Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
17. Kamar bunda


__ADS_3

Bu Sarah pun memutuskan untuk kembali menemui gurunya yang berada di luar desa. Ia ingin meminta kembali jin untuk ia pelihara. Tentunya, jin yang punya kekuatan yang lebih dahsyat dari jin yang telah Yuni musnahkan sebelumnya.


"Bunda mau ke mana sih sebenarnya?" tanya Suci saat bu Sarah pamit.


"Mau berkunjung ke rumah kerabat lama, Chi."


"Kerabat lama?" tanya Suci seolah tak percaya.


"Iya. Ada apa?"


"Tidak ada. Suci hanya bertanya saja."


"Kamu jaga rumah. Jangan pergi ke mana-mana. Ingat, bunda tidak mau kamu bertemu Budi nantinya."


"Kenapa sih bun? Bunda selalu melarang aku bertemu Budi. Padahal, sebelumnya bunda tidak pernah seperti ini. Bahkan, dulunya bunda suka kalau aku dekat sama Budi."


Bu Sarah menarik napas dalam-dalam. Ia melihat Suci dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang Suci sendiripun tidak tahu apa maksud bunda menatapnya seperti itu.


"Ada hal yang tidak kamu tahu, dan tidak perlu kamu tahu, Suci. Yang perlu kamu lakukan hanyalah, dengar apa yang bunda katakan."


"Tapi Bun, Suci butuh alasan."


"Suci, bukankah sudah bunda katakan, ada hal yang tidak perlu kamu ketahui. Kamu cukup ikuti saja apa yang bunda katakan."


Suci melihat bunda dengan tatapan tidak puas. Wajahnya murung seketika. Meski ia tidak mengucapkan sepatah katapun, tapi bunda tahu kalau anaknya sedang kesal.

__ADS_1


Melihat wajah kesal Suci, bunda kembali menarik napas dalam-dalam. Ia melepaskan napas berat itu dengan kasar.


"Suci, bukankah kamu tahu kalau sekarang Budi tidak sama dengan Budi yang dulu? Jadi tolong, dengarkan perkataan bunda jika kamu ingin selamat, Nak. Bunda tidak ingin kamu kenapa-napa. Dekat dengan Budi sama saja dengan mencari masalah dengan mahkluk halus, Nak," ucap bunda menjelaskan.


"Bunda, itu semua bukan Budi yang mau. Dia pasti ingin hidup normal seperti sebelumnya. Kita harus bantu dia agar bisa kembali seperti semula, Bun."


"Kamu tidak mengerti, Suci. Menolong Budi sama saja dengan memancing peperangan dengan mahkluk halus tersebut."


"Tapi, Bun .... "


"Semua itu tidak semudah yang kamu pikirkan, Nak. Jadi tolong, dengarkan apa yang bunda katakan."


Suci terdiam. Ia tidak punya kata-kata lagi untuk berdebat dengan bundanya. Perkataan bunda memang benar. Tapi, satu sisi hatinya merasakan ada yang tidak beres dengan bunda. Suci merasakan, ada sesuatu yang bunda simpan darinya. Tapi entah apa. Dia juga tidak tahu.


Suci berdiri tegak di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Tangannya terasa berat untuk memegang gagang pintu kamar, namun ia paksakan untuk tetap membukakan pintu itu.


Aura kamar ini terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada aura negatif dan juga beban berat. Kamar bunda kali ini sama seperti kamar-kamar lainnya di rumah ini.


Untuk memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi, Suci mengulangi sekali lagi apa yang ia lakukan. Ia berbalik untuk keluar dati kamar itu, lalu masuk kembali. Suci mengulangi keluar masuk kamar bunda berkali-kali.


"Ya Tuhan, aku kok jadi bo*doh gini," ucap Suci sambil menepuk jidatnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Suci melanjutkan langkahnya. Mata Suci berkeliaran melihat setiap sudut kamar bunda. Ia ingin mencari sesuatu yang mungkin bisa menebus rasa penasaran yang ada dalam hatinya.


Suci menelusuri setiap laci. Ia buka semua lemari. Tapi sepertinya, tidak ada yang aneh dengan kamar bunda. Semuanya tampak seperti biasa. Tidak ada hal yang mencurigakan.

__ADS_1


Lelah mencari, Suci pun duduk di atas ranjang bunda. Ia melepaskan napas berat karena capek.


Setelah capeknya reda, Suci memutuskan untuk meninggalkan kamar bunda segera. Namun, ketika ia bagun dari duduk dan akan memutar badannya, kaki Suci tanpa sengaja menabrak sesuatu.


Suci membungkuk untuk melihat benda apa yang telah menghalangi langkah kakinya. Itu adalah sebuah kotak kayu yang lusuh. Kotak kayu kuno yang sepertinya berasal dari jaman penjajahan, mungkin.


"Kotak apa ini?" tanya Suci pada dirinya sendiri sambil berjongkok.


"Su ... ci .... "


Sebuah suara berat memanggil namanya. Sontak, Suci kaget. Ia melihat sekeliling kamar itu, namun tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduk Suci berdiri semua. Namun, dia mencoba menepis rasa takut yang tiba-tiba menjalar seluruh tubuh.


Suci kembali fokus pada kotak yang ia temui barusan. Namun, suara itu tiba-tiba kembali memanggil namanya. Kali ini, suara itu di barengi dengan lampu kamar bunda yang berkedip-kedip.


"Siapa kamu!?" tanya Suci memberanikan diri.


"Jangan sentuh kotak itu .... " ucap suara berat tersebut.


"Aku tanya siapa kamu!"


"Aku di belakangmu, Suci."


Sontak, Suci langsung menoleh kebelakang.


"Aggghhhhh." Suci kaget sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2