Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
20. Perjanjian


__ADS_3

Berbagai pertanyaan yang timbul dalam benak Budi. Namun tidak ada satupun jawaban yang ia dapatkan. Karena Suci yang tidak bisa melihat maupun merasakan kehadiran Budi, membuat Budi diabaikan oleh Suci.


Suci memang tidak bisa merasakan kehadiran Budi, karena Budi bukan mahkluk halus. Yang berjalan itu adalah sukma. Suci tidak bisa merasakan kehadiran sukma di sekitarnya.


Budi ingin menyentuh pundak Suci, tapi tidak bisa. Sukmanya tidak bisa bersentuhan dengan manusia. Makanya, dia hanya bisa melihat apa yang Suci lakukan.


Perlahan air mata kembali mengalir melintasi pipi Suci. Dengan cepat Suci mengusap air mata itu. Suci menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Hal itu membuat hati Budi ikut merasakan kesedihan yang Suci rasakan saat ini.


"Apa yang terjadi, Chi? Mengapa kamu menangis?" tanya Budi pelan dengan nada iba.


"Katakan padaku, Chi, apa yang telah membuat hatimu begitu terluka?"


"Kamu tidak boleh menangis, Suci. Suci yang aku kenal adalah gadis yang kuat. Tidak mudah menitikkan air mata," ucap Budi berusaha menghibur walaupun dia tahu kalau Suci tidak akan mendengarkan apa yang ia katakan.


Merasa sudah cukup ia berada di kamar itu, Budi memutuskan untuk pulang. Ia keluar dari kamar Suci segera, lalu mencari di mana keberadaan Yuni.


"Yuni. Di mana kamu?"


Yuni muncul tiba-tiba saat mendengarkan panggil Budi barusan.


"Ada apa?" tanya Yuni dengan nada agak kesal.


"Ayo pulang!"


"Mengapa kamu kelihatannya sangat sedih, Budi? Harunya itu kamu bahagia karena telah bertemu dengan kekasihmu," kata Yuni malah meledek.


"Ayo pulang!" kata Budi sedikit membentak dengan nada kesal.


Tanpa menunggu Yuni menjawab perkataannya, Budi berjalan meninggalkan Yuni yang melihat Budi dengan tatapan aneh.


"Hei! Tunggu!"


Budi tidak menanggapi apa yang Yuni katakan. Ia tetap melangkah pergi meninggalkan rumah Suci. Dengan cepat, Yuni menyusul Budi. Dengan sekali sentuhan saja, mereka berdua sudah kembali ke kamar Budi. Sukma Budi langsung menyatu dengan tubuhnya.


"Aku tahu apa yang membuat kamu sedih," kata Yuni.

__ADS_1


Budi hanya diam. Dia tidak mau menanggapi apa yang Yuni katakan. Karena ia berpikir, Yuni berkata bohong padanya.


"Budi, kamu tidak ingin tahu apa yang menyebabkan kekasihmu sedih?" tanya Yuni.


"Apakah kamu tahu apa penyebabnya?" tanya Budi mulai terpancing.


"Ya. Tentu saja aku tahu."


"Cepat katakan padaku apa yang telah membuat Suci bersedih!"


"Itu karena ulah bundanya."


"Maksud kamu?"


"Cari tahu saja sendiri. Yang jelas sudah aku katakan apa penyebabnya, bukan?"


"Kamu!" Budi begitu kesal dengan perkataan Yuni barusan. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin memaksakan Yuni untuk menjelaskan. Karena Budi tahu, itu akan sia-sia.


"Budi, aku punya sebuah penawaran untukmu. Apakah kamu mau terima tawaranku?"


"Kamu bisa pergi ke manapun kamu inginkan dengan mengeluarkan sukma dari tubuhmu sendirian. Kapan pun kamu mau. Tapi dengan satu syarat." Yuni menghentikan perkataannya membuat Budi merasa penasaran.


"Syarat apa?" tanya Budi tak sabar lagi.


"Kamu terima aku sebagai kekasihmu, dan kamu juga sudi ikut aku ke kerajaan ku, kapan pun aku butuhkan."


"Tidak!"


"Bod*oh. Apa kamu tidak ingin melihat kekasih mu setiap saat?"


"Aku ingin, tapi tidak ingin terima tawaran mu."


"Kau hanya perlu datang ke tempatku jika aku butuhkan. Bukan setiap saat. Lagi pula, itu perjanjian yang saling menguntungkan buat kita berdua. Kau akan aku berikan apapun yang kau inginkan. Apapun yang ingin kau ketahui, maka aku akan mengatakan padamu semuanya."


"Aku tetap tidak tertarik," ucap Budi menolak.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu. Aku akan bunuh kekasih mu agar kau tahu bagaimana rasanya kehilangan."


"Se*tan! Apa yang kau katakan. Jangan berani-berani kamu sentuh Suci sedikitpun. Jika kamu berani melakukannya, maka aku akan melenyapkan mu dengan tanganku sendiri." Budi begitu marah akibat perkataan Yuni barusan.


"Aku tidak takut dengan ancaman mu, Budi. Aku serius dengan perkataan ku barusan. Jika kamu menolak permintaan ku, maka kamu juga akan merasakan kehilangan akibat dari penolakan mu itu." Yuni pun menghilang setelah berbicara seperti itu.


"Yuni Tunggu!"


"Tunggu Yuni! Aku terima tawaran mu," ucap Budi lagi.


Mendengarkan persetujuan Budi barusan, Yuni muncul dengan tiba-tiba. Ia tersenyum manis kearah Budi.


"Benarkah? Benarkah kamu setuju dengan persyaratan yang aku berikan?" tanya Yuni dengan senyum manis di bibirnya.


"Ya." Budi menjawab singkat.


"Bagus kalau begitu."


"Sekarang aku ingin tahu apa penyebab Suci menangis," ucap Budi cepat.


"Sudah aku katakan, penyebab kekasihmu menangis adalah bundanya."


"Aku ingin tahu alasannya apa."


"Alasannya kamu."


"Maksudnya?"


"Suci menemukan kotak kayu tua yang berisikan sebuah kitab. Kitab itu mampu membuat orang berdarah suci melihat apa yang ingin ia lihat dari masa lalu."


"Lalu?"


"Suci ingin melihat perubahan sikap Bundanya. Ia merasa kalau bundanya telah berubah. Kitab itu meluluskan niat Suci untuk melihat penyebabnya."


"Apa hubungannya dengan aku?" tanya Budi bingung.

__ADS_1


__ADS_2