Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
13. Sadarnya Suci


__ADS_3

"Ini pasti ada hubungannya dengan kamu Budi. Jika tidak, anakku pasti tidak akan seperti ini!"


"Maaf bibi, saya .... "


"Ani, apa yang kamu katakan. Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi," ucap ayahnya Suci yang baru pulang dari kerja.


"Ayah gak ngerti apa-apa, jadi tolong jangan ikut campur. Apa ayah gak lihat apa yang terjadi pada Suci sekarang?" tanya bunda kesal.


"Ayah tahu bunda sedang kesal. Tapi tolong, jangan salahkan orang lain ketika kita dapat masalah."


"Ayah!" Bunda kesal dengan sikap ayah yang malah membela Budi.


"Bunda, sudahlah. Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana cara mengobati anak kita. Berhentilah menyalahkan orang lain."


"Budi, maafkan bibi mu ya. Dia terlalu cemas sehingga bicara sembarangan. Sebaiknya, kamu pulang saja, Nak."


"Tapi paman, bagaimana dengan Suci. Saya ingin menemani Suci sekarang."


"Tidak perlu! Sebaiknya kamu segera pergi sebelum kekesalan ku bertambah," kata bunda.


"Nak, kamu tahu Suci bukan? Dia anak yang kuat. Kamu tidak perlu menemaninya. Dia sudah sering mengalami hal seperti ini. Jadi, dia pasti akan baik-baik saja."


"Ta--tapi paman."


"Sudahlah, nak. Kamu ikuti saja apa yang paman katakan. Kamu pulang dulu, jika Suci sudah sadar, paman akan kabari kamu."


"Baiklah paman. Aku permisi pulang dulu, paman, bibi," ucap Budi sambil beranjak dari duduknya.


Setelah kepergian Budi, bunda Suci mulai melakukan sesuatu untuk menolong anaknya. Bunda Suci bukan dukun, tapi dia punya sedikit kepandaian dalam hal dunia gaib. Hal itulah yang membuat dia bisa membantu anaknya selama ini.


Suci memang terlihat seperti anak normal pada umumnya. Tapi sebenarnya, dia adalah gadis yang sangat lemah. Sering kerasukan ketika melihat mahkluk-mahkluk tak kasat mata yang nakal dan suka mengganggu.

__ADS_1


Ini adalah yang pertama kalinya Suci pingsan setelah indra keenamnya ditutup. Tapi, sebelum indra keenamnya bunda tutup, Suci sering sekali kerasukan bahkan disakiti oleh mahkluk tak kasat mata.


Karena indra keenamnya membuat Suci selalu dapat masalah, maka bunda menutup indra keenam tersebut. Benar saja, saat Suci tidak bisa melihat mahkluk halus lagi, dia tidak pernah pingsan atau di sakiti, hingga hari ini tiba. Tubuhnya memerah akibat ulah mahkluk tak kasat mata tersebut.


"Bagaimana, Bun? Apa bunda tahu apa penyebabnya?" tanya ayah.


"Dia diserang oleh mahkluk tak kasat mata, Yah."


"Lho, kok bisa. Bukannya bunda bilang kalo Suci tidak akan dapat masalah jika bunda menutup indra keenamnya."


"Iya, itu benar. Tapi ini bukan karena indra keenam yang ia miliki ayah."


"La--lalu?" tanya ayah bingung.


"Ini ulah makhluk penjaga."


"Mahkluk penjaga?"


"Maksud bunda, atasan seperti raja?"


"Ya begitulah. Karena yang bunda tahu, mahkluk ini adalah milik mahkluk halus juga. Dia bukan milik dari manusia. Lebih tepatnya, dia adalah pengawal dari tuan yang mengirimkannya."


"Ko--kok bisa?" tanya ayah dengan kaget.


"Jika tebakan bunda tidak salah, ini ada hubungannya dengan Budi."


"Kenapa dengan anak itu?"


"Bunda tidak tahu mau menjelaskannya seperti, tapi yang pasti, bunda merasakan kalau mahkluk halus tersebut ada hubungannya dengan Budi."


Ayah terdiam. Ia mencoba mencerna setiap perkataan bunda yang masuk ke telinganya. Ayah tak mengerti dengan perkataan bunda barusan. Hubungan mahkluk halus tersebut dengan Budi? Entah bagaimana bisa bunda menyimpulkan seperti itu.

__ADS_1


"Apa yang ayah pikirkan?" tanya bunda membuyarkan lamunan ayah.


"Tidak ada. Bagaimana keadaan Suci sekarang?" tanya ayah mengalihkan pembicaraan.


"Suci sudah mendingan. Untung saja bunda selalu membekali anak kita dengan penangkal, jika tidak, mungkin Suci sudah tidak ada lagi," ucap bunda dengan wajah serius.


"Sekuat itukah mahkluk halus yang menyerang Suci, Bun?"


"Iya. Mahkluk itu sangat kuat dan hebat. Jika tidak, maka dia tidak akan bisa menembus pagar gaib yang bunda buat untuk membentengi anak kita."


"Ayah, bunda tidak ingin Suci berteman dengan Budi lagi," ucap bunda setelah melihat ayah memegang ponselnya.


"Bunda, jangan seperti itu. Anak itu tidak salah, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya korban, Bun."


"Ayah .... "


"Ayah, bunda." Suci memanggil ayah dan bundanya. Saat itulah, perdebatan antara ayah dan bunda harus terhenti.


"Ada apa, Nak?" tanya ayah dan bunda secara bersamaan.


"Di mana Budi?" tanya Suci dengan suara berat dan terkesan sangat lemah.


"Budi .... "


"Dia pulang. Kenapa kamu harus menanyakan dia," ucap bunda memotong perkataan ayah dengan cepat.


"Bunda!" Ayah melihat bunda dengan tatapan tidak suka.


"Ayah, bunda, Budi dalam bahaya. Kita harus menolongnya."


"Bahaya? Bahaya kenapa, Nak?" tanya ayah antusias, sedangkan bunda, dia hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2