berhadapan langsung dengannya, itu akan sia-sia saja."
"Untuk apa guru memberikan mu padaku, kalau kau tidak ada gunanya sama sekali," kata Sarah semakin bertambah kesal.
"Baiklah, jika kau tidak bisa melenyapkan mahkluk itu, tentunya kau bisa melenyapkan manusia, bukan?"
"Jika soal manusia, itu gampang bagiku. Tentunya, manusia itu tidak ada jin pelindung yang lebih kuat dari aku."
"Bunuh anak laki-laki yang bernama Budi itu untukku. Bagaimanapun caranya, kau harus bisa melenyapkan dia. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka aku akan melenyapkan mu. Untuk apa punya peliharaan jika tidak ada gunanya sama sekali."
"Baiklah, akan aku laksanakan apa yang kau inginkan, Tuanku."
Mahkluk peliharaan yang baru saja Sarah dapatkan itupun pergi meninggalkan kamar Sarah seperti angin lalu. Mahkluk itu pergi mencari anak laki-laki yang bernama Budi tanpa banyak bertanya lagi.
"Semoga kau tidak mengecewakan aku," ucap bunda sambil tersenyum tipis penuh harap.
_____
__ADS_1
Mahkluk itu sampai ketempat yang ia tuju. Tidak sulit bagi mahkluk gaib itu untuk mencari di mana keberadaan Budi. Tanpa menanyakan di mana alamat Budi, mahkluk itu bisa menemukan keberadaan Budi.
Mahkluk itu masuk ke dalam rumah Budi. Seisi rumah tiba-tiba panas akibat kehadirannya. Semua penghuni rumah bisa merasakan ada hawa panas, tapi tidak dengan Budi. Budi tidak merasakan ada perubahan hawa sedikitpun di rumah ini.