
"Berhati-hati?" tanya Budi bingung.
"Iya," ucap Suci sambil mengangguk.
"Berhati-hati dengan apa?"
"Dengan makhluk yang selalu mengikuti kamu ke manapun kamu pergi."
Budi kaget dengan perkataan Suci. Dia tahu kalau pacarnya bisa merasakan hal aneh yang menurut sebagian orang itu tidak nyata.
"Apa kamu tahu seperti apa mahkluk yang mengikuti aku itu?"
"Aku tidak bisa melihat, Bud. Kamu tahu itu bukan? Aku hanya bisa merasakannya saja. Jadi maaf, aku tidak tahu mahkluk itu seperti apa, tapi yang jelas, auranya negatif sekali."
"Baiklah Suci. Terima kasih banyak sudah mengingatkan aku."
Setelah berbicara seperti itu, Budi dan Suci memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi, belum beberapa langkah mereka berpisah, tubuh Suci seketika terasa panas.
"Aduh!" Suci berteriak keras karena dia tidak kuat menahan rasa panas itu lagi.
"Ada apa Chi?" tanya Budi menoleh dengan cepat.
"Ti--tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit terasa panas saja," ucap Suci sambil menahan sakit. Tubuhnya berkeringat sekarang.
"Panas? Panas kenapa?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
Tiba-tiba Yuni menampakkan dirinya pada Budi. Ia tersenyum kearah Budi. Senyum manis yang terlihat sedang kesal itu membuat suasana terasa mencekam.
"Kamu?"
"Siapa Bud?" tanya Suci disela-sela napas beratnya.
"Tidak, tidak ada siapa-siapa."
"Jangan bohong. Aku bisa merasakan aura negatif di sekita sini."
"Sudahlah, tidak perlu dibahas soal itu. Yang penting sekarang adalah, bagaimana menghilangkan rasa panas yang kamu rasakan sekarang."
"Aku bisa membantu mu," kata Yuni sambil mendekat.
"Jangan mendekat!" Budi membentak Yuni dengan keras.
__ADS_1
"Budi." Suci menatap Budi dengan penuh tanda tanya di wajahnya.
"Maaf Chi. Ada yang tidak beres di sini. Sebaiknya kita segera pergi," ucap Budi sambil memapah Suci.
"Tunggu!" Yuni menghentikan langkah Budi.
Seketika, langkah Budi terhenti membuat Suci merasa bingung.
"Ada apa, Bud? Apa dia tidak ingin kita pergi?" tanya Suci sambil terus menahan rasa panas di tubuhnya.
Budi mengangguk pelan. Ia tidak mungkin menutupi keberadaan Yuni lagi sekarang. Bagaimanapun Suci adalah bagian terpenting dalam hidupnya. Suci berhak tahu apa yang sedang terjadi.
"Apa kamu bisa melihatnya dengan jelas?" tanya Suci lagi.
"Iya."
"Seperti apa wajahnya? Laki-laki atau perempuan?"
"Dia perempuan. Cantik," ucap Budi jujur.
"Sayang sekali, aku tidak bisa melihatnya," kata Suci dengan wajah sedih.
Ada dua hal yang Suci sedih kan. Yang pertama, ia memang sedih karena dia tidak lagi bisa melihat dunia tak kasat mata. Sedangkan yang kedua, ia merasa sedih karena Budi memuji mahkluk halus itu dengan pujian, cantik.
"Tidak perlu. Lebih bagus dia tidak bisa melihat dari pada dia bisa melihat mahkluk tak kasat mata seperti kalian," kata Budi dengan nada kesal.
"Apa yang dia katakan Bud?" tanya Suci.
"Tidak ada. Lupakan saja. Ayo kita pulang sekarang."
"Budi tunggu! Kamu tidak bisa pergi sekarang. Aku bisa bantu pacarmu," ucap Yuni.
"Tidak perlu!" bentak Budi.
"Apa yang tidak perlu, Bud?" tanya Suci.
"Tidak ada."
"Jangan bohong, aku tahu kalo kami sedang bicara dengannya. Katakan saja padaku jika kamu memang peduli dengan perasaanku."
Melihat wajah Suci yang sedih, Budi tidak bisa berkutik. Ia mengatakan apa yang Yuni katakan padanya.
"Baiklah, aku ingin dia membantu aku melihat mahkluk tak kasat mata lagi."
__ADS_1
"Tapi .... " Budi kelihatan keberatan dengan keputusan Suci ini.
"Bud, jangan halangi aku. Aku tidak ingin kamu seperti bunda. Bunda tidak tahu apa yang aku rasakan saat dia menutup indra keenam yang selama ini telah menemani aku dari kecil."
"Baiklah, terserah padamu saja. Jika itu yang membuat kamu bahagia, maka lakukanlah."
Tanpa pikir panjang lagi, Suci memanggil Yuni yang sama sekali tidak bisa ia lihat di mana keberadaannya.
"Hei kamu, siapapun kamu, di manapun kamu berada, aku mohon, tolong aku, kembalikan indra keenam yang telah bunda ku tutup," kata Suci dengan keras.
"Katakan padanya, aku bisa membantu tapi dengan satu syarat," ucap Yuni pada Budi.
"Apa syaratnya?" tanya Budi.
"Katakan saja pada kekasih mu apa yang aku katakan."
"Tidak bisa!"
"Ada apa, Bud? Syarat apa? Apa yang tidak bisa?" tanya Suci bertubi-tubi.
"Ayo katakan Budi!" kata Yuni.
"Tidak!" bentak Budi.
"Bud, katakan!" Suci menatap Budi dengan tatapan kesal.
"Baiklah, aku akan katakan apa yang Yuni katakan padaku. Dia bisa membantu kamu, tapi dengan syarat."
"Syarat?"
"Iya."
"Apa syaratnya?"
"Suci." Budi keberatan dengan kesanggupan Suci.
"Tanyakan saja pada Yuni, syarat apa yang dia punya untuk aku!"
"Ba--baiklah," ucap Budi dengan nada pasrah.
"Kamu sudah dengar bukan apa yang dia katakan?" tanya Budi pada Yuni.
"Iya, aku dengar."
__ADS_1
"Lalu, mengapa tidak kamu katakan secepatnya?" tanya Budi kesal.