Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
32. Pertanyaan Yuni


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Yuni sedikit luluh.


"Dia adalah murid ku. Aku minta maaf atas namanya karena telah menyingung perasaanmu. Tapi ketahuilah Yuni, dia bermaksud baik padamu. Dia juga berada di pihak mu saat ini. Dia sebenarnya tidak ingin mengusik mu, melainkan ingin membantu mu."


"Katakan dengan jelas apa yang bisa dia bantu untukku!".


"Lihat gadis yang berada di samping calon suamimu itu! Dia tahu bagaimana cara merebut calon suamimu dari kamu, Yuni."


"Apa maksudnya?" tanya Yuni sambil melihat kearah Ki Agung lalu berpindah kearah Budi dan Suci.


"Katakan dengan jelas apa yang gadis itu bisa lakukan untuk merebut Budi dari aku!" kata Yuni dengan amarah yang tertahan.


"Dia tahu cara membatalkan perjanjian yang telah tercipta selama ratusan tahun."


"Tidak! Itu tidak mungkin!" Yuni kelihatannya sangat marah saat tahu Suci bisa membatalkan perjanjian itu tanpa menimbulkan mala petaka buat keluarga Budi.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Kau harus tahu kalau dia punya kitab kembang setanjung yang bisa melihat semua masa lalu," kata Ki Agung dengan mantap.


"Apa!? Kitab kembang setanjung ada padanya? Tidak mungkin! Kau pasti sengaja membuat cerita untuk melindungi murid mu itu, iyakan?"


"Tidak! Aku tidak bohong Yuni! Dia mempunyai kitab kembang setanjung milik guru ku. Dia telah mencuri kitab itu dariku," kata Sarah membela diri.

__ADS_1


"Jika kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, kau bisa bertanya langsung pada gadis itu, Yuni." Ki Agung berkata dengan santai, berbeda dengan Sarah yang terlihat sangat ketakutan.


Yuni mengalihkan wajahnya kearah Suci. Matanya tajam menatap Suci. Budi yang melihat ada yang tidak beres dengan tatapan itu, segera bersiap-siap dan waspada.


"Suci! Benarkah kau punya kitab kembang setanjung yang bisa melihat masa lalu?"


Suci terdiam. Ia tidak tahu haruskah dia jujur atau malah berbohong dengan mengatakan kalau dia tidak punya kitab itu biar mereka semua selamat? Tapi, kitab itu akan kehilangan kekuatannya jika dia bohong dengan mengatakan kalau dia tidak punya.


"Kau tahu bukan? Jika kau bohong dengan mengatakan tidak punya, padahal kau memilikinya, maka, kitab kembang setanjung akan kehilangan kekuatannya," kata Yuni lagi mengingatkan Suci.


Suci melihat kearah Budi yang sedang memegang tangannya dengan erat. Sorot mata itu membuat Budi paham apa yang sedang Suci rasakan. Di satu sisi, Suci sayang dengan kitab itu, sedangkan sisi lain, keselamatan seluruh anggota keluarga Budi sedang berada pada apa yang Suci jawab.


"Aku ... tidak .... "


"Dia punya kitab itu." Budi berkata dengan cepat, memotong perkataan Suci. Suci yang mendengar hal itu kaget bukan kepalang. Sedangkan Yuni, melotot melihat Suci dan Budi.


"Kau!" Yuni berkata dengan nada tinggi dan suara berat.


"Aku akan membunuhmu!"


"Awas!" Budi mendorong Suci dengan cepat sehingga tubuh Suci terduduk jatuh kelantai. Sedangkan Budi sendiri, ia terpental keras menabrak tembok rumah. Semua itu terjadi sangat cepat sehingga tidak bisa di elak kan lagi.

__ADS_1


"Budi!"


Mama, papa, dan Suci berteriak keras memanggil nama Budi yang terjatuh kelantai setelah menabrak tembok rumah. Sedangkan Irfan, dia berusaha menyerang Yuni kini bernasib sama dengan Budi.


"Irfan!" Mama beralih dari Budi menuju Irfan yang terbaring tak jauh darinya.


"Ha ... ha ... ha ... kalian telah berani melawan aku, terima akibat dari perlawanan itu!" kata Yuni bicara sambil tertawa mengerikan.


"Yuni! Hentikan!" Budi bangun dari pangkuan Suci. Ia berusaha tetap kuat walau sebenarnya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk menggerakkan tangannya akibat benturan itu.


"Bukankah yang kau inginkan hanya aku? Mengapa kau mencari gara-gara dengan melukai keluargaku?"


"Ya, yang aku inginkan memang dirimu. Tapi, kau dan semua keluargamu telah berusaha melawan aku. Maka, aku tidak segan-segan untuk mengambil dirimu sekaligus keluargamu untuk aku jadikan budak ku."


"Ambil aku saja. Lepaskan mereka semua. Hari ini juga, aku akan pergi denganmu ke alam mu."


"Jangan Budi!" Mama dan Suci serentak mencegah perkataan Budi barusan. Mereka tak ingin Budi melakukan hal itu.


Suci memegang tangan Budi sambil menangis.


"Aku mohon, jangan lakukan hal itu. Kita punya cara lain untuk melawan se*tan lak*nak itu tanpa harus mengorbankan dirimu."

__ADS_1


__ADS_2