
Suci memegang tangan Budi sambil menangis.
"Aku mohon, jangan lakukan hal itu. Kita punya cara lain untuk melawan se*tan lak*nak itu tanpa harus mengorbankan dirimu."
"Kau lihat bagaimana mereka berencana untuk melawan mu, Yuni," kata Sarah.
"Ya, mereka pantas kau bawa dan jadikan budak di istana mu," kata Ki Agung menambahkan.
Mereka berdua tersenyum bahagia penuh kemenangan. Usaha menghasut Yuni ternyata berhasil. Dengan begitu, Sarah tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas dendam pada Suci karena telah mengkhianatinya dengan mencuri kitab kembang setanjung yang selama ini ia simpan.
"Kau! Aku juga tidak akan membiarkan mu hidup," kata Yuni sambil melihat Suci dengan tatapan mematikan.
"Aku tidak takut padamu mahkluk ter*ku*tuk. Kau tidak punya kuasa atas nyawa seseorang," ucap Suci mantap.
"Kau!" Yuni terlihat begitu kesal dan marah saat melihat perlawanan yang Suci berikan.
"Tunggu Yuni!" Budi dengan cepat menghentikan gerakan Yuni yang siap menyerang Suci dari kejauhan.
"Aku mohon, lepaskan dia. Aku bersedia ikut dengan mu asalkan kau membiarkan dia tetap hidup dengan bebas. Aku sanggup menjadi budak mu dengan senang hati."
"Budi!"
"Suci. Kita tidak punya cara lain. Semua ini karena aku. Aku tidak akan membiarkan kalian semua tersakiti hanya karena aku."
"Kita punya cara lain untuk menyelesaikan masalah ini Bud. Kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu."
__ADS_1
"Cara apa? Katakan padaku cara apa lagi yang bisa kita lakukan. Kamu harusnya tahu kalau Yuni itu bukan mahkluk gaib seperti biasanya."
"Yuni! Jangan biarkan mereka mencari cara untuk melawan mu. Cepat! Lenyap kan saja gadis itu. Dialah puncak perlawanan keluarga ini dengan mu." Sarah berkata dengan lantang untuk menghasut Yuni lagi.
"Benar Yuni. Kau jangan lupa kalau kitab kembang setanjung ada pada gadis itu. Dia pasti punya rencana untuk mengalahkan mu," kata Ki Agung pula.
"Benar Yuni," ucap Sarah lagi.
"Tidak akan aku biarkan kalian mengelabui aku lagi sekarang," ucap Yuni sambil menyerang Suci dari kejauhan.
"Aggghhh." Suci berteriak kesakitan dengan darah segar tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Suci!" Budi kaget disertai rasa cemas segera memegang tubuh Suci yang terlihat begitu kesakitan.
"Benar, Nak. Bibi mohon, demi keselamatan kamu. Jangan melawan. Kita tidak bisa melawan dia," ucap mama pula.
Irfan yang terbaring kesakitan juga menganggukkan kepala tanda membenarkan perkataan mama dan Budi, sedangkan papa, ia hanya bisa diam tanpa kata. Kebingungan sedang melanda hati dan pikiran papa saat ini. Ia seperti orang bo*doh yang tidak tahu harus apa selain jadi penonton dari pertujukan besar yang sedang berlangsung.
"Bibi, Irfan, Budi, kalian tidak usah cemas, aku tidak apa-apa. Aku tahu bagaimana cara melawan mahkluk yang bernama Yuni ini," ucap Suci sambil memegang perutnya untuk menahan rasa sakit akibat serangan tak terlihat dari Yuni.
"Kau tidak akan mampu melawan aku! Anak kecil!" kata Yuni.
Suci mengeluarkan sebilah keris kecil. Keris itu seukuran gantungan liontin. Terlalu kecil sampai tidak terlihat jika disimpan dalam genggaman.
"Berikan tanganmu Budi!"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Berikan saja! Jangan banyak tanya."
Budi mengulur tangannya. Dengan cepat, Suci menggoreskan jari telunjuk Budi dengan keris kecil itu. Dari goresan kecil itu mengalir setitik darah segar. Tidak membuat waktu, Suci menampung darah itu dengan telapak tangannya.
Yuni tahu apa yang Suci lakukan. Ia menyerang Suci lagi dan lagi. Tapi, serangan itu seolah-olah tidak berpengaruh pada Suci sama sekali. Suci tidak merasakan apa-apa saat serangan itu Yuni luncurkan.
"Ada apa ini guru?" tanya Sarah mulai cemas.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi."
"Tapi .... "
"Diam Sarah. Kita hanya jadi penonton di sini. Apa kamu ingin nyawa mu melayang?" tanya Ki Agung kesal.
"Tidak guru."
"Kalau begitu, diam."
"Baik guru."
Meskipun kesal dengan bentakan yang Ki Agung lontarkan, Sarah tidak bisa melawan. Ia hanya bisa menuruti saja apa yang Ki Agung katakan. Mereka berdua kembali menjadi penonton yang menikmati pertunjukan besar ini.
Suci menyatukan darahnya dengan darah Budi. Sebuah cahaya keemasan muncul dari penyatuan darah itu. Cahaya itu menyilaukan semua mata yang berada di sana.
__ADS_1