Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
29. Cerita masa lalu


__ADS_3

Papa pun bercerita bagaimana sampai perjanjian itu bisa tercipta. Kejadian itu sudah sangat amat lama. Saat di mana raja masih berkuasa dengan sepenuhnya memimpin kerajaan. Saat sumpah masih jadi kenyataan setiap diucapkan. Saat itulah perjanjian ini tercipta.


Anak raja yang cantik, jatuh cinta pada kakek buyut papa. Sayangnya, cinta tidak melihat fisik maupun harta. Kakek buyut menolak cintanya anak raja karena ia sudah punya tambatan hati. Tambatan hati itu hanyalah gadis desa yang terlahir dengan wajah pas-pasan dan kehidupan yang sederhana.


Mengetahui cintanya ditolak oleh kakek buyut, anak raja itu malu dan merasa sangat terhina. Ia tidak sanggup untuk untuk tetap bertahan karena desas desus penolakan kakek buyut semakin menyebar luas saja.


Karena malu yang berkepanjangan tak bisa ia tahan, anak raja pun memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan menggantung dirinya di pohon jati yang berada di samping jendela kamarnya sendiri.


Mengetahui penyebab putrinya gantung diri adalah penolakan kakek buyut, raja tidak terima. Ia pun mengutuk kakek buyut dan seluruh keluarga hidup segan mati tak mau. Hidup dengan sangat tersiksa, sedangkan matinya tidak mau alias sulit sekali.


Karena sumpah raja itu terbukti, kakek buyut pun disalahkan oleh seluruh anggota keluarga. Kakek buyut dikucilkan dari keluarga, bahkan ia disiksa karena dirinyalah penyebab semua kesulitan yang terjadi dalam keluarga.


Bukan hanya itu, wanita yang ia cintai juga mendapat perlakuan yang sama dari keluarganya. Karena tidak kuat menahan semua itu, wanita yang ia cintai meninggal dengan cara bunuh diri.


Sedih, kecewa, terluka, sakit hati, sampai membawa kearah dendam yang mendalam. Kakek buyut pun datang menemui sang raja. Ia meminta sang raja mencabut kembali kutukan yang telah ia buat. Dan memberi hukuman yang seberat-beratnya pada keluarga yang telah membuat dirinya kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


Entah bagaimana cara, raja pun bersedia menyetujui apa yang kakek buyut minta. Tapi, semua itu dengan syarat yang sangat amat mustahil untuk kakek buyut laksanakan. Kakek buyut diminta menghidupkan kembali putri sang raja yang telah meninggal.

__ADS_1


Tidak habis pikir oleh kakek buyut, permintaan yang mustahil itu tetap ia sanggupi juga. Ia diberi tempo waktu selama lima hari untuk melakukannya. Jika ia tidak berhasil, maka anak yang sangat ia sayangi akan di bunuh dengan alasan mengecewakan hati raja.


Namanya juga kerajaan, raja bebas melakukan hukum apa saja. Termasuk hukum yang sangat amat mustahil dan tidak masuk akal. Bukannya ingin melepaskan beban berat yang kakek buyut miliki, ia malah menambah bebannya yang berat semakin berat saja.


Kakek buyut tidak berhasil menghidupkan putri raja yang telah meninggal kembali seperti semula. Tapi, karena sang buah hati yang sedang dalam tahanan raja, kakek buyut menawarkan sebuah hal yang lebih mustahil lagi.


Jika raja bersedia melepaskan anaknya, maka raja akan dijadikan raja yang abadi. Putri raja juga akan hidup kembali tapi dalam bentuk makhluk halus. Begitu juga raja dan juga seluruh anggota kerajaan. Kakek buyut juga berjanji, setiap anak pertama laki-laki yang dilahirkan dari keturunannya kelak, akan dijadikan suami dari anak raja.


Raja menyetujui perjanjian itu tanpa pikir panjang. Ia melepaskan anak kakek buyut dengan senang hati. Kakek buyut pun memenuhi janjinya. Setelah anak terlepas dari raja, kerajaan perlahan menghilang dari pandangan mata mereka. Bukan hanya istana yang menghilang, seluruh desa, juga lenyap seperti ditelan alam. Yang tersisa hanyalah hutan belantara.


"Begitulah ceritanya," kata papa sambil menyeka air mata yang perlahan turun dari kedua matanya.


"Apakah selama ini sudah ada anggota keluarga kita yang menjadi korban dari janji ini, Pa?" tanya Irfan cepat, memotong perkataan Budi.


"Itu ... sudah."


"Siapa?"

__ADS_1


"Abang papamu," jawab mama.


"Jadi, sebenarnya papa punya abang?" tanya Budi.


Papa hanya bisa mengangguk pelan. Ia tidak ingin mengingat cerita masa lalu yang kelam. Tapi bagaimanapun ia tutupi, tetap saja, semua itu selalu muncul dalam ingatan.


"Kalau sudah dapat, kenapa mereka masih menginginkan abang memenuhi perjanjian itu?" tanya Irfan masih tetap dengan amarah yang tertahan.


"Semua sudah menjadi perjanjian, Irfan. Baik sudah dapat atau belum, tetap saja, yang namanya perjanjian tetap harus kita penuhi," kata papa.


"Tidak. Aku tidak setuju jika abang menjadi tumbal dari perjanjian bodoh kakek buyut."


"Irfan!"


"Mama! Apa mama rela kehilangan anak mama?" tanya Irfan kesal dengan bentakan mama barusan.


Mama hanya diam tanpa kata, hanya air mata yang menjadi jawaban atas apa yang Irfan tanyakan barusan.

__ADS_1


"Kalian tidak setuju tapi kalian membiarkan begitu saja," ucap Irfan semakin kesal saja.


"Fan. Kita tidak punya cara lain selain menepati janji," ucap Budi sambil menahan kesedihannya. Walaupun hatinya kesal, tapi ia tetap berusaha tenang saat ini.


__ADS_2