Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
34. Baraj


__ADS_3

Suci menyatukan darahnya dengan darah Budi. Sebuah cahaya keemasan muncul dari penyatuan darah itu. Cahaya itu menyilaukan semua mata yang berada di sana.


"Celaka!" Ki Agung berkata dengan sangat kaget.


"Ada apa guru?" tanya Sarah bingung.


"Cahaya apa itu?" Sarah bertanya lagi.


"Ini semua karena kebodohan mu Sarah. Kau benar-benar bodoh." Ki Agung begitu kesal sampai-sampai, ia rasanya ingin sekali memukul Sarah, namun ia tahan mengingat Sarah adalah muridnya.


"Apa maksud guru? Aku sangat tidak mengerti." Sarah semakin bingung dengan perkataan gurunya.


"Gadis kecil itu sedang menggabungkan darah mereka. Kau tahu apa akibat dari penggabungan darah suci ini?"


"Iy--iya guru, aku tahu." Sarah berucap dengan gelagapan.


"Itu semua karena kau bodoh dan teledor, Sarah. Jika saja kau tidak teledor, kitab kembang setanjung tidak akan jatuh ke tangan gadis kecil itu. Dan, gadis kecil itu tidak akan jadi berbahaya seperti ini."


"Aku tahu guru, aku minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat. Sekarang, katakan padaku bagaimana cara menghentikannya. Aku akan lakukan apapun cara yang guru katakan."


Ki Agung hanya diam sahaja. Tidak ada kata-kata yang ia ucapkan untuk menjawab apa yang Sarah katakan barusan. Melihat apa yang sedang terjadi, Sarah menjadi semakin cemas.


Sarah sudah tahu apa yang akan terjadi jika darah Suci dan Budi disatukan. Kedua darah suci yang disatukan dari masing-masing pemiliknya, akan menimbulkan kekuatan yang sangat dahsyat. Mahkluk halus manapun tidak akan sanggup melawan pemilik dari darah suci yang telah digabungkan. Sekalipun itu raja jin, tetap tidak sanggup melawan.


"Cepat katakan guru! Apa yang harus aku lakukan!" Sarah kembali mengulang pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban tadi.

__ADS_1


"Terlambat Sarah. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang."


"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang guru? Apakah kita hanya diam melihat di sini saja?"


"Tidak. Sebelum gadis itu selesai menyatukan darah dan mengalahkan Yuni, kita harus pergi dari sini agar tidak ikut-ikutan celaka."


"Ayo pergi!" kata Ki Agung sambil beranjak dari tempatnya.


"Mau ke mana kalian?"


Sesosok mahkluk astral yang baru menampakkan wujudnya tepat di belakang Ki Agung dan Sarah. Mahkluk itu menghentikan niat Ki Agung yang ingin mengajak sarah kabur dari rumah Budi.


"Kau!" Sarah terlihat sangat amat kaget ketika melihat mahkluk itu.


"Aku yakin, kau pasti masih ingat dengan ku, kan Sarah?" ucap mahkluk itu lagi.


Sarah menggeser kaki perlahan mendekati gurunya. "Guru, tolong aku." Sarah berucap pelan.


"Ulah apa lagi yang kau buat Sarah. Aku tidak akan ikut campur urusan kamu dengan dia. Selesaikan urusan mu sendiri, jangan libatkan aku dalam masalah mu," ucap Ki Agung kesal.


"Guru! Kau tidak bisa melakukan itu padaku. Aku ini murid mu. Bagaimanapun, kau harus membantu aku."


"Kau yang telah membuat masalah, kenapa aku harus ikut campur untuk menyelesaikannya?"


"Karena aku adalah murid mu. Semua yang aku perbuat, itu pasti atas restu dari mu."

__ADS_1


"Mulai sekarang, kau bukan murid ku lagi. Jadi, aku tidak ada urusan dengan mu," ucap Ki Agung sambil melangkah ingin pergi.


"Guru! Jangan lakukan itu padaku, guru!" Sarah berniat mengikuti gurunya pergi.


"Eitc, kalian mau ke mana? Siapa yang mengizinkan kalian meninggalkan tempat ini, hah!"


"Guru." Sarah tidak tahu lagi harus apa selain bergantung pada sang guru. Walaupun gurunya tidak menganggap dia murid lagi, tapi Sarah tetap saja menganggap Ki Agung gurunya.


"Sudah aku katakan Sarah, kau bukan murid ku lagi."


"Guru. Guru tidak bisa melakukan hal ini padaku guru. Aku masih ingin jadi murid mu guru."


"Tidak!"


"Guru, aku mohon."


"Tidak. Sekali tidak, tetap tidak."


"Guru." Sarah memelas untuk meluluhkan hati Ki Agung.


"Baraj, Sarah bukan murid ku lagi. Aku tidak ada urusan lagi di sini sekarang. Biarkan aku pergi," kata Ki Agung pada mahkluk astral yang ternyata bernama Baraj.


"Tidak Baraj. Kau tidak bisa membiarkan guru meninggalkan aku. Kau tahu, apa yang menimpa Susi itu adalah ulah guru ku. Aku hanya menjalankan apa yang guru katakan. Sedangkan guru, dialah dalang dari semua kecelakaan yang Susi alami."


"Sarah! Lancang kamu mengaitkan aku dalam masalah mu! Semua itu terjadi atas keinginan mu, bukan aku." Ki Agung marah besar karena sarah membuka datang dari kematian Susi.

__ADS_1


__ADS_2