Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
35. Kekalahan Yuni


__ADS_3

Sarah dan Ki Agung bertengkar hebat. Sedangkan Baraj, ia hanya jadi penonton yang begitu menikmati pertengkaran antara murid dan guru ini. Perhatian mereka terpecahkan dari Suci. Suci yang terus membaca mantra untuk menggabungkan darahnya dengan darah Budi, sedikit lagi berhasil. Cahaya kuning keemasan itu semakin lama semakin besar hingga memenuhi ruangan rumah Budi.


"Hiya .... " Suci berteriak keras seperti sedang melepas kelegaan.


Cahaya itu lenyap berbarengan dengan terpental nya Yuni ke tembok. Semua mata tertuju pada Suci dan Budi yang sedang memakai pakaian yang tak biasa.


Budi terlihat sangat gagah dengan kain songket dan baju adat yang ia kenakan. Sedangkan Suci, kebaya hijau lengkap dengan rok terbalut rapi di tubuhnya. Sanggul dengan kembang goyang dan perhiasan lainnya juga tertancap rapi di kepala, sebagai pelengkap pakaian adat yang ia kenakan. Mereka berdua seakan sedang melakukan resepsi pernikahan dengan pakaian adat yang sangat menawan.


"Tidaaakkkk!" Yuni berteriak keras memecahkan keheningan dalam ketidak percayaan semua mata melihat kearah Suci dan Budi.


"Aku tidak bisa terima ini. Aaaaaggghhh."


Seketika, wajah cantik milik Yuni pun berubah mengerikan. Mata indah itu berubah merah. Pipi putih berubah hitam dan kurus seakan tidak punya isi sama sekali. Gaun putih bersih, berubah menjadi penuh noda merah. Wajah Yuni begitu mengerikan dengan taring yang tajam.


"Kalian telah mengecewakan aku! Kalian harus terima akibatnya!" Yuni berkata sambil mengangkat badannya. Yuni terbang. Itulah yang pertama ia lakukan untuk menyerang Budi dan Suci.


Tapi sayang, usaha yang Yuni lakukan ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Serangan itu gagal hanya dengan sekali tepis tangan lembut Suci. Hanya satu gerakan kecil, Yuni kembali harus merasakan sakit akibat terbentur tembok yang keras.


"Aggghhh." Yuni merintih kesakitan.

__ADS_1


"Ayah." Dengan suara pelan, Yuni memanggil-manggil ayahnya.


Tidak menunggu waktu lama, mahkluk halus yang tidak bisa dilihat oleh mata itupun muncul tiba-tiba. Seorang laki-laki tua dengan pakaian kerajaan beserta empat pengawal yang memiliki wajah buruk rupa menampakkan dirinya di rumah Budi.


"Yuni!" Suara berat itu menyapa Yuni tanpa berniat membantu Yuni bangun sedikitpun.


"Ayah. Akhirnya, ayah datang juga. Tolong aku ayah. Aku tidak bisa melawan mereka. Manusia-manusia itu ternyata sangat kuat ayah," kata Yuni sambil menahan sakitnya.


"Bantu Yuni bangun!" Ayah Yuni memerintahkan pengawalnya untuk membantu Yuni.


"Baik."


"Ayah." Yuni menatap ayahnya penuh makna.


"Yuni. Sudah aku katakan sebelumnya, jika darah suci itu tergabung, mahkluk seperti kita tidak akan mampu melawan mereka."


"Tapi ayah, apakah kita harus menerima kekalahan ini begitu saja? Tidak ayah, tidak. Aku tidak bisa menerima kekalahan ini begitu saja. Bagiku, ini adalah satu penghinaan besar bagi mahkluk seperti kita yang terkenal sangat berkuasa."


"Yuni. Kita tidak bisa melawan mereka. Ini bukan soal penghinaan atau lain semacamnya. Yang jelas, kita tetap tidak bisa melawan mereka. Kau harus ingat, di atas langit, masih ada langit lagi. Kita kuat. Tapi, masih ada yang lebih kuat lagi dari kita."

__ADS_1


Yuni terdiam. Sejujurnya, dia tidak bisa menerima semua ini. Dia yang merasa kalau dirinya yang paling kuat di kalangan mahkluk halus, tapi kalah dengan gadis kecil yang terlihat sangat lemah.


"Yuni." Ayah memanggil sambil menepuk pundak anaknya.


"Mungkin inilah takdir yang sudah tertulis. Perjanjian ini harus berakhir sampai di sini saja. Kau harus bisa terima semua ini," kata ayah lagi.


"Ayah, aku tetap tidak bisa menerima penghinaan ini. Aku .... " Yuni berbalik melihat kearah Sarah dan Ki Agung.


"Karena kesalahan yang kalian perbuat, aku harus kehilangan sesuatu yang aku tunggu sejak lama. Kalian adalah penyebab dari rasa kecewa yang aku rasakan saat ini. Kalian harus terima akibatnya," kata Yuni sambil berjalan mendekat kearah Sarah dan Ki Agung.


"Mau apa kamu?" tanya Sarah dengan rasa takut.


"Yu--Yuni, itu salah dia." Ki Agung mengarahkan telunjuknya pada Sarah.


"Aku tidak ada urusan dengan semua ini. Jadi tolong, aku mohon lepaskan aku," ucap Ki Agung dengan nada memelas.


"Agggghhhh."


Yuni tidak mendengarkan apa yang Ki Agung katakan. Dia mengeram keras sambil menggenggam kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2