
Sejak ia tahu kalau bunda benar-benar membencinya, kini Budi lebih sering murung dan mengurung diri di kamar. Ia juga memutuskan kontak dengan Suci.
Ia mematikan ponselnya sudah beberapa hari ini. Budi juga tidak mengunjungi Suci lagi. Karena peringatan Yuni yang mengatakan, mahkluk itu selalu berjaga-jaga di rumah Suci. Mahkluk itu juga bisa melihat sukma Budi. Makanya, Budi memutuskan untuk tidak mengunjungi Suci.
"Budi." Yuni memanggil Budi yang sedang termenung.
"Apa?" tanya Budi pelan.
"Mengapa kamu tidak menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang tidak membuat kamu berpikir soal Suci lagi."
"Maksud kamu?"
"Sebaiknya, kamu tidak memikirkan tentang kekasih mu terus menerus. Dia baik-baik saja di bawah kawalan bundanya."
"Apakah kamu datang hanya untuk mengatakan hal itu padaku?" tanya Budi kesal.
"Tidak."
"Lalu, apa lagi yang ingin kamu katakan?"
"Aku punya sesuatu yang bisa membuat kamu tidak merasa bersalah dengan perlakuan bunda dari kekasihmu itu."
"Maksud kamu?"
"Apa kau tahu, sebenarnya, Suci itu bukan anak kandung dari Sarah?"
"Apa!? Jangan bohong kamu," kata Budi kaget.
__ADS_1
"Bang." Tepat saat itu, Irfan mendengarkan teriakan kaget Budi yang tidak terkontrol. Karena terlalu kaget, Budi tidak ingat bahwa dia bicara keras sendirian.
"Abang bicara dengan siapa?" tanya Irfan sambil melihat sekeliling kamar Budi.
"Ti--tidak ada. Aku hanya sedang bicara lewat telepon saja," ucap Budi berbohong.
Budi terpaksa berbohong pada adiknya, agar adiknya tidak cemas. Karena sebenarnya, semua anggota keluarga mengira, Budi sudah terbebas dari gangguan mahkluk halus sekarang. Makanya, dia tidak ingin Irfan tahu kalau dirinya bicara sendiri, karena Irfan tidak bisa melihat Yuni.
"Oh." Irfan mengangguk dengan ragu. Bagaimana tidak, ia merasa abangnya telah membohonginya. Abangnya mengatakan kalau dia sedang bicara lewat telpon, sedangkan ponselnya sedang berada di atas meja.
"Ada apa kamu ke sini, Fan?" tanya Budi mengalihkan pokok pembicaraan dengan cepat.
"Tidak ada, aku hanya lewat saja bang."
"Oh."
"Ya sudah, aku keluar dulu ya bang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ucap Irfan sambil berjalan meninggalkan kamar Budi.
Setelah kepergian Irfan, Budi buru-buru memanggil Yuni. Ia ingin menanyakan kepastian kabar berita yang Yuni sampaikan padanya barusan.
"Yuni."
"Ada apa?" tanya Yuni dengan wajah kesal.
"Katakan padaku dari mana kamu tahu kalau Suci bukan anak kandung bibi Sarah."
"Sudah ku duga, jika kau memanggil aku pasti ada perlunya."
__ADS_1
"Sudah, jawab saja apa yang aku tanya. Bukankah tugasmu menjawab pertanyaan dariku?"
"Dasar manusia. Maunya untung sendiri."
"Yuni, apa kamu ingin menjawab atau tidak. Jika tidak ingin, aku tidak memaksa." Budi menunjukkan wajah kesalnya pada Yuni.
"Baiklah, baiklah, baiklah. Aku akan menjawab apa yang kamu tanyakan. Jadi tolong, wajahmu jangan seperti itu. Aku tidak tenang menjelaskan apa yang kamu tanyakan jika wajahmu jelek begitu."
"Jangan banyak omong, katakan secepatnya."
"Ya, Suci memang bukan anak kandung Sarah. Dia adalah anak dari seorang wanita yang bernama Susi. Susi dan Sarah berteman baik sebelumnya. Tapi, sifat Susi dan Sarah jauh berbeda. Susi punya hati yang lembut dan sangat baik. Tapi Sarah, dia serakah dan punya hati yang busuk." Yuni menghentikan ceritanya sejenak, membuat Budi merasa penasaran.
"Lalu, di mana bibi Susi? Mengapa Suci menjadi anak Sarah? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Susi meninggal. Sarah yang membunuhnya."
"Me--mengapa bibi Sarah membunuh teman baiknya?" tanya Budi gelagapan seakan tak percaya.
"Sudah aku katakan sebelumnya, Sarah punya hati yang busuk dan sifat serakah. Ia tahu kalau dari rahim Susi akan lahir anak yang berdarah suci, yang bisa membuka kotak kayu peninggalan gurunya, maka dari itu, Sarah merasa iri pada Susi. Ia membunuh Susi setelah Susi melahirkan bayinya. Lalu, Sarah dengan sandiwara yang telah ia rencanakan, menjadi malaikat penolong untuk merawat bayi Susi yang diberi nama Suci untuk menjadi anak angkatnya. Karena tidak bisa memiliki Suci seutuhnya, Sarah memilih menikah dengan ayah Suci, menjadikan Suci sebagai anak tirinya pula."
"Dengan begitu, ia bisa memiliki semua yang Susi miliki, termasuk kotak kayu yang di wariskan oleh guru mereka pada Susi," kata Yuni melanjutkan.
"Jadi ... apakah mungkin kalau suatu saat nanti, bibi Sarah akan menyakiti Suci, Yuni?" tanya Budi cemas.
"Mungkin saja. Karena Sarah bukan manusia baik. Sedangkan teman baiknya saja bisa ia bunuh, apalagi Suci yang menjadi anak tirinya."
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?" tanya Budi dengan nada putus asa.
__ADS_1
Apakah ... apakah Suci tahu kalau dia bukan anak kandung bibi Sarah?" tanya Budi lagi.
"Belum."