Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
24. Dunia lain


__ADS_3

"Ya Tuhan!" Budi berucap kaget sambil menutup matanya dengan kedua tangan.


"Ada apa?"


"Aku ingin kembali ke alam ku," ucap Budi tanpa membuka matanya.


"Kamu bilang ingin membantu mama dan adikmu biar tidak merasakan panas lagi. Apa kamu tidak ingin melakukannya?"


"Aku mau, tapi .... "


"Tapi apa?"


"Tapi aku takut."


"Pada siapa?"


"Pada semua mahkluk yang bisa aku lihat."


"Dasar manusia. Begitu saja takut."


"Mereka tidak akan menyakiti kamu jika kamu tidak menyakiti mereka duluan," kata Yuni lagi.


"Sudahlah, ayo ikut aku keluar rumah. Mahkluk yang membuat hawa panas di rumah ini sedang berada di atap rumahmu sekarang."


"Atap rumah? Bagaimana caranya kita naik ke atas? Di rumah ini tidak ada tangga yang bisa kita gunakan untuk memanjat genteng," kata Budi kebingungan.


"Budi, Budi. Kita tidak memerlukan tangga hanya untuk naik ke atas," kata Yuni sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu, bagaimana kita mau naik?"


"Itu urusan mudah. Ulurkan tangan mu," kata Yuni sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Budi dengan wajah bingung melakukan apa yang Yuni perintahkan. Ia mengulurkan tangannya dengan rasa ragu-ragu.


"Tutup matamu!"


"Untuk apa?"


"Lakukan saja."


Budi pun melakukan apa yang Yuni katakan. Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah Yuni. Karena sekarang, dirinya sedang berada di duni lain.


"Buka matamu!"


Budi membuka matanya perlahan. Ia kaget dengan apa yang ia lihat. Sekarang, dirinya berada di atas genteng rumah dengan pemandangan yang tak biasa, yaitu, banyak mahkluk dari dunia lain yang sedang berkeliaran dengan bebas terbang kesana-kemari.


"Yuni." Budi dengan erat mencengkram tangan Yuni yang ia pegang sebelumnya.


"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya Yuni dengan nada mengejek. Budi hanya bisa diam dan pasrah dengan ejekan yang Yuni lontarkan. Karena memang, dirinya sedang berada dalam ketakutan saat ini. Ketakutan akan ketinggian, juga ketakutan akan mahkluk yang sedang berkeliaran saat ini.


"Ya, aku melihatnya. Ada apa dengan dia?"


"Dialah yang telah menyebabkan hawa panas di rumahmu."


"Mengapa mahkluk itu melakukan semua ini?"


"Karena tuannya menginginkan kamu celaka."


"Apa!? Siapa tuanya itu?"


"Sarah."


"Sa--Sarah?"

__ADS_1


"Ya, Sarah."


"Jangan katakan kalau Sarah yang menjadi tuan dari mahkluk itu adalah Sarah bundanya Suci."


"Jadi, aku harus katakan apa?"


"Jadi ... bundanya Suci sangat benci padaku? Kenapa?" tanya Budi dengan wajah sedih.


"Sudahlah, jangan pikirkan soal itu. Sekarang, kita harus memberi pelajaran pada mahkluk yang sudah mencari gara-gara ini."


Budi hanya diam saja. Rasa sedih yang ada dalam hatinya tidak bisa ia tutupi. Bagaimanapun, ia sudah sangat dekat dengan bunda sebelumnya. Tidak terlintas dalam benak Budi kalau bunda bisa membencinya sampai seperti saat ini. Bahkan, bunda berniat ingin mencelakainya padahal dia tidak pernah membuat masalah dengan bunda sebelumnya.


"Mau kita apakan mahkluk ini?" tanya Yuni.


"Tidak usah di apa-apakan dia. Kembalikan saja pada tuannya. Lalu, kembalikan aku ke duniaku semula," kata Budi dengan nada sedih.


"Tapi .... "


"Sudahlah, ikuti saja apa yang aku katakan."


"Heeemmm." Yuni melepas napas berat karena sikap Budi yang tiba-tiba saja berubah. Tapi, dia tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang Budi katakan.


Dengan kehebatan yang Yuni miliki, mahkluk itu masih tetap tidak menyadari kehadiran Yuni dan Budi. Yuni pun memindahkan mahkluk itu ke atas atap rumah bunda.


Di sana, mahkluk itu masih tidak menyadari kalau dirinya sudah berpindah posisi. Ia masih melakukan apa yang ia lakukan di rumah Budi. Hal itu menyebabkan hawa panas ke dalam rumah bunda.


Bunda yang sedang istirahat di kamar, bergegas bangun, lalu segera keluar dari kamarnya.


"Aduh, kok bisa panas gini ya, padahal cuaca sedang mendung," ucap bunda masih belum menyadari keberadaan si pembuat hawa panas.


"Iya ya bun, panas banget. Ayah pikir cuma ayah saja yang merasakan panas ini," ucap ayah yang baru datang dari dapur sambil membawa segelas air es.

__ADS_1


Sementara itu, Suci tetap bertahan di kamar. Ia masih belum ingin bertemu dengan bundanya karena ia tahu, bunda pasti akan menanyakan soal kotak ketika bertemu dengannya.


__ADS_2